BAUBAU, TELISIK.ID - Jelang lebaran, pengemis dan pemulung kian berhamburan di setiap sudut simpangan lampu merah di Kota Baubau. Utamanya perempatan lampu merah Kelurahan Wale, Batulo dan Betombari.

Ironisnya para pemulung ini didominasi anak-anak dan ibu rumahtangga. Seperti pemulung yang mangkal disimpang empat lampu merah Wahidin, Kelurah Batulo, Kecamatan Wolio, Epang (13). Anak ketiga dari delapan bersaudara merupakan siswa kelas enam sekolah dasar negeri (SDN) 2 Kadolomoko mengaku, memulung sejak kelas lima.

Ia mengaku terpaksa menggeluti profesi ini karena ketidakmampuan orang tua. Orang tuanya bekerja sebagai penyapu jalanan yang gajinya dibiayai oleh Pemerintah Kota Baubau. Tentu penghasilan terbilang kurang dengan anak delapan orang.

Usai menimba ilmu di sekolah, remaja yang bercita-cita ingin menjadi petugas pemadam kebakaran ini memulai aktifitas mulung. Ia baru bisa pulang ke rumah untuk berkumpul bersama orang tua dan saudara nanti sekira pukul 19.00 Wita atau 20.00 Wita.

Lokasi penimbangan hasil mulung yang terletak di Kelurahan Katobengke, Kecamatan Betoambari, berjarak sekira lebih dari 10 kilo meter dengan rumahnya yang terletak di Lingkungan Waromosio, Kelurahan Kadolo, Kecamatan Kokalukuna.