UHO Dipercaya Susun Kajian Gizi Wilayah Terpencil, BGN Target Pemerataan Akses Pangan
Ana Pratiwi, telisik indonesia
Minggu, 12 April 2026
0 dilihat
Foto bersama jajaran Badan Gizi Nasional dan Universitas Halu Oleo usai penandatanganan kontrak dan pembahasan rencana kerja penyusunan kajian tipologi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terpencil, di ruang senat UHO. Foto: Ist.
" Universitas Halu Oleo (UHO) dipercaya Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyusun kajian strategis tipologi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terpencil guna mendorong pemerataan akses pangan bergizi secara nasional "

KENDARI, TELISIK.ID - Universitas Halu Oleo (UHO) dipercaya Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyusun kajian strategis tipologi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terpencil guna mendorong pemerataan akses pangan bergizi secara nasional.
Penunjukan ini menegaskan kapasitas riset UHO dalam menjawab persoalan ketimpangan gizi, khususnya di daerah dengan akses terbatas dan distribusi logistik yang sulit dijangkau.
Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UHO, Dr. Herman, mengatakan tugas tersebut bukan sekadar kerja akademik, melainkan amanah dengan dimensi kemanusiaan yang besar.
“Wilayah terpencil memiliki persoalan kompleks, mulai dari akses yang terbatas, distribusi logistik yang sulit, hingga rentang kendali pelayanan yang luas. Kajian ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rapat di ruang senat UHO, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: UMKendari Raih 20 Hibah Nasional 2026, Perkuat Hilirisasi Riset dan Pemberdayaan Masyarakat
Ia menegaskan, pemerataan akses gizi merupakan hak seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Keterlibatan UHO dinilai menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah memastikan setiap warga memperoleh pangan bergizi secara adil.
Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Prof. Sitti Aida Adha Taridala, menyebut kajian tersebut ditargetkan menghasilkan rekomendasi kebijakan serta skema pelaksanaan program makanan bergizi gratis.
Menurutnya, UHO dipilih karena memiliki kekuatan riset di bidang pedesaan, pesisir, dan kelautan, serta didukung sumber daya akademik yang memadai.
“Dengan dukungan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, kami optimistis hasil kajian ini akan komprehensif dan aplikatif,” jelasnya.
Selain UHO, BGN juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi lain seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Institut Pertanian Bogor, sesuai bidang keahlian masing-masing.
Kerja sama ini menggunakan skema swakelola tipe II yang dinilai lebih efektif mempercepat pelaksanaan program. Kontrak kerja sama telah ditandatangani sebagai langkah awal dimulainya kajian.
Baca Juga: Akhir Pekan di The Park XXI: Pilihan Film Menarik untuk Warga Kendari
Program ini dilatarbelakangi masih tingginya persoalan gizi di Indonesia, termasuk angka stunting dan rendahnya kebiasaan sarapan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 60 persen masyarakat Indonesia tidak sarapan, yang berpotensi memperburuk status gizi, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Melalui kajian ini, UHO akan mengidentifikasi tipologi wilayah terpencil, merumuskan sistem distribusi logistik yang efisien, hingga mengembangkan model pengelolaan SPPG berbasis potensi lokal.
Selain itu, kajian juga mencakup penyusunan sistem monitoring dan evaluasi berbasis data lapangan, sekaligus mendorong penguatan ekonomi desa melalui optimalisasi sumber daya lokal.
Pemerintah menargetkan hasil kajian ini mampu membuat program pemenuhan gizi lebih tepat sasaran, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga dapat menjangkau masyarakat hingga ke wilayah paling terpencil di Indonesia. (Adv)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Ahmad Jaelani
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS