adplus-dvertising

Atlit

Indarwati Aminuddin, telisik indonesia
Selasa, 17 Maret 2020
786 dilihat
Atlit
Indarwati Aminuddin, ombudsman telisik.id. Foto: Dok

" Mereka yang jadi tim saya sebagian dulunya keluyuran berburu burung di hutan. Saya mengajak mereka bergabung, senjata dipinjamkan, peluru dibelikan, tempat latihan gratis dan ala kadarnya. Target saya, mereka bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam hidup. "

Oleh Indarwati Aminuddin

Ombudsman telisik.id

Pekan lalu saya berbincang dengan seorang atlit menembak asal Kabupaten Wakatobi. Sebutlah namanya Mr A. Ia mengatakan, group yang dilatih dan ikut dalam kompetisi menembak di Kendari berhasil mendapatkan juara 3. Ini membanggakan, wong tim-nya boleh di kata hanya berbekal komitmen, semangat juang dan rasa percaya diri.


"Mereka yang jadi tim saya sebagian dulunya keluyuran berburu burung di hutan. Saya mengajak mereka bergabung, senjata dipinjamkan, peluru dibelikan, tempat latihan gratis dan ala kadarnya. Target saya, mereka bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam hidup, " katanya.

Baca Juga : Kagilia

Group yang dibentuknya pada akhirnya memang berprestasi. Semangat juang mereka menyala nyala. Saat ikut kompetisi di Kendari, tim-nya berburu sepatu loakan yang modelnya ciamik. Baju juga loakan, biaya kapal pinjam sana sini.

Peserta lain memang lebih keren. "Wah seragam mereka keren, senjatanya keren, semua keren.. " ceritanya.

Di saat kompetisi berlangsung, tim Wakatobi ini menyewa senjata. Ada dukungan dari Pemerintah agar mereka punya senjata sendiri? Tak ada. Ada dukungan 'hore hore' pemerintah? Tak ada. Tapi syukur lah, di tengah keterbatasan, mereka toh tetap juara.

"Kami bangga.. Namun di satu sisi saya merasa sedih karena dukungan pemerintah Wakatobi sangat sedikit. Tim saya bisa jadi merasa menjadi atlit bukan hal yang menggembirakan. Tak ada masa depan sebagai atlit, " sambungnya.

Baca Juga : Mengenal Pisau Binongko

Mendengarnya berkeluh kesah mengingatkan saya pada kisah lebih banyak atlit yang nasibnya berakhir sedih. Pengurus olahraga, pemerintah, kelompok atau persatuan persatuan olahraga tampaknya punya prioritas berbeda. Mengangkat derajat dan nasib atlit bisa jadi ada di urutan paling bawah.

Atlit yang saya temani berbincang turun di Pelabuhan Wanci. Kisahnya belum tuntas. Tapi saya sendiri sudah terlanjur merasa 'sesak' dengan kisahnya. Semoga di masa mendatang pemimpin-pemimpin kita baik di Wakatobi dan Sultra bisa menjadi bagian dari solusi atlit ini. Bukan malah menjadi masalah. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga