Massa Es Antarktika Bertambah 695 Miliar Ton dan Tak Menyusut, Ini Penyebabnya
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 23 Agustus 2026
0 dilihat
Es Antarktika sempat tak jadi menyusut, malah bertambah 695 miliar ton akibat pemanasan laut tropis. Foto: Yoshihiro Nakayama/Xinhua
" Studi terbaru mengungkap pemanasan multitahun di kolam hangat tropis memicu hujan salju lebat yang menambah massa es Antarktika "

QINGDAO, TELISIK.ID - Studi terbaru mengungkap pemanasan multitahun di kolam hangat tropis memicu hujan salju lebat yang menambah massa es Antarktika.
Penelitian yang melibatkan peneliti dari China, Amerika Serikat, Jepang, Belgia, dan Hongaria menemukan adanya pembalikan sementara tren penyusutan massa lapisan es Antarktika pada Juli 2021 hingga April 2023.
Data satelit yang memantau perubahan gravitasi Bumi menunjukkan lapisan es Antarktika mengalami penambahan massa sekitar 695 miliar ton selama periode tersebut. Angka itu menjadi penambahan massa terbesar sejak pencatatan satelit dimulai pada 2003.
Studi yang diterbitkan secara daring di jurnal Nature pada Rabu, 19 Agustus 2026, menyebut fenomena tersebut sempat menghentikan sementara tren penyusutan massa es yang berlangsung dalam jangka panjang.
Massa Es Antarktika Bertambah 695 Miliar Ton
Para peneliti menemukan penambahan massa es tersebut terutama berkaitan dengan hujan salju lebat yang berlangsung terus-menerus di sejumlah wilayah Antarktika Timur.
Sekitar 68 persen peningkatan massa es terkonsentrasi di kawasan Queen Mary Land-Wilkes Land. Kondisi tersebut menjadi penyebab langsung bertambahnya massa lapisan es selama periode penelitian.
Baca Juga: PSK Cantik Buka-bukaan Beber Penghasilan, Ngaku Layani Selusin Pria Sehari Asal Dapat Bayaran Sepadan
Namun, sumber pemicu iklimnya berada ribuan kilometer dari Antarktika. Peneliti mengaitkan fenomena tersebut dengan pemanasan yang berlangsung selama beberapa tahun di wilayah tropical warm pool.
Tropical warm pool merupakan kawasan perairan yang membentang di Samudra Pasifik bagian barat dan Samudra Hindia bagian timur. Wilayah tersebut termasuk kawasan dengan suhu permukaan laut yang tinggi.
Pemanasan Tropis Pengaruhi Antarktika
Penelitian menunjukkan pemanasan di tropical warm pool pada 2021 hingga 2023 memicu gelombang atmosfer berskala besar. Gelombang tersebut kemudian bergerak hingga ribuan kilometer menuju Antarktika.
Pergerakan gelombang atmosfer itu mengubah pola angin di wilayah tersebut. Kondisi tersebut kemudian mengarahkan udara lembap dari lintang menengah Samudra Hindia menuju Queen Mary Land-Wilkes Land.
Akibatnya, wilayah tersebut mengalami hujan salju lebat secara terus-menerus. Salju yang terakumulasi kemudian meningkatkan massa lapisan es Antarktika dalam periode dua tahun tersebut.
Wang Yunhe, penulis utama studi sekaligus peneliti di Institut Oseanologi, Akademi Ilmu Pengetahuan China, mengatakan fenomena itu sebelumnya belum dapat dijelaskan secara pasti.
“Hilangnya massa lapisan es Antarktika menjadi penyumbang utama kenaikan permukaan laut global dalam beberapa dekade terakhir,” ujar Wang, seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (23/8/2026).
Menurut Wang, kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir rob dan memperparah kerusakan akibat gelombang badai bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.
Penyusutan Es Antarktika Belum Berbalik
Meskipun terjadi penambahan massa sebesar 695 miliar ton, para peneliti menegaskan fenomena tersebut bukan berarti tren penyusutan massa es Antarktika telah berbalik secara permanen.
Data menunjukkan penyusutan rata-rata mencapai sekitar 140,5 miliar ton per tahun sepanjang 2003 hingga 2024. Penambahan massa pada 2021 hingga 2023 hanya menunjukkan adanya perlambatan sementara.
“Namun, perlambatan sementara ini tidak membalikkan tren penyusutan jangka panjang pada massa lapisan es Antarktika, dan Antarktika Barat tetap menjadi wilayah utama yang terus mengalami penyusutan massa,” kata Wang.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari temuan penelitian karena perubahan massa es Antarktika tidak berlangsung secara seragam di seluruh wilayah.
Antarktika Timur mengalami peningkatan massa yang cukup besar akibat akumulasi salju, sedangkan Antarktika Barat masih menjadi wilayah yang mengalami penyusutan massa.
Fenomena Es Berkaitan dengan Kenaikan Permukaan Laut
Perubahan massa lapisan es Antarktika menjadi perhatian karena kehilangan massa es dapat berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global.
Wang mengatakan pemahaman mengenai perubahan massa es dibutuhkan untuk membantu ilmuwan menghasilkan proyeksi kenaikan permukaan laut yang lebih baik.
“Memahami bagaimana massa es Antarktika berubah membantu para ilmuwan memproyeksikan kenaikan permukaan laut secara lebih baik,” ujarnya.
Baca Juga: Malaysia dan Brunei Mau Gunakan Kendali Penuh ASEAN Urai Kabut Asap Kalimantan
Proyeksi yang lebih andal dapat membantu masyarakat pesisir mempersiapkan diri menghadapi banjir yang lebih sering serta dampak gelombang badai terhadap rumah, jalan, dan infrastruktur lainnya.
Perubahan Iklim Jangka Panjang Tetap Diperhatikan
Menurut Wang, perencanaan untuk menghadapi perubahan permukaan laut perlu memperhitungkan dua faktor. Keduanya adalah kenaikan permukaan laut dalam jangka panjang dan fluktuasi iklim alami dalam jangka pendek.
“Perencanaan tersebut perlu memperhitungkan kenaikan permukaan laut jangka panjang maupun fluktuasi iklim alami jangka pendek,” tambah Wang.
Studi tersebut menunjukkan hubungan antara kondisi laut tropis dan perubahan atmosfer dengan dinamika massa es di Antarktika. Pemanasan di wilayah tropical warm pool dapat memengaruhi pola atmosfer hingga wilayah yang berjarak ribuan kilometer.
Meski lapisan es Antarktika sempat mengalami penambahan massa terbesar sejak pengamatan satelit dimulai, penelitian tersebut menegaskan bahwa tren penyusutan jangka panjang belum berbalik.
Temuan itu memberikan gambaran mengenai bagaimana perubahan kondisi laut dan atmosfer di wilayah tropis dapat berkaitan dengan perubahan salju dan massa es di Antarktika. (Xinhua)
Penulis: Ahmad Jaelani
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE