Pakar Turki, Malaysia dan Filipina Bahas Pendidikan Berkelanjutan di UM Kendari

Ana Pratiwi, telisik indonesia
Rabu, 14 Januari 2026
0 dilihat
Pakar Turki, Malaysia dan Filipina Bahas Pendidikan Berkelanjutan di UM Kendari
Kegiatan International Public Lecture di UM Kendari. Foto: Website UM Kendari.

" Pendidikan tidak boleh kehilangan esensinya sebagai upaya kolektif untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara berkelanjutan "

KENDARI, TELISIK.ID - Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari menggelar forum internasional yang mempertemukan pakar pendidikan dari Turki, Malaysia, dan Filipina untuk membahas arah dan tantangan pendidikan berkelanjutan di tengah perubahan global, mulai dari penguatan karakter hingga adaptasi teknologi, Senin (13/1/2026).

Salah satu pembicara, Mr Ogus Maraz dari Turki, membuka peluang kerja sama akademik lintas negara dengan menawarkan program beasiswa bagi mahasiswa yang berminat memperdalam studi Teologi di Turki.

Tawaran tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam memperluas jejaring keilmuan, khususnya di bidang spiritualitas dan pendidikan agama.

Dari Malaysia, Mr Khailani A. Jalil menyoroti tantangan besar dunia pendidikan di era dominasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ia menegaskan, pendidikan tidak boleh kehilangan esensinya sebagai upaya kolektif untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara berkelanjutan.

Baca Juga: Aktivis Lingkungan Konawe Selatan Protes Penambangan Nikel PT IFISDECO Dijadikan Tersangka

“Pendidikan pada dasarnya adalah proses memperbaiki kehidupan agar selalu lebih baik dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh pakar pendidikan asal Filipina, Estela P. Leon-Carino, EdD, CESO, dan Lorna M. Yaco, PhD. Keduanya menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak lahir secara instan, melainkan ditentukan oleh kolaborasi yang kuat antara sekolah, guru, peserta didik, serta keterlibatan aktif orang tua.

Sementara itu, aspek pembentukan karakter menjadi perhatian serius Nor Azza Ibrahim dari Malaysia.

Ia menegaskan, inti pendidikan adalah penanaman adab, yang harus dimulai dari pendidik itu sendiri sebelum ditransfer kepada peserta didik.

“Guru tidak hanya mengajar ilmu, tetapi menjadi teladan. Adab harus hidup dalam diri pendidik sebelum diajarkan,” tegasnya.

Baca Juga: Meski Berkebutuhan Khusus, Siswa SLBN 1 Kendari Belum Dapat Program MBG

Menutup diskusi, Wakil Rektor IV UM Kendari, Dr. Ir. Muh. Dikman Maheng, S.T., M.Sc., menyoroti pentingnya menjaga nilai dasar keislaman dan budaya sebagai fondasi pendidikan berkelanjutan.

Menurutnya, pendidik harus tampil sebagai role model nyata melalui kedisiplinan, budaya membaca dan integritas moral.

Ia juga menekankan keberanian pendidik untuk mengakui dan meminta maaf atas kesalahan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada mahasiswa, sekaligus cerminan keteladanan yang utuh dalam dunia pendidikan. (Adv)

Penulis: Ana Pratiwi

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga