adplus-dvertising

Kemungkinan Salat Jumat Diadakan Lebih dari Satu Gelombang

Affan Safani Adham, telisik indonesia
Senin, 01 Juni 2020
688 dilihat
Kemungkinan Salat Jumat Diadakan Lebih dari Satu Gelombang
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman (pakai peci). Foto: Affan/Telisik

" Kalau semua masjid segitu, praktis tidak bisa mencukupi dan Jum'atan harus dilakukan lebih dari satu gelombang. "

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan sudah melakukan kajian fiqih terkait ibadah Salat Jum'at lebih dari satu gelombang.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, mengatakan, pihaknya sudah melakukan kajian fiqih yang melibatkan Majelis Tarjih dan Tajdid terkait kemungkinan Salat Jumat diadakan lebih dari satu gelombang.

"Prinsip utama mengedepankan sisi keamanan kesehatan jamaah menjadi dasar seluruh pertimbangan yang dibahas oleh Muhammadiyah," ungkap Agus Taufiqurrahman, Senin (1/6/2020).


Dia menambahkan, sesuai protap Kementerian Agama semua harus dilakukan dengan physical distancing.

Dikatakannya, di masjid Nabawi saja, saat ini tak boleh lebih dari 40 persen dari kapasitasnya.

Baca juga: Trending di Twitter, Ruslan Buton Banjir Dukungan

"Kalau semua masjid segitu, praktis tidak bisa mencukupi dan Jumatan harus dilakukan lebih dari satu gelombang," paparnya di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro Yogyakarta.

Muhammadiyah sudah melakukan kajian secara fiqih dan intinya tak ada masalah kalau memang masjid tak mencukupi, maka bisa saja salat lebih dari satu gelombang.

Dikatakan Agus Taufiqurrahman, sangat mungkin Jumatan dilakukan dengan jeda satu jam. Misalnya  gelombang pertama pukul 12.00 WIB dan gelombang kedua pada 13.00 WIB.

Karena kalau masjid kapasitasnya maksimal 40 orang, maka tidak akan mencukupi jamaah yang ada.

Baca juga: Penerapan Nilai-nilai Pancasila Belum Terealisasi

Sementara itu, Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC), Agus Syamsudin, mengatakan, pihaknya akan segera merumuskan petunjuk pelaksanaan agar masyarakat di bawah tidak kebingungan.

Namun begitu, MCCC tak ingin buru-buru dan tetap memperhatikan data serta hasil penelitian di tiap daerah yang dinamikanya berbeda.

“Orang sudah rindu ke masjid tapi kita ingatkan juga agar tidak tertular," kata Agus Syamsudin.

Dia juga berharap, agar masjid tidak jadi pusat penularan baru COVID-19.

Reporter: Affan Safani Adham

Editor: Sumarlin

Baca Juga