Antara Notifikasi dan Keabadian: Krisis Makna Manusia Modern

Muh. Ikhsan, telisik indonesia
Sabtu, 04 April 2026
0 dilihat
Antara Notifikasi dan Keabadian: Krisis Makna Manusia Modern
Dr. H. Muh. Ikhsan AR, M.Ag, Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI. Foto: Ist.

" Manusia hari ini hidup dalam kelimpahan informasi, tetapi kekurangan kedalaman makna "

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR, M.Ag

Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI

ADA bunyi kecil yang kini lebih sering kita dengar daripada suara hati: "notifikasi". Ia datang tanpa jeda mengabarkan pesan, komentar, angka, dan pengakuan. Sekilas tampak sepele, namun diam-diam ia telah menjadi “ritme baru” kehidupan manusia modern. Kita terbangun olehnya, bergerak bersamanya, dan sering kali menutup hari dengan sisa-sisa kegelisahan yang ia tinggalkan.

Di balik semua itu, ada pertanyaan besar yang jarang kita ajukan: apakah kita masih hidup dengan makna, atau sekadar merespons rangkaian notifikasi tanpa arah?

Manusia hari ini hidup dalam kelimpahan informasi, tetapi kekurangan kedalaman makna. Ia tahu banyak hal, namun tidak selalu tahu untuk apa ia hidup. Ia terhubung dengan banyak orang, tetapi sering merasa asing dengan dirinya sendiri. Dunia digital telah memberi kita kecepatan, tetapi sekaligus mencuri "keheningan" ruang di mana makna biasanya lahir.

Notifikasi menciptakan ilusi urgensi. Segala sesuatu terasa penting, harus segera direspons, harus segera diketahui. Namun dalam arus itu, manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang mendesak dan yang esensial. Ia sibuk menjawab dunia, tetapi lupa menjawab pertanyaan paling mendasar: siapa aku, dan ke mana aku menuju?

Baca Juga:  Urgensi Menegakkan Supremasi Sipil

Di sinilah krisis itu bermula "krisis makna". Bukan karena dunia kekurangan tujuan, tetapi karena manusia kehilangan orientasi. Ia terlalu fokus pada apa yang tampak, hingga melupakan apa yang hakiki. Ia mengejar pengakuan yang cepat datang dan cepat pergi, tetapi mengabaikan nilai-nilai yang diam namun abadi.

Ironisnya, semakin sering manusia “terlihat” di dunia digital, semakin ia berisiko “menghilang” secara eksistensial. Ia hadir dalam layar, tetapi absen dalam kesadaran. Ia aktif secara sosial, tetapi pasif secara spiritual. Ia terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju.

Padahal, hidup bukan sekadar rangkaian respons terhadap stimulus luar. Ia adalah perjalanan menuju makna yang lebih dalam menuju sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, tidak bisa divalidasi dengan “likes”, dan tidak bisa dipercepat oleh algoritma. Dalam bahasa spiritual, itulah yang disebut "keabadian".

Keabadian bukan hanya tentang akhirat sebagai tujuan teologis, tetapi juga tentang kesadaran bahwa hidup memiliki dimensi yang melampaui yang sementara. Bahwa tidak semua yang kita lakukan hari ini akan bertahan, tetapi ada sesuatu yang akan tetap tinggal: nilai, amal, dan jejak makna.

Baca Juga: Menjahit Ukhuwah di Kain Perbedaan

Maka problem utama manusia modern bukanlah teknologi, tetapi "ketidaksiapan batin dalam menghadapinya". Kita menggunakan perangkat yang canggih, tetapi dengan kesadaran yang rapuh. Kita menguasai dunia luar, tetapi belum tentu mengenal dunia dalam.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menjauhi teknologi, melainkan untuk "menjinakkannya". Agar notifikasi tidak menguasai perhatian kita, dan dunia digital tidak mengaburkan arah hidup kita. Kita tetap bisa hadir di dunia modern, tanpa kehilangan akar spiritual kita.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita merespons dunia, tetapi seberapa dalam kita memahami makna keberadaan kita. Di antara ribuan notifikasi yang memanggil setiap hari, ada satu panggilan yang sering terlewat: panggilan untuk kembali pada diri sendiri dan pada Yang Maha Abadi. Dan mungkin, krisis makna manusia modern bukan karena terlalu banyak suara, tetapi karena terlalu lama "mengabaikan yang paling sunyi". (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga