Hormuz Tutup, Indonesia Keok? Ubah Ancaman Perang Timur Tengah Jadi Peluang

Sitti Lestary Rahmat Gombilo Bitu, telisik indonesia
Sabtu, 11 April 2026
0 dilihat
Hormuz Tutup, Indonesia Keok? Ubah Ancaman Perang Timur Tengah Jadi Peluang
Sitti Lestary Rahmat Gombilo Bitu, Mahasiswa Ilmu Pertanian UHO Kendari. Foto: Ist.

" Harga bensin naik tajam, ongkos kirim barang melambung, harga beras, minyak goreng, sama obat langsung ikut naik "

Oleh: Sitti Lestary Rahmat Gombilo Bitu

Mahasiswa Ilmu Pertanian UHO Kendari

BAYANGKAN truk di pelabuhan Tanjung Priok berhenti total. Bukan mogok, tapi kapal besarnya nggak bisa angkut barang. Sejak akhir Februari 2026, perang panas Iran lawan AS-Israel tutup Selat Hormuz, jalur utama 20% minyak dunia.

Indonesia langsung kena dampak: kita beli 50% minyak dari luar negeri lewat situ. Harga bensin naik tajam, ongkos kirim barang melambung, harga beras, minyak goreng, sama obat langsung ikut naik. Pabrik nikel di Sulawesi? Produksi anjlok 15-20% gara-gara solar mahal. (kontan.co.id, 2026)

Bukan cuma energi. Barang kita yang biasa dikirim ke Timur Tengah—pisang dari Jawa Timur, mobil dari Karawang, minyak goreng dari Medan—macet di pelabuhan. Kapal dagang ogah lewat, asuransi kapal naik 3 kali lipat. Target ekspor 2026 yang Rp.315 (Jakarta Globe 2025) miliar sekarang goyah. Rupiah jatuh di harga  Rp 17.130 per dolar. Pabrik kecil tutup, petani sawit protes pupuk mahal.

Kenapa Indonesia Terdampak?

Kita negara laut terbesar dunia (laut kita 5,8 juta km persegi luasnya), tapi masih ikut-ikutan jalur dagang dunia. Wawasan kemaritiman kita bagus di buku pelajaran—bicara politik, hukum laut, keamanan, ekonomi laut—tapi nyatanya lambat. Natuna masih ribut sama China di Laut China Selatan. (Dashline.com; 2 Maret 2026)

Sekarang Hormuz. 60% jalur distribusi makanan dan energi kita datang lewat laut, kapal perang kita cuma kurang lebih 234 unit, 80?li dari luar. Pencuri ikan curi Rp300 triliun setahun (Kompas,2014), perompak di Selat Malaka tambah 75% karena kapal cari jalan lain (ReCAAP,22026).

Pemerintah Sudah Bergerak, Tapi Perlu Lebih Keras

Syukur, pemerintah cepet tanggap. Lembaga Pembiayaan ekspor Indonesia (LPEI) memberikan subsidi pengiriman barang Rp 5 triliun. Kapal lewat Tanjung Priok dan Cilacap. Kementerian Perdagangan minta mencari pembeli baru di ASEAN, India, Afrika—daerah aman dari perang. Badan Pusat Statistik melakukan pengecekan harga setiap hari, agar uang negara terjaga aman.

Untungnya sementara: harga batubara dan nikel kita naik 25%, dagang energi malah laku keras. Tapi bahayanya besar—inflasi bisa 7%, harga makanan nggak terkendali, demo buruh bisa meledak lagi kayak 2023. (youtubeidntimes)

Baca Juga: Antara Notifikasi dan Keabadian: Krisis Makna Manusia Modern

Ini Bukan Bencana, Tapi Kesempatan!

