adplus-dvertising

Ini Faktor Korban Kekerasan Seksual Tak Mau Angkat Bicara

Apriliana Suriyanti, telisik indonesia
Rabu, 22 Desember 2021
579 dilihat
Ini Faktor Korban Kekerasan Seksual Tak Mau Angkat Bicara
Ilustrasi korban enggan angkat bicara soal peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Foto: Repro Detik.com

" Kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak bagai fenomena gunung es "

KENDARI, TELISIK.ID - Kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak di Indonesia makin terkuak. Namun bagai fenomena gunung es, nyatanya banyak korban yang masih enggan untuk melapor.

Untuk Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Sultra per tahun 2021, terdapat 210 kasus kekerasan yang terdata, dengan rincian kasus kekerasan seksual yang terlapor sebanyak 130.

Kepala Bidang Data Informasi dan Partisipasi Masyarakat DPPPA Sultra, Murdiana Hasan menuturkan, kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak bagai fenomena gunung es.


“Permasalahan yang terjadi sesungguhnya lebih pelik dibanding yang nampak di permukaan, dari segi jumlah yang terdata kelihatannya sedikit, tapi ternyata yang sebenarnya terjadi di masyarakat lebih dari itu,” tuturnya saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu (22/12/2021).

Ia menilai, pelaku kasus kekerasan justru sangat dekat dan dikenal oleh korban, sehingga kejadian memilukan ini sering kali membuat para korban terpaksa tutup mulut.

Sementara itu, akademisi bidang Psikologi, Ros Mayasari mengungkapkan, terdapat faktor yang mempengaruhi korban kekerasan seksual hingga enggan untuk melapor.

"Yang pertama, si korban malu dan takut," katanya saat menjadi pembicara di sebuah kegiatan bertemakan keperempuanan.

Menurut Ros, malu dan takut atas apa yang menimpa si korban menjadi alasan utama mengapa ia tak melapor. Hal ini dikarenakan adanya persepsi masyarakat yang biasanya langsung menyalahkan korban.

"Kenapa malu padahal dia adalah korban? Karena perempuan diajar soal menjaga keperawanan, menjaga kesuciannya, sehingga ia akan sangat terpukul jika sudah diapa-apakan sama laki-laki," imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan kerap kali terjadi pada sepasang kekasih ataupun pasangan suami istri.

"Sering kali perempuan yang mengalami kekerasan baik seksual, fisik, ataupun verbal tidak melapor karena takut untuk ditinggalkan pasangannya," ucapnya.

Hal ini dikarenakan adanya pola asuh orang tua yang salah dalam mengajarkan konsep patuh pada anak perempuan.

Baca Juga: Cegah Kekerasan Seksual, Pendidikan Seks pada Anak Harus Diajarkan Sejak Dini

"Itu bisa terjadi karena perempuan sejak awal dalam pengasuhan di rumah, diajar untuk patuh saja, namun pengajaran yang keliru soal konsep patuh membuat perempuan tidak berani bersuara," jelasnya.

Ros Mayasari berharap, generasi muda hari ini harus menjadi agen perubahan untuk memutus mata rantai kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak

Selain itu, ia juga mengajak untuk membantu pemulihan para penyintas.

Baca Juga: Waspada, Penularan HIV/AIDS Melalui 4 Cara Ini

"Butuh waktu yang lama bagi penyintas untuk bangkit dari keterpurukannya, butuh dukungan dari keluarganya, teman-temannya, termasuk tenaga ahli psikolog untuk membantunya pulih," pungkasnya. (B)

Reporter: Apriliana Suriyanti

Editor: Fitrah Nugraha

Baca Juga