Menelisik Keakraban Jokowi, Prabowo dan Gibran
Efriza, telisik indonesia
Minggu, 23 Agustus 2026
0 dilihat
Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan. Foto: Ist.
" Presiden Prabowo Subianto duduk diapit dan bercengkrama dengan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia "

Oleh: Efriza
Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan
MOMEN Presiden Prabowo Subianto duduk diapit dan bercengkrama dengan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia berhasil menarik perhatian publik.
Ketiganya terlihat sumringah, berbincang, bahkan bercanda, sehingga secara visual menghadirkan pesan kuat mengenai kedekatan, kehangatan, dan harmonis dalam balutan hubungan politik. Atas kehangatan dari Jokowi, Prabowo, dan Gibran telah menghadirkan perbincangan dan perdebatan publik utamanya di media sosial.
Memaknai Kebersamaan
Pemerintah sendiri memandang keakraban tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Sementara, posisi duduk Prabowo di tengah atau diapit oleh Jokowi dan Gibran juga dikaitkan dengan penghormatan kepada mantan presiden Jokowi. Saat itu, hanya Jokowi yang hadir dari jabatan mantan presiden.
Namun, politik tidak cukup dibaca dari sebuah peristiwa kebersamaan dan foto tersebut, misalnya. Dalam perspektif komunikasi politik, visual memang mempunyai kekuatan membentuk persepsi publik. Meski begitu, terlalu cepat dan tidaklah otomatis keakraban Jokowi-Prabowo-Gibran menjadi bukti bahwa konfigurasi politik Pilpres 2029 telah terbentuk.
Baca Juga: MUI, DPR dan Sikap Pemerintah Terhadap LGBT
Keakraban Prabowo, Jokowi, dan Gibran lebih tepat dimaknai sebagai simbol stabilitas dan kesinambungan hubungan politik daripada sebagai deklarasi bahwa duet Prabowo-Gibran pasti akan dilanjutkan untuk periode kedua.
Jika dimaknai sebagai sinyal politik 2029, Publik justru dapat terjebak pada politik simbolik.
Padahal, keputusan politik sesungguhnya masih sangat bergantung pada dinamika partai, kinerja pemerintahan, elektabilitas, kepuasan masyarakat, serta kalkulasi kekuatan koalisi, bahkan hasil revisi undang-undang paket politik.
Meski begitu, posisi ketiganya duduk bersama dan akrab, tetap memiliki arti strategis. Jokowi merupakan mantan presiden yang masih mempunyai pengaruh politik dan dihormati oleh Prabowo. Gibran adalah wakil presiden sekaligus putra Jokowi, dengan loyalitas tinggi kepada Presiden Prabowo.
Sedangkan, Prabowo merupakan pusat kekuasaan pemerintahan saat ini, dengan jiwa dan sikap Prabowo yang menjunjung tinggi balutan Sila Ketiga Persatuan Indonesia dalam menjalankan Pemerintahannya.
Presiden Prabowo telah berhasil mengemas visual keharmonisan dengan Jokowi dan Gibran dalam satu panggung.
Pesan yang muncul adalah tidak terdapat keretakan terbuka antara kekuatan politik lama yang dikomandoi oleh Jokowi dengan pemerintahan sekarang, sekaligus mematahkan persepsi adanya konflik internal antara Prabowo dan Gibran dalam pengelolaan pemerintahannya.
Dari sisi Prabowo sebagai Presiden, ini menguntungkan karena memperkuat citra sebagai presiden yang mampu menjaga hubungan dengan pendahulunya sekaligus mengonsolidasikan pemerintahan. Prabowo berhasil mendapatkan citra Presiden yang mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam mengelola pemerintahannya.
Dari sisi Jokowi-Gibran juga memperoleh keuntungan, karena dapat memantulkan kepada para pendukungnya bahwa pengaruh politik keluarga Jokowi masih tetap diterima oleh Prabowo.
Hanya saja sebaliknya, bagi kelompok yang kritis, maupun yang kontra terhadap Jokowi dan Pemerintah, visual tersebut telah memunculkan kembali kekhawatiran mengenai besarnya pengaruh politik keluarga Jokowi dalam pemerintahan Prabowo.
Dari Keakraban sebagai Modal Politik
Keakraban dari ketiga tokoh tersebut bernilai sebagai modal politik, tetapi bukanlah tiket otomatis menuju Pilpres 2029 degan paket petahana dua periode.
Prabowo dan Gerindra berpotensi besar menjadi salah satu kekuatan utama dalam pembentukan poros politik 2029. Meski begitu, partai-partai politik termasuk partai pendukung pemerintah, saat ini masih mencermati perkembangan kinerja pemerintah hingga beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Wacana Pilkada Hanya Memilih Kepala Daerah
Bahkan, untuk dukungan terhadap kemungkinan keberlanjutan Prabowo-Gibran, ditengarai dengan persentase kecil penerimaannya.
Fokus partai-partai politik ke depannya, diperkirakan memberikan penilaian akan performa ekonomi, kepuasan publik, soliditas koalisi, dan kemampuan pemerintah menjawab persoalan masyarakat.
Bahkan, juga tergantung dari sikap legowo dan strategi politik dari Prabowo dan Gerindra. Di sisi lain, bagi PDIP dan kekuatan politik di luar pemerintahan. Keakraban ketiga tokoh tersebut, ditengarai akan menjadi alarm dini politik untuk mempercepat konsolidasi, tetapi bukan kekhawatiran.
PDIP saat ini ditengarai telah menguatkan konsolidasi internal secara intens untuk menghindari kekalahan kedua di Pilpres, tetapi bukan dalam rangka menghadapi paket petahana periode kedua Prabowo-Gibran, melainkan dalam menyikapi keputusan ke depan dari Prabowo-Gerindra yakni akan kembali bertarung dengan PDIP atau malah dapat bekerja sama antara PDIP-Gerindra-Prabowo seperti Pilpres 2009 lalu.
Keakraban Jokowi-Prabowo-Gibran patut diakui telah berhasil memberikan pesan stabilitas pemerintahan dan menunjukkan hubungan yang harmonis, sekaligus meruntuhkan klaim adanya perpecahan antara pro Prabowo dan Pro Keluarga Jokowi atau Geng Solo. Meski begitu, keakraban ketiga tokoh tersebut, tidaklah mencerminkan paket petahan dua periode Prabowo-Gibran sudah terbentuk dan akan bertarung pada Pilpres 2029. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS