Logo Telisik.id

Jakob Oetama: Beberapa Kilasan Tentangnya

269 dibaca Jakob Oetama: Beberapa Kilasan Tentangnya

Jakob Oetama. Foto: Repro kompas.com

" Inilah yang patut diteruskan oleh pers Indonesia saat ini. Jurnalisme yang bisa memberi Makna. Bukan sekadar sisi kecepatan, kedalaman, keakuratan tetapi juga makna yang melingkupinya. Ini sejalan dengan mandat UGM bekerja untuk kemanusiaan dan pembangunan nasional."

JAKARTA, TELISIK.ID - Rabu, 9 September 2020, Jakob Oetama kembali ke pangkuan Bapa, tepatnya pukul 13.00 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebelumnya, ia seorang guru. Jakob pernah mengajar di SMP Mardi Yuana di Cipanas, Jawa Barat dan SMP Van Lith di Matraman, Jakarta. Kini kita tahu bahwa menjadi wartawan adalah pilihan tepat baginya.

Jakob bersama sahabatnya Petrus Kanisius Ojong mendirikan harian Kompas pada Juni 1965.  Sebelumnya, pada tahun 1963, dua sahabat ini mendirikan majalah bulanan Intisari yang berisi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Terlahir dari budaya Jawa yang kental, tepatnya 27 Desember 1931 di Borobudur, Magelang, Dahlan Iskan dalam D’Is Way menyebut, Pak Jakob sebagai simbol sosok orang Jawa yang sangat sempurna.

Dahlan menuturkan, Pak Jakob adalah orang yang sabar, kalem, tenang, kalau berjalan tidak bergegas, kalau bicara tidak lirih, ritme katanya lamban dan wajahnya datar.

Ia adalah tokoh berpandangan luas, inklusif, dan terbuka. Seperti dilansir dari ibtimes.id Pak Jakob ingin menjadikan Kompas sebagai forum, jembatan dan wacana dalam bidang kemasyarakatan pada umumnya, termasuk dalam bidang agama. Hal itu lantas menjadi prinsip dalam kebijakan editorial maupun dalam bidang perekrutan sumber daya manusia.

Pada masa orde baru, di bawah kepemimpinan Jakob, kompas dikenal dengan “Jurnalisme Kepiting”. Dengan siasat main aman itu, Kompas berhasil menjadi media besar di Indonesia hingga kini.

Kini, Kompas berhasil melebarkan sayap bisnis ke berbagai lini usaha di bawah bendera Kompas Gramedia Grup. Dilansir dari historia.id, sektor bisnis Kompas berjumlah 400 jaringan usaha, termasuk Kompas TV dan Universitas Multimedia Nusantara.

Baca juga: Perjuangan Anak Pedagang Keliling Lulusan Terbaik Kebidanan

Di mata Sandiaga Salahuddin Uno, Penerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada (UGM) itu adalah sosok yang berhasil bertransformasi dari jurnalis menjadi pengusaha sukses.

"Beliau merupakan seorang pejuang pers yang betul-betul menjadi panutan dan menjadi role model bagaimana seorang enterpreneur yang lahir dari dunia pers ternyata bisa bertransformasi menjadi wirausaha sukses di berbagai bidang," ungkap Sandi, seperti dilansir dari kompas.com.

Sementara itu Rektor UGM, Panut Mulyono mengungkapkan, Jakob banyak memberikan sumbangsih bagi kemajuan pers di Indonesia. Menurutnya Jakob mampu menghadirkan jurnalisme yang bermakna.

"Inilah yang patut diteruskan oleh pers Indonesia saat ini. Jurnalisme yang bisa memberi Makna. Bukan sekadar sisi kecepatan, kedalaman, keakuratan tetapi juga makna yang melingkupinya. Ini sejalan dengan mandat UGM bekerja untuk kemanusiaan dan pembangunan nasional," ucap Panut dilansir dari kompas.com.

Dilansir dari ibtimes.id, dalam hal menulis berita, Pak Jakob berpesan agar wartawan berada dalam kondisi in fear and trembling in anguish. Mengapa harus takut dan gelisah? Karena ketika keliru menulis berita, ia akan membuat pembacanya salah dalam memahami masalah.

Pahlawan pers nasional itu telah berpulang. Pusaranya di Taman Makam Pahlawan Kalibata menjadi saksi. Raganya tak dapat tersentuh lagi, namun kiprahnya menjadi pusaka yang bisa terus dikenang hingga generasi nun jauh hari.

Selamat jalan Pak Jakob. Doa kami bersamamu. Rest in peace.

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Kardin

Loading...

Post Tags:

Copyright © 2019 telisik.id . All rights reserved.

Main Menu

Beranda

Rubrik

News
Metro
Kasus
Peristiwa
Sosok
Cerita
Sehat
Foto
Video