Aplikasi Ini Tak Lama Lagi Bakal Geser WhatsApp sebagai Platform Chatting

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Sabtu, 18 Mei 2024
0 dilihat
Aplikasi Ini Tak Lama Lagi Bakal Geser WhatsApp sebagai Platform Chatting
Kepopuleran WhatsApp bakal disaingi oleh Telegram. Foto: Repro Istokckphoto

" Telegram kian diminati banyak pengguna di dunia. Bahkan aplikasi itu mengancam kepopuleran WhatsApp sebagai aplikasi chatting "

KENDARI, TELISIK.ID - Telegram kian diminati banyak pengguna di dunia. Bahkan aplikasi itu mengancam kepopuleran WhatsApp sebagai aplikasi chatting.

Aplikasi pesan singkat WhatsApp akan bersaing kuat dengan aplikasi sejenis, yang mana Telegram adalah salah satu yang diprediksi akan mencatat milestone baru dalam waktu dekat yang akan segera menghimpun 1 miliar pengguna aktif bulanan.

Sementara WhatsApp sendiri memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif bulanan tercatat hingga akhir 2023 lalu.Melansir CNBC Indonesia, Telegram memiliki 900 juta pengguna dan akan mengantongi 1 miliar pengguna aktif bulanan dalam waktu dekat.

Pendiri Pavel Durov menyebut banyaknya pengguna ini seperti kebakaran hutan. "Pengguna aktif bulanan kami akan tembus 1 miliar pada tahun ini. Telegram telah menyebar luas seperti kebakaran hutan," kata Durov.

Baca Juga: Aplikasi Ini Bisa Bobol Data Pribadi hingga Akses Rekening

Dengan capaian tersebut, Telegram masuk dalam jajaran platform terpopuler. Aplikasi pertukaran pesan itu bisa bersanding dengan Facebook, Youtube, WhatsApp, Instagram, Titok, hingga Wechat.

Jumlah pengguna Telegram memang masih tertinggal dari WhatsApp. Sebab pengguna aktif bulanannya per 2023, mencapai 2 miliar pengguna.

Sementara itu, Durov juga menyinggung sejumlah negara menekannya untuk membatasi pertukaran informasi tertentu. Namun dia menegaskan platformnya bakal tetap netral dan tidak terlibat pada konflik geopolitik.

Telegram jadi salah satu sumber informasi yang tidak menyaring konten saat perang Rusia dan Ukraina pecah tahun 2022 lalu. Meski dinilai transparan, namun juga banyak konten disinformasi yang beredar.

Sistem enkripsi Telegram, dia menjelaskan membuat pesan yang dikirimkan tetap aman. Termasuk aman dari intervensi pemerintah. "Saya lebih baik bebas ketimbang tunduk pada perintah siapa pun," ujarnya.

Pemerintah juga berusaha menjebol enkripsi Telegram. Misalnya melalui lembaga FBI yang mencoba merekrut engineer Telegram untuk membobol backdoor.

Durov juga berbicara soal perusahaan teknologi lain seperti Apple dan Alphabet. Para pesaingnya itu, dia sebut melakukan sensor pada konten pengguna.

Baca Juga: Friendster, Saingan Aplikasi Facebook Bakal Comeback

"Dua platform tersebut benar-benar bisa menyensor apa saja yang Anda baca, serta mengakses semua yang ada di smartphone Anda," kata dia.

Sementara melansir rri.co.id, Hal ini juga yang menjadi daya tarik platform tersebut untuk digunakan lebih banyak orang di seluruh dunia.

Durov pun memilih berdomisili di Dubai karena ia merasa aman menjalankan perusahaan karena menurut Durov, Uni Arab Emirat adalah negara netral yang ingin berteman dengan siapa saja dan tak berafiliasi dengan pemerintahan superpower.

Financial Times juga melaporkan, pada Maret lalu aplikasi Telegram bisa jadi akan melantai di bursa AS setelah perusahaan meraup keuntungan. Telegram juga telah masuk dalam jajaran platform internet populer, bersanding dengan Facebook, Instagram, YouTube, dan WeChat. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Fitrah Nugraha

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga