Manto, Pedagang Roti Keliling di Kendari: 8 Tahun Berjalan Kaki Sambil Pikul 2 Etalase Kaca

Gede Suyana Sriski, telisik indonesia
Kamis, 04 Desember 2025
0 dilihat
Manto, Pedagang Roti Keliling di Kendari: 8 Tahun Berjalan Kaki Sambil Pikul 2 Etalase Kaca
Manto, setiap hari berkeliling berjualan roti sambil berjalan kaki dengan pikulan di bahunya, foto: Gede Suyana Sriski/telisik

" Zaman kini semakin modern dan tak bisa dielakan. Semua dapat dilakukan secara mudah dan cepat karena ditunjang teknologi dan moda transportasi yang memadai "

KENDARI, TELISIK.ID - Zaman kini semakin modern dan tak bisa dielakan. Semua dapat dilakukan secara mudah dan cepat karena ditunjang teknologi dan moda transportasi yang memadai.  

Namun, bagi Manto, pria asal Kendari yang telah menekuni pekerjaan sebagai penjual roti keliling sejak tahun 2017, berjualan tanpa menggunakan moda transportasi adalah hal yang biasa. Ia mendagangkan rotinya dengan berjalan kaki.  

Saban hari, selama delapan tahun menahan beban pikulan dua etalase kaca di bahunya, Manto berkeliling dari satu kawasan ke kawasan lain sambil menawarkan roti aneka rasa yang menggugah selera.

Setiap hari, selepas salat Subuh, Manto mulai berkeliling membawa roti yang diambil dari bosnya. Sistem penjualan yang ia jalankan cukup unik.  

Baca Juga: Kisah Penjual Bakso Bakar Perantau dari Makassar yang Cari Rezeki di Kota Kendari

Ia mengambil roti terlebih dahulu untuk dijual, lalu membayarnya kepada bos dengan jumlah yang tetap, berapa pun roti yang berhasil terjual.  

Sistem tersebut sudah biasa dijalani selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari rutinitas harian yang ia tekuni dengan sabar.

Roti yang dijual Manto dibanderol seharga Rp 3.000 per potong atau dua potong seharga Rp 5.000. Varian rasanya pun beragam, mulai dari kacang hijau, coklat kacang, keju, kelapa, hingga coklat.  

Menurutnya, terkadang seluruh roti dapat habis terjual dalam satu kali perjalanan, namun ada kalanya baru habis setelah dua kali keliling.

"Setiap hari hasil yang saya dapatkan tidak menentu, kisaran di angka Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu, itu sudah pendapatan bersih saya. Yang penting tetap berusaha. Walaupun hasilnya kecil, alhamdulillah cukup buat kebutuhan sehari-hari,” ujar Manto, Rabu (3/12/2025).

Terkadang juga Jika roti yang dijualnya tidak habis, ia lebih memilih memberikannya kepada teman, bukan menjual ulang atau membuangnya. Ia meyakini bahwa menjual kembali roti sisa hanya akan mengurangi kepercayaan pembeli dan merugikan usaha sendiri.

Bagi Manto, berdagang bukan hanya pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Ia mengatakan bahwa latar belakang keluarganya yang juga pedagang membuatnya terbiasa dan menyukai dunia jualan sejak lama.  

Ia merasa cara menjual dengan dipikul lebih praktis dibandingkan menggunakan gerobak ataupun sepeda motor, sebab dengan cara itu ia dapat menjangkau jalan-jalan kecil dan lorong sempit yang tidak bisa dilalui gerobak atau sepeda motor.  

Baca Juga: Indah, Puluhan Tahun Gantungkan Hidup dengan Berjualan RB

Meski kehidupannya sederhana, Manto adalah potret ketekunan dan kejujuran seorang pria yang gigih. Setiap langkahnya menyusuri lorong-lorong kota membawa pesan tentang kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan.  

Kini, Manto menjalani hidupnya tinggal bersama istri dan anak semata wayangnya di sebuah rumah sederhana di Jalan Banteng, Anduonohu. Meski hidup sederhana, ia tetap merasa bersyukur karena masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Roti dagangan Manto disukai oleh banyak pelanggannya karena tekstur yang lembut dan banyak variasi isinya. Salah seorang pelanggan setia, Abdul, mengaku membeli roti Manto setiap pagi sebagai cemilan di rumah.  

"Saya biasa membeli jualannya pagi hari untuk bekal anak sekolah dan juga untuk saya ke kantor. Rasanya enak, teksturnya yang lembut, apalagi rotinya masih hangat kalau pagi hari. Harganya juga murah meriah,” tutur Abdul. (B)

Penulis: Gede Suyana Sriski

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga