Oleh: Efriza
Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan
PUBLIK menunggu kabar realisasi rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle kabinet. Di tengah isu reshuffle, perseteruan komunikasi terjadi antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan Partai Nasdem yang sesama partai pendukung pemerintah.
PDIP sebagai partainya Presiden Jokowi merasa Partai Nasdem sudah tidak lagi sebagai pendukung pemerintah. PDIP meradang Nasdem telah berpindah haluan sebagai oposisi. Adanya dua alasan mendasari yakni upaya Nasdem membangun koalisi dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) dengan dua partai oposisi pemerintah yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat, dan juga Nasdem telah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) yang sebelumnya adalah Gubernur DKI Jakarta dan PDIP adalah oposisi.
Kekesalan PDIP ini ditunjukkan dengan komunikasi kepada publik agar Nasdem tidak ambigu, berani bersikap gentle, untuk tidak lagi sebagai pendukung pemerintah. Menteri-menteri dari Nasdem dijadikan sasaran PDIP untuk di reshuffle.
