Uang Mahar Wanita Cantik Palestina Tak Masuk Akal, Hancurkan Impian Pria Menikah

Ibnu Sina Ali Hakim, telisik indonesia
Minggu, 12 November 2023
0 dilihat
Uang Mahar Wanita Cantik Palestina Tak Masuk Akal, Hancurkan Impian Pria Menikah
Masalah mengenai uang mahar yang terlalu tinggi tentunya tidak terlalu asing di Indonesia. Namun, pernahkah membayangkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di Palestina. Foto: Pinterest

" Masalah mengenai uang mahar yang terlalu tinggi tentunya tidak terlalu asing di Indonesia. Namun, pernahkah membayangkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di Palestina "

GAZA, TELISIK.ID - Masalah mengenai uang mahar yang terlalu tinggi tentunya tidak terlalu asing di Indonesia. Namun, pernahkah membayangkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di Palestina.

Wilayah yang mengalami konflik berkepanjangan dan kondisi sosial ekonomi yang buruk akibat blokade dari Israel tersebut, masalah uang mahar yang terlalu tinggi juga muncul.

Bedanya, jika di Indonesia tingginya uang mahar terkadang masih bisa dipenuhi oleh banyak orang, tidak demikian dengan di Palestina. Para orang tua gadis seolah melupakan kondisi sosial ekonomi Palestina saat mematok biaya mahar dan pernikahan.

Apalagi, jika dikaitikan dengan rata-rata penghasilan para pemuda di Palestina yang sangat pas-pasan. Angkanya akan sangat jomplang dengan besarnya biaya mahar.

Baca Juga: Mudahkan Turis Mendaki, China Bangun Eskalator di Gunung

Qandeel telah lulus dari universitas di bidang pemasaran pada 15 tahun yang lalu. Akan tetapi, hingga saat ini, ia belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bidang studinya.

"Selama kuliah, saya dulu bekerja untuk membayar biaya kuliah saya sendiri. Setelah lulus, saya memulai perjalanan mencari pekerjaan yang membuatku frustasi, tetapi tidak pernah berhasil," kata Qandeel, dikutip dari MEE.

Seiring berjalannya waktu, harapan Qandeel untuk memiliki penghasilan tetap, apartemen, dan seorang pendamping hidup kian pupus.

"Ayah saya sudah tua dan sakit. Saya berjuang bersama saudara lelaki saya agar seluruh keluarga tetap bisa makan," kata dia.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya itu, ia mengambil beberapa pekerjaan berbahaya di bidang konstruksi.

Akibat kerja keras yang berkepanjangan itu, Qandeel harus menjalani dua operasi. Ia pun tidak diperbolehkan lagi melakukan aktivitas fisik yang intens. Kondisi tertsebut semakin membuatnya tenggelam dalam keputusasaan dan mengubur dalam-dalam impiannya tentang pernikahan.

Sementara itu, Mahmoud al-Leli, seorang pemuda berusia 27 tahun, mengatakan, ia sangat mencintai gadis di lingkungan terdekatnya.

"Aku sangat mencintainya, dan aku sudah lama bermimpi bahwa kami akan bersama selamanya. Tapi sepertinya cita-citaku itu terlalu tinggi," kata Mahmoud dilansir dari Grid.id.

Mahmoud tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Mereka masih bergantung pada bantuan yang diberikan oleh The United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA).

Meski tak memiliki pendapatan yang cukup, Mahmoud meyakinkan ayahnya untuk menikahi gadis impiannya itu.

Ia dan keluarganya melakukan upaya terbaik untuk melamar gadis itu dengan mengajukan mahar sebesar 2.200 dollar AS dan menawarkan tempat tinggal di satu ruang di rumahnya hingga situasi di Gaza membaik.

"Awalnya, ayah gadis itu masih mempertimbangkan jumlah mahar itu. Tetapi ketika ia mengetahui bahwa ayah saya mendapatkan uang itu dari pinjaman, ia kemudian marah," kata Mahmoud.

Ayah gadis pujaannya itu pun menolak lamaran Mahmoud dan memupuskan impian kedua pemuda tersebut.

Qandeel dan Mahmoud menjadi representasi dari penurunan angka pernikahan di Gaza.

Kepala Dewan Pengadilan Tinggi Gaza, Sheikh Hassan al-Jojo mengatakan, jumlah pernikahan telah menurun setidaknya 10 persen setiap tahun.

"Pada 2018, pengadilan kami menerima 15.392 pengajuan pernikahan, sedangkan pada 2017 kami menerima 17.367. Di tahun 2016, kami menerima 19.248 pengajuan. Ini berarti bahwa setiap jumlah itu berkurang sebanyak 2.000," kata Hasan al-Jojo.

"Semakin banyak pemuda Palestina yang gagal mencapai impian mereka untuk menikah dan memiliki anakn. Kami sangat prihatin dengan penurunan angka ini," lanjut dia.

Baca Juga: Bakal Dibawa ke Pengadilan Internasional, Ini Deretan Pelanggaran Berat Israel di Palestina

Qandeel dan Mahmoud menjadi representasi dari penurunan angka pernikahan di Gaza.

Kepala Dewan Pengadilan Tinggi Gaza, Sheikh Hassan al-Jojo mengatakan, jumlah pernikahan telah menurun setidaknya 10 persen setiap tahun.

"Pada 2018, pengadilan kami menerima 15.392 pengajuan pernikahan, sedangkan pada 2017 kami menerima 17.367. Di tahun 2016, kami menerima 19.248 pengajuan. Ini berarti bahwa setiap jumlah itu berkurang sebanyak 2.000," kata Hasan al-Jojo.

"Semakin banyak pemuda Palestina yang gagal mencapai impian mereka untuk menikah dan memiliki anak. Kami sangat prihatin dengan penurunan angka ini," lanjut dia. (C)

Penulis: Ibnu Sina Ali Hakim

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga