APBN 2026 Sudah Tekor Rp 135 Triliun, Begini Penjelasan Purbaya
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 08 Maret 2026
0 dilihat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN Februari 2026 mencapai Rp 135,7 triliun. Foto: [email protected]
" Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga Februari 2026 menunjukkan defisit setelah belanja melampaui pendapatan negara "

JAKARTA, TELISIK.ID - Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga Februari 2026 menunjukkan defisit setelah belanja melampaui pendapatan negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2026 mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun. Defisit tersebut setara dengan 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menyampaikan bahwa kondisi defisit muncul karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara yang berhasil dihimpun pada dua bulan pertama tahun anggaran.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan pendapatan negara hingga 28 Februari 2026 mencapai Rp 358 triliun. Sementara itu, realisasi belanja negara pada periode yang sama tercatat sebesar Rp 493,8 triliun. Selisih antara pendapatan dan pengeluaran tersebut kemudian membentuk defisit anggaran sebesar Rp135,7 triliun.
Baca Juga: Status TNI Siaga Satu dari Konflik Iran dan Amerika-Israel, Berikut Penjelasan 7 Isi Telegram Panglima
Purbaya menyebut penerimaan negara pada awal tahun menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, khususnya dari sektor perpajakan. Ia mengatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan tersebut agar tetap stabil sepanjang tahun anggaran berjalan.
"Pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30%. Kita akan pastikan itu akan stabil terus ke depan," terang Purbaya dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari Detik, Minggu (8/3/2026).
Pendapatan negara sebesar Rp358 triliun tersebut berasal dari beberapa sumber penerimaan utama. Komponen terbesar berasal dari penerimaan pajak yang mencapai Rp245,1 triliun. Selain itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp44,9 triliun.
Sumber penerimaan lainnya berasal dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mencapai Rp68 triliun. Penerimaan tersebut berasal dari berbagai sektor, termasuk pengelolaan sumber daya alam, layanan pemerintah, serta pendapatan lain yang tercatat dalam struktur keuangan negara.
Baca Juga: Iran dan Amerika Saling Klaim Rudal Balistiknya Gunakan AI untuk Target Presisi
Di sisi pengeluaran, belanja negara hingga Februari 2026 mencapai Rp493,8 triliun. Belanja tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun serta transfer ke daerah yang mencapai Rp147,7 triliun.
Belanja pemerintah pusat mencakup berbagai program kementerian dan lembaga, termasuk pembiayaan program pembangunan serta belanja operasional pemerintah. Sementara transfer ke daerah merupakan bagian dari kebijakan fiskal untuk mendukung pelaksanaan program pembangunan di tingkat pemerintah daerah.
Purbaya menambahkan pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui pengelolaan fiskal yang terukur. Ia menegaskan bahwa berbagai faktor pendukung pertumbuhan ekonomi akan terus dijaga agar aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS