adplus-dvertising

Rasulullah Melarang Meminta Jabatan, Ini Alasannya

Haerani Hambali, telisik indonesia
Sabtu, 29 Januari 2022
4627 dilihat
Rasulullah Melarang Meminta Jabatan, Ini Alasannya
Jabatan adalah amanah yang akan membuat orang akan menyesalinya di hari akhir nanti, kecuali orang yang amanah. Foto: Repro idntimes.com

" Rasulullah enggan memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan dan rakus "

KENDARI, TELISIK.ID - Ada banyak kemudahan yang bisa didapatkan dengan sebuah jabatan. Tapi jika hanya melihat dari sisi kenikmatan duniawi, tentunya semua orang pasti menginginkan jabatan.

Namun jika melihat sisi negatifnya, maka semua orang akan takut jika diberi jabatan. Pemahaman yang seperti inilah yang dicapai oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.  

Mereka mengasingkan diri dan sebagian lagi menghadap langsung untuk menyatakan ketidaksiapannya menerima jabatan. Mereka khawatir keimanan dan kesalehannya akan terkikis oleh fitnah kekuasaan itu akibat timbulnya penyakit hati seperti sombong dan pamer.


Melansir Republika.co.id, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadis melarang umatnya untuk meminta jabatan. Rasulullah enggan memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan dan rakus.

Dalam hadis lainnya Rasulullah juga mengatakan bahwa pada hari kiamat jabatan adalah kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang yang mengambil jabatan dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar.

Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku, "Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan." (HR Muslim).

Abu Musa dia berkata, "Saya dan dua orang anak pamanku menemui Nabi SAW, salah seorang dari keduanya lalu berkata, 'wahai Rasulullah angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang telah diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadamu.' Dan seorang lagi mengucapkan perkataan serupa."

Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan bagi orang yang meminta dan yang rakus terhadapnya." (HR Muslim).

Abu Dzar berkata, "Wahai Rasulullah tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat). Abu Dzar berkata, "Kemudian beliau (Rasulullah) menepuk bahuku dengan tangan."

Kemudian Rasulullah bersabda, "Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar." (HR Muslim).

Dikutip dari Umma.id, dikisahkan, ketika Yazid bin Muhallab menjadi gubernur di Khurasan, ia mengatakan kepada stafnya,”carikan untukku seorang lelaki yang sempurna perilaku dan karakternya.” Mereka pun menyebut nama Abu Burdah al Asya’ri. Lalu sang gubernur segera menemui Abu Burdah.

Baca Juga: Mau Berkumpul Bersama Keluarga di Surga? Ini Syaratnya

Betul apa yang dikatakan stafnya. Bahkan ia melihat sosok Abu Burbah jauh lebih baik dari yang didengarnya sehingga sang gubernur langsung mengangkatnya jadi pejabat. Tapi apa yang terjadi? Abu Burdah menolaknya dan berkata,”Tidakkah aku kabarkan kepadamu hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ”Siapa yang memikul satu pekerjaan padahal ia tahu dirinya bukan ahli dalam pekerjaan itu maka siapkanlah baginya neraka, dan aku bersaksi bahwa aku tidak ahli pada jabatan yang engkau berikan (Aina Nahnu min Akhlaissalaf, 39).

Pada zaman itu, menolak jabatan sering dilakukan oleh para sahabat jika mereka merasa tidak mampu untuk amanah. Mereka lebih takut kepada tanggung jawab yang tidak bisa mereka pikul dan keimanan yang mungkin akan semakin menipis akibat godaan duniawi.

Hukum menolak jabatan dalam Islam, jika ia tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam jabatan tersebut, maka hukumnya boleh. Tapi jika ia mempunyai kemampuan dan niat yang baik untuk kemajuan yang baik sesuai syariat Islam, maka hukumnya tidak boleh.

Ia harus mengisi posisi jabatan yang ditawarkan tersebut, karena ditakutkan jika ia menolak jabatan dan posisi tersebut, justru diisi oleh orang yang tidak mampu dan bodoh, sedangkan bahaya kebodohan dalam Islam adalah akan terjadi kerusakan.

Baca Juga: Wajib Anda Tahu, Ternyata Ini Hikmah di Balik Rasa Lapar

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat.” Kemudian ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanat?’ Beliau menjawab, ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat’.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 59).

Hendaklah menerima jabatan hanya yang sesuai dengan kemampuan, jangan memaksakan diri menerima bahkan meminta jabatan demi kenikmatan duniawi karena pertanggungjawabannya sangat berat di hari akhir kelak. (C)

Reporter: Haerani Hambali 

Baca Juga