Tarif Buzzer Capai Rp 10 Juta Sekali Trending di Media Sosial

Fitrah Nugraha

Reporter

Selasa, 16 Februari 2021  /  12:03 pm

Ilustrasi buzzer. Foto: Thinkstock via detik.com

JAKARTA, TELISIK.ID - Buzzer di dunia maya atau media sosial saat ini menjadi perbincangan publik. Pasalnya, buzzer saat ini selalu dikaitkan dengan politik, hingga menaikkan pencitraan.

Kehadiran para buzzer biasanya menggunakan akun-akun media sosial yang kerapkali bersifat anonim. Namun tak jarang mereka membuat gaduh dunia maya. Mereka dapat mendengungkan isu tertentu dengan sengaja secara masif, dan memantik netizen untuk bereaksi.

Hal tersebut membuat sebagian masyarakat ingin mengetahui lebih jauh tentang buzzer. Lantas berapa tarif buzzer jika ingin viral di media sosial? 

Melansir Ayosemarang.com, salah satu warga Kota Bandung yang telah berkecimpung di dunia buzzer, Tina (24, bukan nama sebenarnya), memiliki pengalaman baik sebagai pihak yang dibayar maupun membayar jasa para buzzer lainnya untuk mempopulerkan topik tertentu.

Dia membenarkan bahwa buzzer memiliki kemampuan untuk melempar dan membuat viral suatu isu tertentu di dunia maya.

Salah satunya adalah melalui pengaturan trending topic di media sosial Twitter. Kolom trending topic pada umumnya berisikan kata kunci yang tengah banyak diperbincangkan di linimasa Twitter oleh netizen.

Tina memaparkan, beberapa kata kunci dapat muncul secara riil atau organik karena hal populer yang terjadi di masyarakat atau tengah banyak diangkat media massa.

"Misalnya ada artis yang meninggal dunia, itu biasanya kan langsung banyak dibicarakan orang. Banyak yang berduka, nge-twit belasungkawa dan sebagainya," ungkapnya, Senin (15/2/2021).

Baca juga: Teknik Penjualan Solution Selling Bantu Kamu Tahu Kebutuhan Pelanggan

Namun, sebagian kata kunci lainnya dapat muncul melalui 'perbincangan semu' yang diatur sedemikian rupa. Pengaturan tersebut bertujuan untuk mengangkat topik tertentu agar nampak sebagai hal yang seolah-olah tengah banyak diperbincangkan orang.

Hasilnya dapat diukur melalui kata kunci berupa tagar atau hashtag yang bertengger di kolom treding topic dalam kurun waktu tertentu. Kata kunci yang ingin dipopulerkan, ditentukan oleh pihak yang berkepentingan.

"Tarifnya juga beda-beda sih, semakin lama pengen jadi trending topic, semakin mahal tarifnya," ungkapnya.

Dia mengatakan, untuk membuat suatu topik menjadi trending topic, pihak yang berkepentingan atau klien dapat bekerjasama dengan sebuah agensi atau jasa penyedia akun-akun buzzer.

Nantinya, klien dapat menentukan kata kunci apa yang ingin dipopulerkan, berapa lama bertengger di trending topic, dan berapa luas jangkauan netizen yang dapat diraih.

"Sudah dijadwalkan kapan akan ngetwit, nanti penyedia jasa bisa langsung beraksi. Klien mah tau selesai saja, tau-tau sudah ada 2.000-an twit misalnya," ungkapnya.

Berdasarkan pengalamannya, untuk membuat trending topic selama satu sampai dua jam di jangkauan satu kota, dibutuhkan biaya mencapai Rp 10 juta. Pembayaran tersebut umumnya dilakukan dengan sistem down payment.

"Bayar DP dulu, karena bisa saja gagal kalau ada topik lain yang lebih besar seperti ada tokoh meninggal dunia, atau artis Korea nikah misalnya. Kalau sudah ada yang seperti itu, (topik yang diinginkan) bisa saja tenggelam," paparnya.

Bila trending topic ingin dibuat bertengger lebih lama dengan jangkauan yang lebih luas, hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Namun, tarif yang dibutuhkan jelas jauh lebih mahal.

Baca juga: Bulan Depan Mobil Baru Dapat Diskon Pajak 0 Persen, Begini Kriterianya

"Bisa saja sih dibikin trending nomor satu se-Indonesia, tapi tarifnya pasti mahal banget. Akun yang dibutuhkan lebih banyak. Saya enggak tahu besarannya kalau untuk yang itu," ungkapnya.

Lebih lanjut, Tina mengatakan, saat ini membuat dan memelihara akun-akun Twitter bodong untuk menjadi buzzer adalah hal yang cukup sulit.

Pasalnya, dia mengatakan, Twitter beberapa kali sempat melakukan 'pembersihan' akun-akun bodong yang memiliki aktivitas tak wajar atau sudah lama tidak diakses oleh pemiliknya.

Hal itu dapat terjadi karena para buzzer umumnya memiliki lebih dari satu akun untuk dikelola.

Sehingga, sejumlah akun bodong yang kurang aktif digunakan dapat dihapus oleh Twitter. Belum lagi, dia mengatakan, saat ini terdapat kebijakan yang membatasi satu buah akun Twitter untuk dapat melakukan posting dalam sehari.

Alhasil, diperlukan akun-akun alternatif yang dapat berperan sebagai buzzer di luar akun buzzer anonim.

"Biasanya banyak juga yang bikin giveaway atau kuis. Kelebihannya, interaksinya organik karena memang yang ikutan adalah netizen asli. Mereka (netizen) bisa diminta untuk ikutan kuis dengan syarat nge-twit jawabannya dengan menyertakan hashtag tertentu. Nanti yang paling banyak nge-twit, dapat hadiah," paparnya.

Hadiah tersebut, dia mengatakan, adalah hadiah yang nyata. Netizen yang paling banyak melakukan posting jawaban disertai hashtag bisa mendapat hadiah oleh akun penyeleggara kuis. Hadiahnya beragam, dan tak jarang berupa uang cash.

"Hadiahnya ya beneran ditransfer, ada yang ditransfer sampai Rp 500 ribu. Tapi orang itu sebenarnya sudah ikut dimanfaatkan untuk menjadi buzzer," ungkapnya. (C)

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Haerani Hambali

TOPICS