Perjalanan Hijrah Koh Jeffry, dari Kebencian Total hingga Jadi Ketua Mualaf Center

Merdiyanto , telisik indonesia
Selasa, 21 April 2026
0 dilihat
Perjalanan Hijrah Koh Jeffry, dari Kebencian Total hingga Jadi Ketua Mualaf Center
Koh Jeffry Gunawan memilih menjadi mualaf setelah terkesan dengan perilaku seorang muslim memberikan makanan gratis setiap hari kepada pelanggannya. Foto: Repro Okezone

" Koh Redemtus Jeffry Gunawan, atau yang lebih dikenal sebagai Koh Jeffry, kembali menjadi sorotan setelah berbagi kisah inspiratifnya dalam Kajian Safari Dakwah di Palu pada Februari 2026 "

PALU, TELISIK.ID - Koh Redemtus Jeffry Gunawan, atau yang lebih dikenal sebagai Koh Jeffry, kembali menjadi sorotan setelah berbagi kisah inspiratifnya dalam Kajian Safari Dakwah di Palu pada Februari 2026.

Kini, sebagai Ketua Mualaf Center Sulawesi Tengah sekaligus Partner Lapang Badan Wakaf Al-Qur'an (BWA), ia terus menyisir Kota Palu dan sekitarnya untuk mendampingi mualaf baru serta mengajak umat berwakaf Al-Qur'an.

Kisahnya yang sederhana tapi menyentuh hati membuktikan bahwa hidayah bisa datang dari hal-hal kecil sehari-hari.

Awal yang Gelisah, Kebencian karena Bom Bali

Lahir di Surabaya dari keluarga Katolik yang taat, Koh Jeffry menghabiskan masa kecil di sekolah swasta berbasis agama. Saat SMK kelas 2, ia terdoktrin membenci Islam setelah tragedi bom Bali.

Baca Juga: Mualaf Lokal: Wanita di Kendari Rela Peluk Islam Demi Pernikahan

“Saya pembenci Islam yang sangat-sangat totalitas. Karena bom Bali itu, saya langsung terdoktrin, ‘Oh Islam ini ajarannya radikal, membunuh umat’,” ungkapnya seperti dikutip dari okezone.com, Selasa (21/4/2026).

Hidupnya saat itu penuh pergaulan bebas dan minuman keras, membuatnya sering merasa gelisah dan hampa.

“Banyak yang kemarin masih sempat salat berjamaah, hari ini sudah dipanggil Allah. Kita yang masih diberi waktu patut bersyukur,” katanya mengingatkan jamaah.  

Titik Balik, Kebaikan Sedekah dan Salat Berjamaah

Perubahan dimulai saat berteman dengan Gunar, seorang Muslim. Koh Jeffry sering melihat ibu Gunar memberikan makanan gratis setiap hari kepada pelanggan.

“Koh di Islam itu lho namanya sedekah ya,” jawab sang ibu saat ditanya. Kejadian sederhana ini membuatnya penasaran. Ia juga terkesan melihat Gunar berwudhu dan salat di masjid.  

Setelah lulus, ia merantau ke Ambon lalu Lombok. Di sana, ia melihat seorang haji menyediakan air wudhu gratis di rumahnya dekat masjid.

Sikap tanpa pamrih itu semakin membuka hatinya. Akhirnya, pada 2013, Koh Jeffry mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Di masjid, saya merasakan ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya,” katanya, seperti dikutip dari jawapos.com, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga: Kisah Hijrah Max Adam, Pengusaha Rela Mualaf Demi Cinta dan Ketenangan Batin Bersama Wika Salim

Ujian Berat dan Istiqomah di Palu

Tak lama setelah syahadat, ia menikah dengan kakak sahabatnya dan menetap di Palu. Ujian besar datang saat gempa bumi dahsyat Palu 2018.

Rumahnya hanya dua kilometer dari episentrum rusak parah, tapi justru semakin menguatkan imannya. Ia jatuh bangun meninggalkan kebiasaan lama, tapi terus berjuang.

Kini, Koh Jeffry aktif membina mualaf di Sulawesi Tengah. Ia sering jadi pembicara Safari Dakwah BWA, termasuk di Palu yang digelar inklusif dengan penerjemah bahasa isyarat untuk peserta disabilitas.

Bersama tim BWA, ia kembali menyisir Palu untuk mendampingi mualaf baru, termasuk pasangan suami-istri yang baru syahadat.

Koh Jeffry mengajak umat mensyukuri nikmat Islam dan istiqomah. Melalui Mualaf Center Sulteng, ia terus mendampingi ratusan mualaf di Palu, Poso, dan sekitarnya. (C)

Penulis: Merdiyanto  

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga