Harga Cabai Rawit di Jawa Timur Tembus Rp 100 Ribu per Kilogram, Ini Penyebabnya

Try Wahyudi Ary Setyawan

Reporter Surabaya

Rabu, 08 Juni 2022  /  12:17 pm

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau harga pasar. Foto: Ist.

SURABAYA, TELISIK.ID - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, tingginya harga cabai rawit di Jawa Timur disebabkan dua persoalan.

Pertama karena tingginya curah hujan yang menimbulkan serangan penyakit pada tanaman. Ini kemudian berdampak pada penurunan produksi dan jadwal tanam cabai mengalami kemunduran.

Di daerah dataran rendah, seharusnya penanaman cabai dilakukan April 2022.

"Namun karena curah hujan yang masih tinggi, akhirnya menyebabkan berkurangnya luas tanam,” kata Gubernur Khofifah di Surabaya, Rabu (8/6/2022).

Tidak hanya ancaman hujan, kata mantan mensos ini, penyebab kedua ialah serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terhadap komoditas cabai. Pada periode April di Jawa Timur, kata Khofifah, terdapat empat serangan, yakni hama lalat buah seluas 32,4 hektare, trips seluas 15,55 hektare, dan kutu kebul seluas 2,21 hektare.

Sedangkan penambahan serangan penyakit virus kuning seluas 34,03 hektare, Antraknose seluas 12,31 hektare, bercak daun seluas 8,4 hektare, dan layu fusarium 2,5 hektare.

Meski begitu, Khofifah tetap optimistis bahwa upaya menurunkan harga cabai rawit dan harga cabai besar di Jatim dapat dilakukan. Secara umum, kontribusi hortikultura strategis Jawa Timur terhadap nasional untuk komoditas cabai besar senilai 9,4% atau menduduki urutan empat nasional. Sedangkan komoditas cabai rawit menyumbang sebesar 41,8% atau yang tertinggi  secara nasional.

"Apalagi, potensi luas tanam komoditi cabai besar di Jawa Timur pada tahun 2021 mencapai 15.398 hektare dengan produksi mencapai 127.429 ton," imbuh Ketum Muslimat NU ini.

Sedangkan di tempat  yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Jawa Timur Hadi Sulistyo menambahkan, perkembangan komoditas cabai rawit pada Januari–Maret tahun 2022 yaitu luas tanam mencapai 14.562 hektare dengan hasil panen mencapai 164.806 ton dan konsumsi sebesar 218.273 ton/kapita/tahun.

Baca Juga: Nasib 29 Esalon II di Muna Ditentukan Lewat Job Fit

Dengan demikian, produksi cabai rawit masih surplus 146.533 ton. Dilanjutkan April sebesar 63?n prognosa pada Mei menunjukkan bahwa luas tanam cabai rawit yaitu sebesar 6.274 ha dengan sasaran produksi sebesar 104.007 ton sehingga diperkirakan mendapatkan surplus sebesar 91.825 ton.

“Kebutuhan cabai rawit untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kurang lebih sebesar 85%-90?n kebutuhan industri sebesar 10%-15?ri total produksi. Secara umum masih terpenuhi,” tandas Hadi.

Sekedar diketahui, lonjakan harga cabai makin tak terkendali. Kini harga komoditas itu mencapai lebih dari Rp 90 ribu. Bahkan, di sejumlah daerah harganya sudah di atas Rp 100 ribu per kilogram.

Baca Juga: Ribuan Personil Dikerahkan Jelang Kedatangan Jokowi dalam GTRA Summit 2022 di Wakatobi

Di berbagai daerah, kenaikan harga cabai rawit memang ugal-ugalan. Di Kota Mojokerto misalnya. Jika pekan lalu masih di kisaran Rp 60 ribu per kilogram, saat ini harganya melonjak di atas Rp 90 ribu.

Contoh lainnya di  Kabupaten Pasuruan, harga cabai bahkan nyaris tembus Rp 100 ribu per kilogram. (B)

Penulis: Try Wahyudi Ari Setyawan

Editor: Haerani Hambali