Ani, Selempangmu Menegur Kami

Haidir Muhari, telisik indonesia
Selasa, 26 Mei 2020
0 dilihat
Ani, Selempangmu Menegur Kami
Ani Apriani, mahasiswa Poltekkes Kendari, seusai ujian laporan tugas akhir. Foto: Ist.

" Saya pasang begitu spesial untuk orang tua. Karena mereka saya sampai di titik ini. "

KENDARI, TELISIK.ID - Seusai ujian laporan tugas akhir, ia mengenakan selempang yang ia pesan sendiri. Selempang itu telah membuat banyak orang tersontak, selempang itu tertulis nama orang lain.

Ani Apriani namanya. Wanita kelahiran 7 Maret, 23 tahun silam. Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kendari yang menempuh kuliah di kampus itu pada Jurusan D3 Kebidanan sejak tahun 2017.

Kulitnya sawo matang, wajahnya memancarkan aura tegar. Matanya memancarkan sorot keteguhan. Aura kesederhanaan nampak dalam caranya berpakaian. Geraknya cekatan dan tertata. Tak tertatih.

Selempang yang tersemat di bahunya itu bertuliskan Aa Asni Amin, A.md.Keb. Sekonyong-konyong saya bertanya selempang pinjam punya siapa. Ia lalu menuturkan bahwa itu ia pesan sendiri, sesadarnya ia memesan seperti itu.

"Aa itu singkatan namaku, Ani Apriani. Asni itu nama mamaku. Amin itu nama bapakku," terangnya.

Baca juga: Kisah Manis Terapis Anak Autis

Tak banyak saya saksikan selempang unik seperti itu. Galib saya jumpai orang meraut namanya sendiri beserta gelarnya. Berbeda dengan wanita yang juga aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu, menyingkat namanya sendiri dan menuliskan lengkap nama kedua orang tuanya.

Sayapun tertegun, hening seketika, menerawang ke fenomena sosial. Betapa banyak dari kita dalam pencapaian cita menepuk dada sendiri. Dada yang ditepuk itu dahulu ringkih, hanya tangis yang selalu memecah membuncah. Makan disuapi, buang air dibasuhi, diajari merangkak, mengeja langkah, berjalan, hingga mampu berlari, dan tumbuh dewasa, hebat, tenar, dan berjaya.

Kerap lupa jasa dua wajah kusam bergurat dalam di lahap letih usia. Orang tua, ibu dan bapak, atau mama papa, atau umi abi, atau apapun sebutannya.

"Saya pasang begitu spesial untuk orang tua. Karena mereka saya sampai di titik ini," terang anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan ibu Asni dan bapak Amin.

Baca juga: Corona Merampas Impian Gadis itu ke Negeri Sakura

Ia sadar bahwa segala pencapaiannya adalah berkat jasa dan doa kedua orang tua. Momen ini khusus ia persembahkan untuk kedua orang tuanya. Walaupun ia menginsafi bahwa semuanya takkan pernah lunas.

Kata seorang kakek yang saya jumpai dalam Kapal Navigasi saat menuju Kota Palu, Sulawesi Tengah, membawa bantuan untuk korban tsunami, gempa, dan likuifaksi, bahwa jimat ampuh seorang anak adalah air mata duyung. Yaitu air mata dari orang tua karena haru dan bangga kepada anaknya.

Air mata adalah bahasa tertinggi. Kata-kata selalu terbatas dan terbata untuk mengungkap rasa. Hanya ada tangis di kesedihan terendah, dan adalah hanya tangisan pada kebahagiaan tertinggi. Tangisan jualah yang mengawali laku  manusia di muka bumi.

Selempang itu menegur kita. Bagaimana kebaktian tulus kita kepada mereka berdua? Orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita. Air mata yang meretas dari kedua mata mereka apakah ungkapan haru atau ungkapan malu?

Reporter: Idi

Editor: Rani

Baca Juga