Iran Beri Kode Merah Negara Gabung dalam Perang Ekonomi AS Otomatis jadi Musuh
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 23 Agustus 2026
0 dilihat
Bagian dalam prosesi penghormatan kepada mendiang pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Teheran, Iran, pada 6 Juli 2026. Foto: Xinhua/Kantor Berita Mehr
" Iran memperingatkan negara yang ikut dalam perang ekonomi Amerika Serikat akan dianggap sebagai musuh, termasuk terkait blokade Selat Hormuz "

TEHERAN, TELISIK.ID - Iran memperingatkan negara yang ikut dalam perang ekonomi Amerika Serikat akan dianggap sebagai musuh, termasuk terkait blokade Selat Hormuz.
Pejabat keamanan tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyampaikan peringatan tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB TV.
Rezaei yang menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan Teheran akan terlebih dahulu melakukan negosiasi dengan negara-negara yang berencana ikut dalam tekanan ekonomi Amerika Serikat.
Namun, ia memperingatkan bahwa sikap Iran dapat berubah apabila negara-negara tersebut menolak permintaan Teheran untuk tidak ikut campur dalam konflik ekonomi tersebut.
Iran Peringatkan Negara yang Ikut Tekanan Ekonomi AS
Rezaei mengatakan Iran akan meminta negara-negara yang bergabung dalam perang ekonomi Amerika Serikat untuk tidak ikut campur.
Menurut dia, apabila permintaan tersebut ditolak, Iran akan mengambil tindakan terhadap kepentingan negara yang terlibat.
Baca Juga: Massa Es Antarktika Bertambah 695 Miliar Ton dan Tak Menyusut, Ini Penyebabnya
“Kami akan terlebih dahulu bernegosiasi dengan negara-negara tersebut dan meminta mereka untuk tidak ikut campur dalam konflik ini,” ujar Rezaei dalam wawancara dengan IRIB TV, dikutip Minggu (23/8/2026).
Ia kemudian memperingatkan bahwa penolakan terhadap permintaan tersebut dapat membuat kepentingan negara-negara terkait menjadi sasaran Iran.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan ekonomi antara Iran dan Amerika Serikat. Washington sebelumnya menyatakan akan memberikan tekanan ekonomi yang lebih besar terhadap Teheran.
Iran Soroti Selat Hormuz
Dalam pernyataannya, Rezaei juga menyoroti kemungkinan negara-negara sekitar Iran bergabung dalam blokade yang dipimpin Amerika Serikat.
Ia mengatakan Iran tidak akan membiarkan minyak diekspor melalui Selat Hormuz apabila negara-negara sekitar memilih bergabung dalam blokade tersebut.
“Jika negara-negara sekitar memilih untuk bergabung dalam blokade AS, Iran tidak akan membiarkan setetes minyak pun diekspor dari Selat Hormuz,” tegasnya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi internasional. Pernyataan Rezaei menunjukkan bahwa jalur tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam respons Iran terhadap tekanan ekonomi Amerika Serikat.
Iran sebelumnya juga menyatakan memiliki pengalaman menghadapi berbagai sanksi yang diberlakukan Washington.
Iran Klaim Mampu Hadapi Sanksi AS
Rezaei mengatakan Iran telah mempelajari berbagai cara untuk menghindari dampak sanksi Amerika Serikat. Menurutnya, Teheran telah mampu mempertahankan aktivitas penjualan minyak selama bertahun-tahun meskipun menghadapi tekanan ekonomi.
“Selama bertahun-tahun, Iran telah mempelajari cara untuk menyiasati sanksi-sanksi AS dan terus melanjutkan penjualan minyak,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Washington sebelumnya mengumumkan rencana untuk menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih keras terhadap Teheran.
Selat Hormuz Disebut Tetap Ditutup
Rezaei juga menegaskan kembali posisi Iran mengenai Selat Hormuz. Menurut dia, jalur tersebut akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman perdamaian Iran-Amerika Serikat yang ditandatangani pada Juni 2026.
Ia mengatakan Washington harus mengambil langkah terlebih dahulu untuk memenuhi komitmen tersebut.
“Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali jika AS memenuhi komitmennya,” kata Rezaei.
Pernyataan itu menjadi bagian dari sikap Iran dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat. Teheran menempatkan pemenuhan komitmen Washington sebagai syarat sebelum membuka kembali jalur tersebut.
Baca Juga: PSK Cantik Buka-bukaan Beber Penghasilan, Ngaku Layani Selusin Pria Sehari Asal Dapat Bayaran Sepadan
Trump Sebut Operasi Ekonomi terhadap Iran
Tekanan ekonomi terhadap Iran juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Trump mengatakan Amerika Serikat akan melancarkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan” terhadap Iran.
Trump juga menggambarkan kebijakan tersebut sebagai “perang dan isolasi ekonomi” terhadap Teheran.
Pernyataan Trump dan respons Rezaei menunjukkan adanya perbedaan sikap antara Washington dan Teheran terkait tekanan ekonomi serta hubungan kedua negara.
Di tengah situasi tersebut, Iran kembali memperingatkan negara-negara lain agar tidak ikut dalam tekanan ekonomi Amerika Serikat. Teheran juga menegaskan posisi terhadap Selat Hormuz dan menyatakan akan merespons negara yang dianggap terlibat dalam blokade.
Perkembangan selanjutnya bergantung pada langkah Amerika Serikat serta negara-negara yang berpotensi terlibat dalam tekanan ekonomi terhadap Iran. (Xinhua)
Penulis: Ahmad Jaelani
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS