Unik: Dari Abad ke-13, Masjid Ini Dibangun dari Lumpur

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 01 Maret 2026
0 dilihat
Unik: Dari Abad ke-13, Masjid Ini Dibangun dari Lumpur
Masjid agung Djenné memiliki arsitektur unik karena terbuat dari lumpur. Foto: Repro Instagram @bradtguides

" Masjid Agung Djenne, yang terletak di kota Djenné, Mali, Afrika Barat, merupakan salah satu ikon arsitektur paling unik di dunia "

DJENNE, TELISIK.ID - Masjid Agung Djenné, yang terletak di kota Djenné, Mali, Afrika Barat, merupakan salah satu ikon arsitektur paling unik di dunia.

Bangunan ini dikenal sebagai struktur adobe (lumpur) terbesar di dunia, dengan gaya arsitektur Sudano-Sahelian yang menggabungkan elemen Islam dan tradisi Afrika Sub-Sahara.

Dibangun pertama kali sekitar abad ke-13, masjid yang ada sekarang merupakan hasil rekonstruksi pada tahun 1906-1907 oleh arsitek Ismaila Traoré, menggunakan bahan tradisional seperti bata lumpur kering matahari (ferey), mortar dari pasir dan tanah, serta lapisan plester dari campuran tanah liat, sekam padi, dan mentega untuk ketahanan.

Keunikan Masjid Agung Djenné mencakup beberapa aspek menakjubkan:

Bahan Lumpur sebagai Dasar Utama: Seluruh dinding tebal dibuat dari lumpur yang berfungsi sebagai isolator panas alami di iklim Sahara yang panas, dilansir dari IDN Times, Minggu (1/3/2026).

Baca Juga: Unik: Tarawih Berhadiah Rp 300 Ribu Bikin Masjid Sumenep Laksana Konser Musik, Warga Antre Sejak Siang

Batang Kayu Palem (Toron): Batang-batang kayu yang menonjol dari dinding bukan hanya hiasan, tapi juga berfungsi sebagai struktur pendukung dan perancah untuk renovasi tahunan.

Tiga Menara dengan Telur Burung Unta: Puncak menara dihiasi telur burung unta, simbol kesuburan dan keberuntungan dalam budaya Mali.

Sistem Drainase Unik: Atap dilengkapi pipa keramik setengah untuk mengalirkan air hujan, mencegah kerusakan pada dinding lumpur.

Renovasi Tahunan (Crepissage): Setiap tahun setelah musim hujan, ribuan warga Djenné bergotong royong memplester ulang masjid dengan lumpur baru. Acara ini menjadi festival komunal yang memperkuat ikatan masyarakat.

Baca Juga: Deretan Tradisi Unik Menyambut Bulan Ramadan di Indonesia

Melansir Okezone, Minggu (1/3/2026), masjid ini berdiri di atas platform setinggi 3 meter untuk menghindari banjir Sungai Bani, dengan ukuran sekitar 75 x 75 meter dan tinggi menara hingga 16 meter.

Sejak 1988, Masjid Agung Djenné dan Kota Tua Djenné ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, mengakui nilai sejarah, arsitektur, dan spiritualnya sebagai pusat penyebaran Islam di Afrika.

Keunikan ini menjadikan Masjid Agung Djenné bukan hanya tempat ibadah, tapi juga simbol ketangguhan budaya Afrika dalam menghadapi tantangan alam, serta bukti bahwa keindahan arsitektur bisa tercipta dari bahan sederhana seperti tanah dan semangat gotong royong. (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga