Minim Lapangan Kerja, Memulung jadi Alternatif Bertahan Hidup

Nadwa Rifada

Reporter

Rabu, 30 Maret 2022  /  5:40 pm

Murni dan kakaknya saat sedang bersiap melanjutkan memulung setelah mengemasi kardus yang selesai dikeringkan. Foto : Nadwa Rifada/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Kota Kendari menjadi salah satu daerah dengan jumlah pemulung yang terbilang banyak.

Tidak jarang, di pagi hari sudah terlihat para pemulung berlalu-lalang dengan sepeda dan gerobak mereka, demi mengumpulkan barang-barang bekas di beberapa titik tempat sampah di pinggir jalan raya.

Tingginya populasi, namun sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia membuat profesi memulung menjadi salah satu pilihan untuk tetap bisa bertahan hidup. Pendapatan setiap bulan yang tidak seberapa pada akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Bagi sebagian besar orang, profesi memulung adalah profesi yang dianggap rendah. Di mata masyarakat, memulung dengan mengais-ngais tempat sampah, mengumpulkan kardus, botol dan barang bekas pakai adalah profesi yang menyedihkan.  

Sekalipun profesi memulung dianggap rendah, sampah-sampah yang kadang dibuang sembarangan oleh orang lain akhirnya dapat terolah dengan baik karena keberadaan mereka.

menjadi hal yang lumrah ketika saat melawati jalan raya, kita dapati pemulung bersama anaknya yang masih kecil dimuat di atas gerobak sambil berkeliling mengumpulkan sampah.

Menjadi hal yang tak wajar ketika anak yang masih belia harus ikut menanggung beban kerasnya kehidupan, ketika semestinya anak-anak seperti mereka mengenyam pendidikan layaknya anak-anak yang lain.

Baca Juga: Pengamen Tunanetra Berhasil Kuliahkan Anaknya Hingga S2 dan Jadi Dosen

Akbar salah satu contohnya, menghentikan pendidikannya demi mengikuti orang tua angkat untuk memulung setiap hari. Saat akan ditanya, akbar menjauh.

"Malu," katanya sambil menjauh.

Selaku orang tua angkat Akbar, Murni (59) menjelaskan, pendidikan untuk anak-anak seusia Akbar itu penting. Namun saat ditanya mengapa pendidikan itu penting, Murni hanya diam saja.

"Pendidikan memang penting, makanya saya mau sekolahkan Akbar, tapi anaknya yang tidak mau. Dia mau ikut saya saja memulung," ungkap Murni saat ditemui, Selasa (29/3/2022).

Begitupula dengan apa yang dikemukakan Panda, salah satu pemulung yang sejak bertahun-tahun lamanya sudah menggeluti profesi itu. Baginya, memulung menjadi satu-satunya cara memperoleh uang sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Miris, ketika mengetahui masih banyak para pemulung belum sepenuhnya memahami arti pendidikan yang sebenarnya, serta mengerti manfaat apa saja yang dapat diperoleh dengan adanya pendidikan. Betapa pendidikan sangat penting untuk anak-anak mereka memperoleh masa depan yang lebih baik.

Baca Juga: Sekeluarga Memulung, Bertahan Hidup dengan Mengais Sampah

Murni adalah satu di antara banyak pemulung yang ada di Kota Kendari. Menyusuri jalan mencari barang dan dan botol bekas menjadi keseharian Murni setiap hari. Sejak pagi sebelum pukul 03.00 Wita dini hari, Murni sudah keluar rumah untuk memulung.

Mall Mandongan manjadi lokasi tempatnya memulung, hal ini dilakukan agar Murni tidak didahului oleh pengangkut sampah, karena mereka juga mulai mengambil sampah yang ada di sekitar mall Mandonga di waktu yang sama.

Murni adalah sosok perempuan tangguh. Sejak lama ditinggal oleh suami menjadikannya tulang punggung keluarga. Meski telah memiliki anak dan berhasil menyekolahkannya hingga selesai, Murni tetap bisa mengangkat Akbar yang masih kecil karena kedua orang tua yang telah tiada. Menjadikannya sosok ibu tangguh dengan segala keterbatasannya.

Murni yang pernah mengalami musibah karena kecelakaan pada akhirnya memperoleh kebaikan dari kemurahan hati seorang tetangga yang berprofesi dokter. Murni ditolong dan dibiayai. Kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun silam, tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap bangkit. Sekalipun sempat berhenti mencari nafkah untuk beberapa saat karena musibah, Murni tidak pantang menyerah dan patah semangat. (A)

Repoeter: Nadwa Rifada

Editor: Kardin