Perang ini jadi cambuk buat kita untuk menjadi negara maritim yang hebat. Kita jangan cuma menjadi korban yang hanya bisa mengeluh tetapi harus ambil peran besar! Hal yang bisa kita lakukan:  

Pertama, kita harus mampu hemat energi sendiri: percepat pembangkit listrik tenaga matahari di Cirata dan panas bumi Kamojang. Wujudkan target 30% listrik Indonesia dari sumber energi tersebut. Kita bisa membuat  kapal bertenaga listrik di galangan kapal PT PAL Surabaya sehingga bisa mengirit irit BBM sampai dengan 40%, sehingga bisa mengurangi anggaran pembelian BBM sampai 25%. (swa.co.id.3033)

Kedua, kita bisa memakai alat canggih memanfaatkan teknologi untuk mengamankan wilayah laut: pasang drone dan radar jauh di Natuna, Sabang, Merauke. Menggunakan Teknologi Ai untuk mengawasi kapal pencuri ikan, menggunakan satelit memantau  laut selama 24 jam.  

Ketiga, keberhasilan diplomasi dengan negar Iran sehingga kapal Indonesia aman melewati selat Hormuz. Selanjutnya mendesak ASEAN agar cepet menyelesaikan aturan Code of Conduct (COC) Laut China Selatan tahun 2026, serta kerjasama patroli dengan Australia dan Jepang, dimaksudkan perkuat posisi Indonesia hadapi ekspansi China tanpa konfrontasi langsung.

Keempat, kembangkan ekonomi laut kita sendiri: kita dapat olah ikan tuna di Bitung jadi makanan mahal buat Jepang, rumput laut Lombok jadi plastik ramah lingkungan. Jalan laut Tol Laut hubungkan 1.500 pelabuhan kecil, menciptakan 2 juta lapangan kerjaan baru.  

Kelima, mengusulkan peningkatan anggaran pertahanan Indonesia dari 0,9% menjadi 1,5 persen dari total APBN, setara Rp450 triliun, dengan 40% dialokasikan untuk produksi kapal dan senjata dalam negeri guna memperkuat industri pertahanan mandiri. (penamerdeka.com)

Baca Juga: Urgensi Menegakkan Supremasi Sipil

Apa yang bisa negara kita lakukan dalam waktu dekat ini? 1. Pembangunan kapal patroli. Kita dapat memproduksi 10 kapal patroli cepat (Fast Patrol Boat) di PT PAL Surabaya akan tingkatkan kemampuan pengawasan wilayah laut Natuna hingga Papua, sejalan dengan pengalaman PAL membangun kapal patroli 60-150 meter untuk TNI AL.

2. Bantuan BBM untuk UKM. Alokasi Rp10 triliun subsidi bensin murah khusus pabrik kecil (UKM) akan tekan biaya produksi, dorong daya saing sektor manufaktur dan kurangi beban logistik di tengah fluktuasi harga minyak global.

3. Latihan bersama internasional. Simulasi perang laut (joint exercise) dengan AS dan Australia di Selat Malaka perkuat interoperabilitas TNI AL, tingkatkan deterrence terhadap ancaman asimetris, dan jaga stabilitas jalur perdagangan vital 40% dunia.

4. Pabrik baterai nikel Morowali. Pembangunan fasilitas hilirisasi nikel jadi baterai EV di Morowali (Sulawesi Tengah) manfaatkan cadangan nikel RI 21% dunia, mampu menciptakan 10.000 lapangan kerja, dan posisikan Indonesia sebagai pemasok baterai global.

5. Semua kapal kita wajib pakai aplikasi pantau posisi. Semua kapal Indonesia wajib integrasi aplikasi VMS (Vessel Monitoring System) berbasis AI untuk pantau posisi real-time, cegah IUU fishing, dan dukung pengawasan maritim terintegrasi nasional.

Penutupan Selat Hormuz (akibat konflik Timur Tengah) justru jadi peluang transformasi bagi Indonesia, dengan strategi maritim holistik yang mengubah ancaman jadi kekuatan nasional. Strategi diplomasi Indonesia bisa membalik ancaman jadi kekuatan. Kita mampu menunjukkan bahwa kita Adalah negara kepulauan paling kuat. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga