adplus-dvertising

Jusuf Hamka, Mualaf Sukses Penyantun Duafa

Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Selasa, 02 Februari 2021
10746 dilihat
Jusuf Hamka, Mualaf Sukses Penyantun Duafa
Jusuf Hamka. Foto: Repro kumparan.com

" Meski banyak belajar kepada Buya, tetapi ia tidak memutuskan untuk menjadi sosok yang sama dengan Sang Guru, melainkan Jusuf ingin menyebarkan agama Islam dengan caranya sendiri, yakni menjadi seorang pengusaha. "

JAKARTA, TELISIK.ID - Namanya dikenal orang banyak bukan karena telah diangkat oleh Ulama besar Buya Hamka menjadi anak ideologisnya. Namun karena perjalanan hidup yang dipilih menjadikan Jusuf Hamka banyak memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas.

Nama lahirnya adalah Alun Josef. Namun, diubah menjadi Jusuf Hamka sejak ia memutuskan menjadi mualaf dan bertemu dengan Buya Hamka di Al-Azhar saat ingin mengucapkan dua kalimat syahadat.

Selang beberapa bulan belajar dengan Buya karena melihat ketulusan Jusuf, ia pun diangkat menjadi anak ideologis dan diberi kata ‘Hamka’ di belakang namanya.


Meski banyak belajar kepada Buya, tetapi ia tidak memutuskan untuk menjadi sosok yang sama dengan Sang Guru, melainkan Jusuf ingin menyebarkan agama Islam dengan caranya sendiri, yakni menjadi seorang pengusaha.

Melansir kumparan.com, Sewaktu mahasiswa, Jusuf pernah mengenyam pendidikan di sejumlah perguruan tinggi, di antaranya FISIP Universitas Jayabaya pada 1980, Bisnis Administrasi Columbia College, Vancouver, Kanada pada 1977, Kedokteran Universitas Trisakti 1974, bahkan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus pernah ia jalani, namun semua itu tidak dituntaskan sampai mendapat gelar.

Bukan karena tidak cerdas lantas tidak menyelesaikan studinya sampai tuntas, melainkan ia memang tidak suka dengan formalitas.

Karir Pekerjaan

Dilansir tourism.go.id, setelah berkali-kali drop out dari bangku kuliah dan terbang ke Kalimantan mencoba peruntungan di usaha kayu, kariernya mulai melejit pada 1990. Sejak saat itu sampai sekarang, sejumlah jabatan mentereng hinggap padanya.

Deretan jabatan yang silih berganti ia emban antara lain penasihat Sinar Mas, komisaris Artha Graha Investama, komisaris independen dan penasihat perusahaan otomotif PT Indomobil Sukses Internasional, komisaris independen dan penasihat televisi swasta nasional PT Indosiar Visual Mandiri, komisaris independen perusahaan semen PT Indocement Tunggal Prakarsa, direktur utama dan penasihat perusahaan infrastruktur jalan tol PT Citra Marga Nusaphala Persada, dan sebagainya.

Sampai saat ini Jusuf masih menjabat penasihat di tiga perusahaan: PT Indosiar Visual Mandiri, PT Indocement Tunggal Prakarsa, dan PT Citra Marga Nusaphala Persada yang dirintis Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut dan kini dikemudikan--salah satunya--oleh putri Jusuf, Fitria Yusuf, sebagai wakil direktur utama.

Baca juga: Natalius Pigai, Mercusuar dari Bumi Cendrawasih

Perjalanan Jadi Mualaf

Pria kelahiran Samarinda, Desember 1957 ini merupakan seorang mualaf Tionghoa yang besar di Jakarta. Ia menghabiskan masa kecilnya di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat sebagai pedagang asongan untuk menambah uang jajan kala itu. Segala jenis makanan mulai dari es mambo hingga kacang-kacangan yang dibungkus dengan plastik pernah ia jual di sekitar masjid Istiqlal.

Semasa kecil dagangan Jusuf Hamka selalu habis karena pembelinya terkesima dengan penampilan Jusuf yang bersih dan lucu, maklum kala itu hanya ia seorang yang mempunyai perawakan Tionghoa di antara temannya.

Namun, Jusuf tak segan membagikan hasil penjualannya itu untuk mentraktir teman yang dagangannya tidak laku.

