Affan, Pesanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
Penulis
Sabtu, 30 Agustus 2025 / 12:29 pm
Suasana pemakaman Affan Kurniawan. Foto: IG/IchwanPersada
JAKARTA, TELISIK.ID - Sejarah negeri ini sering dimulai dari hal-hal yang tampak sepele. Kadang dari sebuah kalimat singkat, kadang dari tawa yang tidak pada tempatnya. Kali ini, ia bermula dari joged para pejabat di Senayan. Musik diputar, tubuh bergoyang, tawa pecah, seolah-olah dunia baik-baik saja.
Padahal, di luar gedung megah itu, rakyat sedang menanggung beban hidup yang semakin mencekik. Bagi mereka yang menonton dari layar gawai, pemandangan itu bukan hiburan, melainkan penghinaan.
Bagaimana mungkin, ketika rakyat sedang gelisah soal harga yang naik, para wakilnya justru bergembira ria? Joged itu akhirnya menjadi simbol: betapa jauhnya jarak antara rakyat dan orang-orang yang katanya mewakili mereka.
Di antara sorot kamera, seorang Wakil Ketua DPR, Adies Kadir, salah menghitung angka tunjangan rumah. Kesalahan angka yang kecil, tetapi bagi rakyat terasa besar. Kesalahan itu mengingatkan pada jurang yang nyata: elit dengan tunjangan mewah, rakyat dengan kontrakan sempit.
Belum selesai rakyat menahan kecewa, Ahmad Sahroni menambahkan luka. Dengan ringan ia menyebut orang-orang yang menggulirkan tagar #BubarkanDPR sebagai “orang tolol.” Kata itu meluncur seperti peluru: cepat, tajam, dan menyakitkan.
Kemarahan pun meletup. Ribuan orang turun ke jalan. Mereka bukan sekadar protes, melainkan meluapkan rasa muak yang menumpuk. Namun suara-suara itu tidak menemukan telinga. DPR tetap bungkam. Tawa sudah terlanjur ditampilkan, kata sudah terlanjur terucap, dan luka publik sudah terlanjur terbuka.
Lalu datanglah aparat dengan cara mereka sendiri. Sebuah kendaraan taktis Brimob menerobos kerumunan. Tidak ada tanda memperlambat, tidak ada isyarat meminta jalan. Yang ada hanya laju ugal-ugalan yang membuka jalan bagi sebuah tragedi.
Malam Berdarah di Pejompongan
Kamis malam itu, Jakarta masih riuh. Jalanan di kawasan Pejompongan dipenuhi suara: teriakan massa, dentum gas air mata, sirene yang meraung di kejauhan.
Di antara kerumunan itu, seorang anak muda melintas. Ia tidak membawa spanduk, tidak menyelipkan orasi, tidak ikut berbaris di belakang pengeras suara. Ia hanya seorang pengemudi ojek online yang sedang mengejar waktu. Namanya Affan Kurniawan.
Usianya baru 21 tahun, umur yang biasanya dipenuhi rencana-rencana panjang: kuliah, cinta pertama, mimpi tentang masa depan. Tetapi hidup telah menempanya lebih cepat. Sejak lulus SMA, ia memilih jalan berbeda. Motor dan aplikasinya menjadi senjata utama, bukan buku kuliah atau toga wisuda.
Dari subuh hingga larut malam, ia bekerja. Setiap tetes keringatnya bermuara pada satu hal: agar ibu dan adik-adiknya tetap bisa makan, tetap bisa bertahan di kontrakan kecil mereka yang hanya berukuran 3x11 meter.
Malam itu, pesanan terakhir menuntunnya ke jalur yang salah. Jalan yang sama sedang dipenuhi ribuan orang dan barisan aparat. Barangkali Affan hanya ingin segera melewati kerumunan, menyelesaikan pekerjaannya, lalu pulang. Tetapi justru di situlah nasibnya bertemu tragedi.

Sebuah kendaraan taktis Brimob melaju. Berat, tinggi, dan dingin. Tidak ada aba-aba, tidak ada tanda untuk berhenti. Affan tak sempat menghindar. Dalam hitungan detik, tubuhnya terbentur keras, lalu dilindas.
