adplus-dvertising

Hati-hati Istidraj, Azab Allah dalam Bentuk Kenikmatan Dunia

Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Kamis, 15 September 2022
685 dilihat
Hati-hati Istidraj, Azab Allah dalam Bentuk Kenikmatan Dunia
Apabila seseorang semakin jauh dan lalai dalam ibadah saat mendapat kenikmatan dunia, bisa jadi itu merupakan istidraj. Foto: Repro rumahperubahan.co.id

" Kenikmatan dunia tidak selamanya berupa kebaikan, namun juga seringkali sebagai bentuk azab yang diberikan oleh Allah SWT. Hal inilah yang disebut istidraj "

JAKARTA, TELISIK.ID - Kenikmatan dunia tidak selamanya berupa kebaikan, namun juga seringkali sebagai bentuk azab yang diberikan oleh Allah SWT. Hal inilah yang disebut istidraj.

Dikutip kumparan.com, Istidraj terjadi pada orang yang lalai beribadah dan durhaka kepada Allah. Secara bahasa istidraj diambil dari kata daraja yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya.

Sementara secara istilah, istidraj dari Allah kepada hamba-Nya diartikan sebagai hukuman yang diberikan sedikit demi sedikit.


Melansir detik.com, Allah SWT melimpahkan rezeki, kebahagiaan, dan kenikmatan dunia lainnya kepada setiap orang yang Dia kehendaki. Kenikmatan tersebut bisa menjadi peringatan akan azab Allah apabila diberikan kepada orang yang sering melalaikan ibadah dan merasa tenang dalam maksiatnya.

Peringatan istidraj termaktub dalam QS. Al An'am ayat 44 yang artinya, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An'am: 44)

Baca Juga: 3 Golongan Manusia Paling Buruk Kedudukannya di Hari Kiamat

Dalam tafsir Al Ahzar jilid 3, istidraj menurut ayat di atas artinya dikeluarkan dari garis lurus kebenaran tanpa disadari. Allah SWT memperlakukan apa yang dia kehendaki, dibukakan segala pintu, hingga orang tersebut lupa diri.

Dalam Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali, istidraj artinya pembiaran. Yaitu pembiaran karena tidak mau berhenti melakukan hal-hal yang memalukan (maksiat). Istidraj merupakan peringatan keras dari Allah SWT.

Malik Al-Mughis dalam bukunya yang berjudul Demi Masa menjelaskan, istidraj adalah pemberian kesenangan untuk orang-orang yang dimurkai Allah agar mereka terus menerus lalai. Hingga pada suatu ketika semua kesenangan itu dicabut oleh Allah, mereka akan termangu dalam penyesalan yang terlambat.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-Qalam ayat 44 yang artinya, "Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui," (QS. al-Qalam: 44).

Olehnya itu, bagi oang mukmin, dia akan merasa takut dengan istidraj, yakni kenikmatan semu yang sejatinya murka Allah SWT. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman akan beranggapan bahwa kesenangan yang mereka peroleh merupakan sesuatu yang layak didapatkan.

Baca Juga: Setelah Jadi Mualaf, Penghasilan Sedikit Terasa Nikmat jika Disyukuri

Biasanya, istidraj diberikan kepada orang-orang yang mati hatinya. Mereka adalah orang yang tidak merasa bersedih atas ketaatan yang ditinggalkan dan tidak menyesal atas kemaksiatan yang terus dilakukan.

Cara termudah untuk membedakan kesenangan yang datangnya dari kemurahan Allah dengan istidraj adalah ketakwaan. Jika orang tersebut semakin taat dalam beribadah, bisa jadi nikmat yang diterima adalah kemurahan Allah. Begitupun sebaliknya, apabila orang tersebut semakin jauh dan lalai dalam ibadah bisa jadi itu merupakan istidraj.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad yang berasal dari sahabat Rasulullah SAW, 'Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW bersabda: "Apabila engkau lihat Allah memberikan sebagian keduniaan kepada hamba-Nya, apa saja yang diingininya dengan serba-serbi kemaksiatannya maka pemberian yang demikian adalah istidraj." (HR. Ahmad)

Sebagai Muslim, kita harus berhati-hati dengan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Untuk itu, kita diperintahkan untuk menafkahkan sebagian harta yang kita peroleh kepada orang yang membutuhkan. (C)

Penulis: Fitrah Nugraha

Editor: Kardin

Artikel Terkait
Baca Juga