Sosok Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa: Bangun Gereja Raksasa di Negara Islam, Mesra dengan Israel
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 03 April 2025
0 dilihat
Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa pemimpin monarki dengan kebijakan toleransi tinggi. Foto: Repro Islam Times.
" Gereja Katolik di Bahrain, Cathedral of Our Lady of Arabia, terus menjadi perhatian publik "


MANAMAH, TELISIK.ID - Gereja Katolik di Bahrain, Cathedral of Our Lady of Arabia, terus menjadi perhatian publik. Gereja ini berdiri megah di tanah seluas 9.000 meter persegi yang merupakan hibah dari Raja Bahrain, Hamad bin Isa al-Khalifa.
Katedral tersebut diresmikan pada tahun 2021 setelah proses pembangunan yang berlangsung selama delapan tahun. Katedral ini memiliki kapasitas besar, mampu menampung hingga 2.300 jamaah dalam satu waktu.
Keputusan Raja Bahrain membangun gereja ini menunjukkan komitmen kerajaan terhadap toleransi dan keterbukaan dalam beragama. Hal ini sejalan dengan kebijakan kerajaan yang menghargai keberagaman keyakinan di negara tersebut.
"Kerajaan al-Khalifa memiliki tradisi panjang toleransi beragama dan terbuka terhadap dialog antaragama," seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (3/4/2025).
Hamad bin Isa bin Salman Al Khalifa telah memimpin Bahrain sejak tahun 2002. Ia naik takhta menggantikan ayahnya, Sheikh ?Isa ibn Salman Al Khalifah, yang wafat pada tahun tersebut.
Baca Juga: Israel Kembali Bombardir Warga Palestina Usai Idul Fitri, Puluhan Nyawa Hilang
Setelah menjadi raja, Hamad memperkenalkan konstitusi baru yang mengubah Bahrain menjadi monarki konstitusional.
Konstitusi yang diumumkan pada 2002 itu mencakup ketentuan tentang hak-hak sipil warga Bahrain. Meskipun demikian, konstitusi tersebut tetap mempertahankan dominasi keluarga kerajaan dalam pemerintahan.
Sistem parlemen yang dibentuk masih memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsi legislatifnya.
Raja Hamad lahir pada 28 Januari 1950 dan mengenyam pendidikan di Inggris. Ia pernah belajar di The Leys School, Cambridge, dan melanjutkan pelatihan militer di Mons Officer Cadet School di Aldershot.
Pada 1968, Hamad kembali ke Bahrain dan berperan dalam pembentukan Angkatan Pertahanan Bahrain.
Saat Bahrain merdeka pada 1971, Hamad ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan. Dalam perannya ini, ia bertanggung jawab atas pengembangan angkatan bersenjata Bahrain.
Ia juga menerima pelatihan militer di Amerika Serikat pada awal 1970-an untuk meningkatkan kemampuannya dalam strategi pertahanan.
Sebagai Menteri Pertahanan, Hamad mengawasi perluasan militer Bahrain, termasuk pembentukan angkatan udara negara tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Bahrain meningkatkan kerja sama pertahanan dengan negara-negara lain.
Baca Juga: Gempa Myanmar-Thailand Renggut Nyawa 1.600 Lebih, Megathrust 13 Titik di Tanah Air Tinggal Tunggu Waktu
Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat posisi Bahrain di kawasan Timur Tengah. Pada September 2020, Hamad mengambil keputusan penting dalam kebijakan luar negeri negaranya.
Ia menormalisasi hubungan Bahrain dengan Israel, menjadikan Bahrain sebagai negara Arab kedua yang melakukannya setelah Uni Emirat Arab. Keputusan ini diambil dalam konteks perjanjian yang difasilitasi oleh Amerika Serikat.
Meski telah menjalin hubungan dengan Israel, Hamad menegaskan kembali dukungannya terhadap solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina. Ia menyatakan bahwa Bahrain tetap berkomitmen pada upaya perdamaian yang berkeadilan bagi semua pihak yang terlibat. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS