Ternyata Kesalehan Orang Tua Berpengaruh Terhadap Anak

Irawati

Reporter

Senin, 20 Desember 2021  /  6:37 pm

Orang tua yang saleh akan dijaga keturunannya oleh Allah Ta’ala. Foto: Repro dream.co.id

KENDARI, TELISIK.ID - Dalam istilah spiritual, kesalehan adalah sebuah kebajikan yang meliputi pencurahan keagamaan, spiritualitas atau perpaduan keduanya.

Unsur umum dalam kebanyakan pembentukan kesalehan adalah kerendahan hati.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri memberikan dua pengertian untuk kata “saleh.” Pertama, “saleh” adalah taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kedua, “saleh” adalah suci dan beriman. Adapun kesalehan dalam Al-Qur’an dapat ditemukan pada Surah An-Nisa ayat 69 berikut ini:

Artinya, “Siapa saja yang menaati (ketentuan) Allah dan rasul-Nya, niscaya mereka kelak akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh-Nya, yaitu para nabi, kalangan shiddiq, syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka adalah sebaik-baik sahabat." (Surah An-Nisa ayat 69).

Mengutip dari bimbingan.islam.com, kesalehan orang tua memiliki pengaruh terhadap perlindungan Allah untuk anaknya. Contohnya adalah firman Allah SWT dalam surah Al-Kahfi ketika Allah menceritakan kisah nabi Khodir (nama ini lebih kami pilih dibanding “Khidir”) dan Nabi Musa:

“Adapun dinding rumah (yang ditegakkan Khodir) adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menginginkan ketika mereka sampai pada masa kedewasaannya kemudian mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu." (QS. Al-Kahfi : 82).

Mengapa Allah mewahyukan kepada Nabi Khodhir untuk menjadikan dinding anak yatim yang akan roboh tersebut? Karena ayahnya dulu adalah orang yang saleh. Imam Ibnu Katsir berkata:

“Ayat tersebut adalah dalil bahwasanya orang tua yang saleh akan dijaga keturunannya, dan keberkahan ibadahnya akan mengalir kepada mereka di dunia dan akhirat." (Tafsir Ibnu Katsir : 5/187).

Namun, tidak kita pungkiri juga bahwasanya ada orang-orang yang Allah uji dengan anaknya, seperti Nabi Nuh Alaihissalam, betapa kesalehan Nabi Nuh tidak membuat cahaya hidayah menerangi hati anaknya, anaknya tetap kafir, dan ini merupakan ujian yang Allah berikan kepada Nabi Nuh.

Begitu pula, juga ada orang tua yang fajir bahkan kafir, tapi anak-anak mereka menjadi orang yang saleh karena rahmat Allah SWT. Seperti nabi3 Ibrahim Alaihissalam.

Baca Juga: Ini Cara Mendapatkan Syafaat Nabi Muhammad SAW di Hari Akhir

Namun, hal tersebut tidak merubah ketetapan Allah, bahwasanya Allah telah menetapkan kesalehan orang tua adalah sebab baiknya keadaan seorang anak. Dan sebab tetap akan terjadi jika Allah mengizinkannya, sehingga sebuah sebab harus tetap diiringi dengan doa yang terus menerus.

Ini sama halnya dengan peribahasa “rajin pangkal pandai”, itulah sebab yang telah ditetapkan Allah siapa yang rajin dan terus belajar maka ia akan pandai, namun ada beberapa orang yang dia rajin namun tidak juga pandai-pandai.

Begitu pula, obat flu misalkan, beberapa orang minum obat flu, tidak sembuh juga flunya, apakah kita bisa katakan jika obat tersebut diragukan?

Jadi, kesimpulannya segala sesuatu itu memiliki sebab yang Allah tetapkan, namun hasil akhirnya tetap kembali kepada kehendak Allah SWT. Kesalehan orang tua merupakan sebab anak bisa menjadi saleh, namun hasil akhir apakah anak tersebut saleh atau tidak, semua kembali pada kehendak Allah SWT.

Selama ini, kita percaya bahwa bentuk fisik dan beberapa sifat akan diturunkan kepada anak dan cucu. Karena ada pepatah "Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya."

Sehingga, manusia selektif memilih pasangannya agar menghasilkan keturunan anak-cucu yang berkualitas baik fisik dan sifatnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kesalehan juga bisa diturunkan. Artinya, karena kesalehan bapak-ibu atau kakek-nenek, Allah SWT menjaga anak keturunan mereka, dan menjadikan anak dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang saleh.

Mengutip dari muslim.or.id, bisa kita lihat gambaran contohnya dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al Kahfi: 82)

Al-Qurthubi rahimahullahu menafsirkan,

Baca Juga: Keutamaan Membiayai Penuntut Ilmu, Rezeki Melimpah dan Jadi Pahala Jariyah

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menjaga kesalehan seseorang dan menjaga kesalehan anak keturunannya meskipun jauh darinya (beberapa generasi setelahnya). Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga kesalehan pada generasi ketujuh dari keturunannya.”

Bahkan, ada beberapa ulama yang menjelaskan bahwa tidak mesti kesalehan orang tua atau kakek-nenek. Akan tetapi kesalehan kakek buyutnya beberapa generasi sebelumnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [ QS. Ath-Thuur: 21]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan,

“keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua/kakek buyut mereka. Maka, keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Maka, lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak keturunan itu sendiri. Mereka yang disebut ini, maka Allah akan mengikut sertakan mereka dalam kedudukan orang tua, kakek buyut mereka di surga, walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya [kedudukan anak lebih rendah dari orang tua], sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. Akan tetapi, dengan hal ini Allah SWT tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikit pun.” (C)

Reporter: Irawati

Editor: Haerani Hambali