Massa histeris. Ada yang berteriak, ada yang menangis, ada yang berusaha menolong. Tetapi roda besi telah merenggut segalanya. Kendaraan itu tidak berhenti, malah terus melaju, meninggalkan darah dan tubuh yang remuk.
Di dalam kendaraan, ada tujuh personel Brimob. Mereka kemudian ditahan. Saat melindas tubuh Affan, kendaraan enggan dihentikan, barangkali karena takut akan amuk massa. Tetapi bagaimana mungkin ketakutan bisa menjadi alasan? Mereka bukan orang sembarangan; mereka dilatih, diseleksi, dan diberi seragam untuk menghadapi risiko.
Namun malam itu, alih-alih melindungi, mereka justru melindas. Keesokan siangnya, sebelum azan Jumat berkumandang, jasad Affan dimakamkan di TPU Karet Bivak. Ribuan orang hadir, mengiringi langkah terakhir seorang anak muda yang sederhana. Di layar aplikasi ojeknya, peta berhenti di titik pemakaman. Orderan terakhir tidak pernah sampai. Yang tiba hanyalah tubuhnya sendiri, terbujur dalam peti.
Affan, Potret Anak Muda dan Luka Kolektif
Affan hanyalah satu dari jutaan anak muda yang berjuang di jalanan kota. Ia tidak terkenal, tidak punya panggung, tidak pernah muncul di televisi. Tetapi justru karena itu, kisahnya menyentuh begitu banyak orang. Sebab di wajah Affan, banyak orang melihat wajah anak mereka, adik mereka, atau bahkan diri mereka sendiri.
Ia bukan aktivis, bukan tokoh politik. Ia hanyalah seorang pekerja yang percaya bahwa hidup bisa diperbaiki dengan kerja keras. Dari pagi hingga malam ia menembus kemacetan, menghirup asap knalpot, menahan panas dan hujan, demi membawa pulang beberapa lembar rupiah. Hidupnya sederhana, tujuannya mulia.
Baca Juga: Bisakah Amandemen Bubarkan DPR? Presiden RI Pernah Lakukan Ini
Namun justru orang seperti Affan yang harus membayar mahal akibat kelalaian dan kesembronoan mereka yang berkuasa. Joged para pejabat mungkin hanya berlangsung beberapa menit, kata-kata merendahkan mungkin hanya keluar dalam satu tarikan napas, tetapi akibatnya menjalar jauh: massa marah, polisi turun, dan seorang anak muda hilang nyawanya.
Tragedi ini bukan hanya kehilangan bagi keluarganya, tetapi juga bagi kita semua. Ia menyingkap betapa rapuhnya keselamatan rakyat kecil. Jika seorang pengemudi ojek bisa mati hanya karena melintas di jalan yang salah pada waktu yang salah, apa jaminan keselamatan bagi orang lain?
Di rumah kontrakan kecil itu, kursi yang biasanya ditempati Affan kini kosong. Ibunya kehilangan anak yang menjadi kebanggaannya, adiknya kehilangan sosok pelindung. Pesanan terakhirnya tak pernah diantar. Yang kembali hanyalah tubuh yang kaku, diletakkan di liang lahat.
Tetapi Affan juga telah menjadi simbol. Simbol tentang jurang yang semakin lebar antara rakyat dan para pemimpinnya. Simbol tentang bagaimana tawa di panggung bisa berubah menjadi tangis di jalan. Simbol tentang bagaimana sebuah kendaraan taktis bisa merenggut nyawa seorang pekerja muda yang bahkan tidak ikut berteriak di barisan demonstran.
Selamat jalan, Affan. Kau mungkin tidak pernah berniat menjadi bagian dari sejarah, tetapi sejarah telah mencatatmu. Namamu akan diingat, bukan hanya oleh keluarga, tetapi oleh banyak orang yang melihatmu sebagai pengingat: bahwa kekuasaan tanpa empati bisa membunuh, dan bahwa nyawa rakyat kecil begitu rentan di bawah roda besar negara. (A)
Penulis: Eka Putri Puisi
Editor: M Nasir Idris
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS