Pawai Padamara Baubau Kembali Hadir, Tampilkan Seniman Bali, Bangka Belitung dan Makassar
Ali Iskandar Majid, telisik indonesia
Sabtu, 27 Juni 2026
0 dilihat
Capture video promosi Pawai Padamara di Kota Baubau. Foto: Ist.
" Pawai Padamara kembali hadir di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) "

BAUBAU, TELISIK.ID - Pawai Padamara kembali hadir di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan menampilkan kolaborasi memikat dari tiga seniman residensi yang berasal dari Makasar, Bangka Belitung dan Bali.
Pertunjukan dengan tajuk Kande Yi Sora ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana, serta bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Proyek seni ini diproduseri oleh Harni Sumatan yang merupakan penerima dana penuh dalam hibah Dana Indonesiana tahun ini untuk pendayagunaan ruang publik.
Kande Yi Sora adalah sebuah inisiasi proyek seni budaya lintas disiplin yang bertujuan mengaktivasi kembali dua situs bersejarah penting di Sorawolio di Kota Baubau. Kedua situs tersebut adalah bak air Palatiga yang menjadi ruang domestik, ruang solidaritas perempuan, serta ekologi air dan Benteng Sorawolio sebagai simbol pertahanan komunal warisan Kesultanan Buton.
Aktivasi ini dilakukan melalui pendekatan seni pertunjukkan spesifik situs serta revitalisasi kontemporer terhadap tradisi makan bersama, pekanda-kandea. Bekerjasama dengan teater Sora, pertunjukan Kande Yi Sora akan menampilkan teater ruang publik yang mengangkat tema politik tanam paksa era Belanda, narasi lisan warga mengenai Bak Air Palatiga, pertunjukan dari tiga seniman residensi, hingga aksi teatrikal ibu-ibu yang sedang memasak.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Sulawesi Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat Pameran
Menariknya, pertunjukan ini merepresentasikan ulang tradisi pekande-kandea dengan tidak lagi memposisikan talang makanan dan perempuan muda sebagai objek tontonan. Sebaliknya, kelompok ibu-ibu yang memasak dan menyiapkan makanan dalam peristiwa tersebut, justru diangkat untuk jadi subjek utama.
Rangkaian perhelatan budaya yang dikemas dengan tema tempo doeloe ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari penuh dengan agenda yang padat. Pada hari pertama, 27 Juni 2026, kemeriahan akan diawali dengan penampilan istimewa dari Studio Patodongi, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan pawai Padamara menuju lokasi situs bersejarah, serta ditutup dengan rangkaian pertunjukan kolaboratif yang memukai.
Memasuki hari kedua 28 Juni 2026, atmosfer kebersamaan warga akan semakin kental melalui agenda nonton bareng dokumenter sejarah, suguhan pertunjukan seni lanjutan, serta ditutup dengan tradisi makan-makan bersama seluruh masyarakat dan pengunjung. Melalui seluruh rangkaian tersebut, festival ini diharapkan mampu menjadi ruang nostalgia mengenai laku hidup masyarakat sekaligus merawat ingatan kolektif tentang cerita warga Palatiga yang pernah melewati masa-masa sulit.
Kepala Program sekaligus produser acara, Harni Sumatan menjelaskan, kegiatan ini sengaja dirancang sebagai bentuk nostalgia sekaligus ruang pengetahuan bagi masyarakat luas dan generasi muda. Ia menilai, meski situs Bak Air Palatiga berada tepat di tengah-tengah permukiman, keberadaannya selama ini belum diberdayakan dengan optimal.
Baca Juga: Kejuaraan Road Race Siap Meriahkan HUT ke-67 Muna, Hadiah Utama Sepeda Motor
Melalui acara ini, diharapkan muncul upaya refleksi mendalam bagi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Ia menambahkan, kegiatan ini melibatkan partisipasi masyarakat setempat guna menyukseskan rangkaian acara, oleh karena itu disediakan panggung warga yang diisi oleh masyarakat setempat yang ingin berpartisipasi yang ingin tampil merayakan festival ini.
"Konsep perayaan warga sengaja diangkat agar rasa kepemilikan acara tidak hanya untuk saya. Tapi juga dirasakan masyarakat sekitar dampak positifnya," ucap Harni, Sabtu (27/6/2026).
Selain menampilkan pertunjukan seni, kehadiran pameran arsip warga juga menjadi daya tarik tersendiri. Para pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati kemeriahan acara, melainkan dapat melihat langsung panjangan dan dokumen dan foto-foto historis yang dikumpulkan secara kolektif dari rumah-rumah warga untuk dipamerkan dalam satu ruang yang sama. (C)
Penulis: Ali Iskandar Majid
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS