KONAWE UTARA, TELISIK.ID - Tradisi tolak bala ada di banyak suku dan daerah di Indonesia. Masyarakat di Jawa melakukan tolak bala dengan melaksanakan bersih desa atau ruwatan massal.

Cara yang cukup berbeda dilakukan oleh masyarakat di Kalimantan bagian Selatan. Untuk menolak bala, mereka melakukan ritual dengan upacara yang diikuti dengan mandi dan menyucikan tubuh.

Selain di Jawa dan Kalimantan, tradisi tolak bala yang cukup unik juga dilaksanakan di Sulawesi Tenggara. Salah satu suku di Sulawesi Tenggara, Mekongga dan Tolaki, memiliki ritual yang secara turun-temurun tetap terjaga dan terpelihara hingga kini. Salah satu ritual yang dianggap paling sakral adalah Mosehe Wonua.

Mosehe Wonua adalah tradisi suku Mekongga dan Tolaki  yang dilaksanakan secara besar-besaran, ramai dan penuh hikmat sakral sehingga diharapkan masyarakat ikut terlibat di dalamnya, termasuk seluruh utusan yang mewakili negerinya (daerah) masing-masing dari seluruh kerajaan Tolaki. Bahkan tokoh adat, masyarakat, agamawan, pemerintah sipil maupun militer akan larut bersama dalam prosesi upacara Mosehe Wonua.

Di Sulawesi Tenggara, Mosehe Wonua identik dengan ritual pensucian kampung yang dilakukan sejak abad ke-13, saat Kerajaan Mekongga Tolaki masih berjaya. Tradisi ini terus dipertahankan hingga raja-raja berikutnya yang bertahta dan memimpin masyarakat suku Tolaki yang masih bertahan dan menjadi masyarakat modern.