BAUBAU, TELISIK.ID - Benteng Keraton Buton menyimpan banyak misteri, yang hingga kini belum terpecahkan. Banyaknya situs peninggalan di dalamnya, membuat benteng terluas di dunia ini menjadi incaran para peneliti untuk menemukan cerita sejarah tersendiri pada setiap peninggalannya. Salah satunya adalah meriam yang tersusun rapi di setiap sudut dan di dalam benteng yang luasnya berukuran 400 ribu meter persegi atau 2. 740 meter.

Meriam merupakan senjata teknologi yang cukup canggih pada masanya. Meriam merupakan senjata berbentuk tabung yang memiliki laras panjang dengan diameter bervariasi. Berdasarkan panjang laras dan ukuran diameter meriam, akan diketahui ukuran maupun jenis kaliber meriam. Semakin besar kalibernya, maka semakin besar ruang untuk mesiu. Hal ini kemudian menjadikan potensi jarak tembak sebuah meriam.

Di dalam benteng, terdapat pemukiman warga turunan sultan dan tinggalan sejarah budaya masa kesultanan. Peninggalan tersebut di antaranya, Masjid Agung Keraton, tiang bendera yang disebut, Kasuluna Tombi, batu pertitaan atau batu gandangi/batu wolio dan batu popaua. Kedua batu ini merupakan batu yang digunakan dalam prosesi pelantikan Raja dan Sultan. Terdapat pula Istana Sultan ke-37, Muhamad Hamidi, yang disebut, Kamali Kaara dan Istana Sultan Umar yang disebut Kamali Bata. Benteng ini memiliki 12 lawana dan 17 baluarana. Pada setiap lawa dan baluara terdapat meriam dengan masing-masing jenis. 

Berdasarkan data Arkeolog Unhas, Fahri, secara keseluruhan, jumlah meriam yang ada di kawasan benteng sebanyak 41 buah. Lima di antaranya berada di halaman Masjid Agung, satu di rumah penduduk serta 35 buah berada di Baluaranan dan Lawana benteng.

Setiap meriam memiliki ukuran, inskripsi, arah hadap, ukuran kaliber, kaliber, bahan dan tipe meriam berbeda. Semua itu dikarenakan memiliki bagian dasar, pangkal, lubang tembak, panjang laras, cincin dan moncong meriam berbeda. Meriam paling panjang berukuran 320 centi meter. Sedang yang paling pendek berukuran 166 centi meter.