adplus-dvertising

Perjuangan Anak Pedagang Keliling Lulusan Terbaik Kebidanan

Haidir Muhari, telisik indonesia
Selasa, 08 September 2020
5472 dilihat
Perjuangan Anak Pedagang Keliling Lulusan Terbaik Kebidanan
Anna Mifta Husyamah, lulusan terbaik D3 Kebidanan Poltekkes Kendari. Foto: Ist.

" Yang selalu saya ingat dan saya lakukan ketika mau berangkat kuliah, saya selalu pamit dan minta doa kebaikan dari mereka. "

KENDARI, TELISIK.ID - Gadis berpenampilan ayu itu berhasil menyandang lulusan terbaik di Jurusan D3 Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes) Kendari.

Anna Mifta Husyamah namanya. Dalam langkah gontai tetapi tertata, ia terus menuju gedung prosesi wisuda. Romansa haru dan gemuruh perih berkelindan dalam dadanya.

Sabtu (29/8/2020), di gelaran acara wisuda Poltekkes Kendari, anak pedagang pakaian keliling itu mafhum bahwa Tuhan telah meraup munajat yang selalu ia langitkan selama tiga tahun menempuh kuliah di kampus putih itu.


Anna, sapaannya, berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,63. Ia terus meredam perih, lantaran tak seperti mahasiswa lain yang orang tuanya turut menyaksikan langsung prosesi wisuda itu.

Putri dari Abdul Rochim dan Nikmah itu harus rela, raihannya hanya bisa disaksikan oleh ke dua orangtuanya via daring. Padahal sejak awal ia ingin persembahkan prestasi ini untuk mereka berdua.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Asrun Lio Memperbaiki Sistem Pendidikan Sultra

Selama tiga tahun menempuh kuliah di Poltekkes, ia tak akan mengayuh langkah sebelum mendapat restu dan doa ke dua pahlawannya itu.

"Yang selalu saya ingat dan saya lakukan ketika mau berangkat kuliah, saya selalu pamit dan minta doa kebaikan dari mereka," bebernya.

Gadis berdarah Jawa Timur ini telah membuktikan bahwa restu orangtua telah mengantarnya menjadi yang terbaik di jurusannya. Namun, ia juga harus menanggung perih ke dua orangtuanya tak bisa turut menyaksikan langsung gelaran itu.

"Tidak bisa dijelaskan Kak, intinya sedih. Apalagi lihat yang lain semua di dampingi sama orang tuanya," kenangnya.

Perjuangannya hingga di titik itu bukanlah hal yang mulus. Wanita kelahiran Kendari, 21 Desember 1998 itu sebelumnya bercita-cita ingin menjadi guru. Dua kali mengikuti tes dan ia terjegal.

Baca juga: Ani, Selempangmu Menegur Kami

"Sempat ikut dua kali tes di UHO ambil pendidikan, tapi tidak ada yang lolos," kenangnya.

Setelah mengumpulkan keberanian, serta dorongan orang tua, ia lalu mencoba mendaftar di Poltekkes Kendari. Akhirnya, garis takdir menuntunnya menjadi mahasiswa kebidanan.

Wisuda adalah momen paling dinantikan oleh setiap mahasiswa. Bukan ajang pameran batik terindah, tetapi sebagai persembahan bakti ke pada orangtua.

"Maaf belum bisa kasih apa-apa", kata itu yang hanya mampu ia ungkapkan untuk orangtuanya.

Kristal bening terus meretas dari ke dua matanya. Ia menginsyafi bahwa sisihan peluh orangtua tak bisa ditebus oleh apa pun dan berapa pun.

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Kardin

Baca Juga