Beranjak remaja ia kembali ke Samarinda tempat keluarganya berasal, di umur 17 tahun Jusuf memutuskan untuk dikhitan tanpa sepengatahuan orang tuanya. Karena hal tersebut, di rumah ia sering menutupi dengan memakai sarung namun gerak-geriknya terbaca oleh sang kakak dan akhirnya mengaku jika ia sudah dikhitan.

Baiknya, saat itu orang tua Jusuf menanggapi hal tersebut biasa saja dan tidak marah, justru membebaskan Jusuf untuk mempelajari lebih dalam agama yang berbeda dengan keyakinan keluarga.

Akhirnya setelah kembali ke Jakarta, saat itulah ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan bertemulah dengan Buya Hamka.

Ia memeluk Islam saat bertemu Buya di usia 23 tahun, pada tahun 1981. Waktu itu ia melihat di Majalah Tempo, ada orang masuk Islam (disyahadatkan) di Masjid Al-Azhar. Ia langsung ke sana, bertemu Ustaz Zaimi, Sekretaris Masjid Agung Al-Azhar dan menyatakan niatnya masuk Islam.

Ia pun kemudian dibawa ke rumah Buya Hamka di (Jalan) Raden Fatah. Di bawah bimbingan Buya, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan namanya diganti Buya Hamka menjadi Jusuf Hamka.

Jusuf tidak tahu sama sekali siapa Buya Hamka, ia pernah melihat Buya Hamka ribut sama Menteri Agama dan Pak Harto saat perkara fatwa haram MUI soal perayaan Natal bersama bagi muslim. Kala itu Buya Hamka dan pemerintah berbeda pendapat, dan berakhir dengan pilihan Buya untuk meletakkan jabatannya di MUI.

Jusuf menjadi mualaf tahun 1981 tanpa penolakan keluarga. Orang tua Jusuf  tergolong moderat. Bapaknya  dosen, ibunya guru.

Baca juga: KH As'ad Humam, Sosok Penemu Metode Iqra

Anak-anak Jusuf

Beda Jusuf, beda putra-putrinya. Jika ia tak memegang satu pun ijazah universitas, ketiga anaknya punya gelar lengkap. Yang sama dari mereka: sukses.

Anak pertama Fitria Yusuf, Wakil Dirut CMNP. Anak kedua, Faisal Hamka, mengurus hotel di Gili Trawangan Lombok dan Berau Kalimantan. Anak ketiga, Farid Hamka, kerja di McKinsey, perusahaan konsultan manajemen.

Jusuf paham tumbuh di era yang berbeda dengan anak-anaknya. Dan itu mempengaruhi prinsip dan pemikiran mereka.

Membangun Masjid dan Menyantuni Duafa

Kesuksesan yang ia gapai sekarang tak lantas membuat Jusuf lupa diri, dari pengalamannya selama menjadi pedagang asongan ternyata menginspirasi Jusuf untuk selalu bersedekah.

Diketahui pada 2018, ia membangun masjid Babah Alun dengan bentuk bangunan khas Tionghoa di bawah kolong Tol Ir. Wiyoto Wiyono. Nama masjid diambil dari namanya kecilnya dulu ‘Alun Josef’, pembangunan didasari agar warga sekitar kolong jembatan dapat mempergunakan sebaik mungkin bahkan disediakan balai masyarakat untuk mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal.

Selain itu, Jusuf juga membuka warung nasi kuning Podjok Halal khusus fakir miskin dan duafa di Jakarta Utara yang seporsi nasinya hanya Rp 3.000 dan bisa mengambil sepuasnya. Namun, tak jarang jika yang datang tidak mempunyai uang akan diberi secara gratis oleh Jusuf Hamka.

Tidak hanya itu, Jusuf juga membuka warung sembako murah di Jalan Yos Sudarso untuk masyarakat yang terdampak corona. Dengan membayar Rp 5.000, pembeli bisa membawa satu paket sembako yang terdiri dari beras, mie instan, kornet dan teh. Warung itu buka dari Senin-Jumat pukul 11.30 sampai 12.30 WIB dan menjual 100 sembako per harinya.

“Jangan pernah merasa jadi miskin saat membantu orang lain”, prinsip itu yang selalu dipegang oleh Jusuf Hamka hingga namanya besar seperti saat ini.

Reporter: Fitrah Nugraha

Baca Juga