Konglomerat Terkaya Tanah Air Resmi Akuisisi Shell, Harta Prajogo Pangestu Turun Drastis
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Sabtu, 05 April 2025
0 dilihat
Taipan legendaris, Prajogo Pangestu dikenal ulet, visioner dan ahli membaca peluang. Foto: Repro Antara.
" Salah satu konglomerat terkaya Indonesia, melalui perusahaan andalannya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), merampungkan akuisisi strategis "


JAKARTA, TELISIK.ID - Di tengah lengangnya aktivitas pasar modal akibat libur nasional, kabar mengejutkan datang. Salah satu konglomerat terkaya Indonesia, melalui perusahaan andalannya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), merampungkan akuisisi strategis.
Kilang milik Shell Singapore Pte Ltd (SSPL) di kawasan industri Singapura resmi beralih kepemilikan. Langkah akuisisi ini menandai ekspansi besar TPIA di sektor energi dan kimia regional.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), TPIA mengumumkan akuisisi tersebut rampung. Aksi ini dilakukan bersama mitra strategis globalnya, Glencore Asian Holdings Pte Ltd, melalui perusahaan patungan.
Nama perusahaan patungan tersebut adalah CAPGC Pte Ltd, hasil kolaborasi antara Chandra Asri Capital Pte Ltd dan Glencore Asian Holdings. CAPGC secara resmi mengakuisisi saham di Aster Chemicals and Energy Pte Ltd.
Aster sendiri merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Shell Singapore Pte Ltd sebelumnya. Aset yang diakuisisi mencakup kawasan industri Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura.
Wilayah tersebut memiliki kilang dengan kapasitas 237.000 barel minyak mentah per hari. Selain itu, terdapat fasilitas Ethylene Cracker berkapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun.
Pusat industri tersebut juga mencakup aset kimia hilir yang berlokasi di Pulau Jurong. Seluruh fasilitas akan tetap beroperasi di bawah manajemen Aster Chemicals and Energy Pte Ltd.
Struktur kepemilikan Aster kini berubah, namun operasional dan karyawan tetap dipertahankan seperti semula. Langkah ini menegaskan posisi Chandra Asri Group dalam rantai industri kimia global.
Erwin Ciputra selaku Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group turut memberikan penjelasan. Menurutnya, akuisisi ini menjadi momen penting bagi Chandra Asri Group dan perekonomian nasional.
Baca Juga: Sosok Raja Minimarket di Tanah Air, Berawal Bantu Ibu Jaga Warung
Ia menilai akuisisi akan memperkuat ketahanan energi Indonesia serta menstimulasi pertumbuhan industri kimia dalam negeri. Menurut Erwin, jejak strategis Aster akan menjadi fondasi ketersediaan energi nasional.
Dijelaskan bahwa sinergi antara TPIA dan Glencore membuka peluang ekspansi rantai pasok lintas negara. Erwin menyatakan bahwa pengoperasian Aster akan mendorong kestabilan ekonomi jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa produk kilang dan petrokimia dari Aster akan mengisi kesenjangan pasokan domestik. Termasuk beberapa produk strategis seperti MEG, Polyols, Ethylene, Propylene dan berbagai monomer penting lainnya.
"Dengan memperluas jejak strategis melalui Aster, kami memastikan ketersediaan sumber daya vital bagi negara serta berkontribusi pada stabilitas ekonomi jangka panjang dan daya saing global Indonesia," ujar Erwin, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (5/4/2025).
Managing Director Glencore Singapore juga menjelaskan strategi perusahaan dalam ekspansi lintas kawasan. Ia menekankan bahwa investasi di aset berpotensi tinggi seperti Aster merupakan bagian dari fokus jangka panjang Glencore.
Glencore menyebutkan bahwa seluruh kegiatan bisnisnya diarahkan untuk mengedepankan keberlanjutan dan inovasi. Strategi ini mencakup kolaborasi pengadaan dan distribusi bahan baku industri energi dan petrokimia.
"Perusahaan tetap berkomitmen untuk mendorong inovasi, keberlanjutan, dan keunggulan operasional di seluruh kegiatan bisnisnya," ujarnya.
Erwin menambahkan bahwa keuntungan dari akuisisi Aster akan direpatriasi ke Indonesia dan diinvestasikan kembali. Hal ini sekaligus mendukung neraca pembayaran nasional serta membuka lapangan kerja baru.
Erwin menyebutkan setidaknya 200 pekerjaan baru akan tercipta untuk mendukung operasional backend Aster di Indonesia. Ini merupakan bagian dari perluasan operasional TPIA pascaakuisisi.
Di sisi lain, kabar mengenai ekspansi besar TPIA ini justru diikuti penurunan kekayaan pemiliknya. Berdasarkan data Forbes per Jumat (4/4/2025), harta Prajogo Pangestu menurun drastis.
Nilai kekayaannya turun sekitar 48 persen dari akhir tahun 2024. Pada Desember 2024, Forbes mencatat kekayaannya mencapai US$32,5 miliar atau sekitar Rp 541,77 triliun. Kini, kekayaan tersebut merosot menjadi US$ 16,9 miliar atau Rp 281,72 triliun.
Penurunan kekayaan Prajogo dipengaruhi oleh penurunan nilai saham emiten yang dimilikinya. Meski demikian, Prajogo masih bertahan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia. Ia hanya berada di bawah R. Budi Hartono dan Michael Hartono. Kekayaan Prajogo tersebar di sejumlah perusahaan besar di sektor energi, petrokimia, dan pertambangan.
Berikut beberapa sumber kekayaan utama milik Prajogo Pangestu yang tercatat di bursa:
1. PT Barito Pacific Timber (BRPT)
Perusahaan ini didirikan sebagai perusahaan kayu dan melantai di bursa pada 1993. Setelah keluar dari bisnis kayu, perusahaan berganti nama menjadi Barito Pacific dan masuk ke sektor petrokimia.
2. PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA)
Prajogo mengakuisisi 70 persen saham Chandra Asri pada 2007. Tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Sosok Cantik Antea Putri Turk: Cicit Buyut WR Supratman Viral Dendangkan Lagu Indonesia Tjantik 1924
3. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
Unit bisnis batu bara milik Prajogo yang baru IPO dan mengalami lonjakan harga saham signifikan di BEI.
4. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
Perusahaan energi terbarukan milik Prajogo yang baru melantai di bursa beberapa bulan lalu. Saham BREN juga dikendalikan oleh tiga anak Prajogo dan Erwin Ciputra melalui Green Era Energi Pte Ltd.
Kekayaan Prajogo juga ditopang oleh strategi kepemilikan tidak langsung melalui anak-anaknya dan manajemen utama. Termasuk kepemilikan signifikan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus energi hijau dan keberlanjutan.
Ekspansi TPIA di luar negeri menjadi langkah penting mempertahankan kinerja bisnis di tengah dinamika global. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS