Cerita Pilu Guru Agus Tetap Bertahan 24 Tahun Honorer, Gaji Kena Efisiensi Tersisa Rp 223 Ribu Sebulan hingga Rela Nebeng Truk k

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 01 Maret 2026
0 dilihat
Cerita Pilu Guru Agus Tetap Bertahan 24 Tahun Honorer, Gaji Kena Efisiensi Tersisa Rp 223 Ribu Sebulan hingga Rela Nebeng Truk k
Guru honorer Agusthinus Nitbani tetap mengajar meski gaji dipotong dan berangkat menumpang truk setiap hari. Foto: Instagram@witsull

" Agusthinus Nitbani tetap mengajar di sekolah dasar meski gaji honorer dipangkas "

KUPANG, TELISIK.ID - Agusthinus Nitbani tetap mengajar di sekolah dasar meski gaji honorer dipangkas, penghasilan tersisa Rp223 ribu, dan berangkat menumpang truk setiap hari.

Nama Agusthinus Nitbani belakangan dikenal publik setelah sejumlah video kesehariannya beredar di Instagram dan TikTok. Guru honorer yang tinggal di Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur itu terlihat berangkat pagi dengan kendaraan seadanya menuju sekolah tempatnya mengajar.

Agus, begitu ia disapa, telah mengabdi selama 24 tahun sebagai guru honorer di SD Negeri Batu Esa. Selama itu pula statusnya tidak berubah. Ia menerima honor sebesar Rp 600 ribu per bulan, namun pembayaran sering kali dirapel sehingga baru diterima setelah beberapa bulan.

Melansir dari Viva, Minggu (1/3/2026), kondisi tersebut membuat pengelolaan kebutuhan rumah tangga menjadi sulit. Agus harus mencukupi kebutuhan istri dan dua anak dengan pendapatan yang jumlahnya terbatas dan waktu pencairannya tidak menentu. Situasi ini ia sampaikan saat berbincang dengan pendiri komunitas kripto, Sulianto Indria Putra.

“Jadi Rp 600 ribu itu juga kebutuhan keluarga dalam sebulan itu tidak cukup sedangkan gaji kami Rp 600 ribu itu 6 bulan baru dikasih. Total ada 4 orang, dua anak 1 istri,” kata dia dikutip dari akun TikTok @TuanmudaSuli.

Pada Juli 2025, honor yang diterimanya kembali berubah setelah adanya kebijakan efisiensi. Jumlah gaji yang sebelumnya Rp 600 ribu dipotong menjadi Rp 223 ribu per bulan. Pemotongan tersebut membuat ruang belanja keluarga semakin sempit karena pendapatan berkurang lebih dari separuh.

Baca Juga: Sosok El Mencho, Bos Kartel Narkoba Tewas Bikin Meksiko jadi Zona Perang

Agus menjelaskan dampaknya secara langsung. “2025 bulan Juli itu gaji dipotong menjadi Rp 223 ribu. Tidak cukup, tambah parah lagi tambah setengah mati, karena gaji kurang dari setengah,” kata dia.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, ia memanfaatkan lahan di sekitar rumah dengan berkebun. Hasil kebun digunakan untuk konsumsi keluarga sehingga pengeluaran dapat ditekan. Aktivitas tersebut dilakukan sepulang mengajar atau pada waktu senggang.

“Berkebun karena kalau untuk kebutuhan hidup ini gaji tidak mencukupi,” kata dia dikutip dari akun Instagram @net.sull.

Selain itu, Agus juga berhemat pada biaya transportasi. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, sementara ongkos kendaraan umum menjadi beban tambahan. Ia memilih menumpang truk yang melintas agar tetap bisa tiba tepat waktu tanpa mengeluarkan biaya.

“Masuknya jam 06.30. Numpang truk lalu keluar tunggu truk lagi di depan numpang ke Batu Esa,” kata dia.

Dalam salah satu percakapan yang terekam video, Agus ditanya apakah pernah terpikir berhenti menjadi guru karena penghasilan kecil. Pertanyaan itu ia jawab singkat dengan alasan yang berkaitan dengan tanggung jawab profesi.

Baca Juga: Profil Umikun Latifah, Perempuan Tangguh dan Disiplin Nahkoda Baru BPKAD Sulawesi Tenggara

“Saya tidak pernah berpikir begitu karena memang saya sudah terlibat dalam dunia pendidikan,” jawab Agus.

Ia menambahkan bahwa perannya sebagai guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan kewajiban membimbing anak-anak di daerahnya.

“Saya juga ingin anak-anak bangsa ini kasih cerdas merdeka, supaya ke depan mereka bisa jadi manusia yang baik untuk mengisi negara ini,” kata dia.

Kisah Agus memperlihatkan gambaran keseharian guru honorer di daerah yang tetap menjalankan tugas mengajar di tengah keterbatasan pendapatan dan sarana. Setiap pagi ia tetap berangkat, masuk kelas, dan mendampingi murid-murid belajar seperti biasa, sementara kebutuhan keluarga dipenuhi melalui berbagai cara yang memungkinkan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga