4 Kesalahan Pola Asuh Anak Manja

Haidir Muhari, telisik indonesia
Rabu, 25 November 2020
0 dilihat
4 Kesalahan Pola Asuh Anak Manja
Ilustrasi anak manja. Foto: Repro Kompasiana.com

" Pola asuh yang keliru bisa berdampak buruk terhadap kehidupan anak di masa mendatang. Misalnya memanjakan anak secara berlebihan bisa mengakibatkan anak selalu ingin di-tuan-putri-kan. "

KENDARI, TELISIK.ID - Pola asuh yang diterapkan orang tua amat berpengaruh terhadap kepribadian anak.

Pola asuh yang keliru bisa berdampak buruk terhadap kehidupan anak di masa mendatang. Misalnya memanjakan anak secara berlebihan bisa mengakibatkan anak selalu ingin di-tuan-putri-kan.

Sikap seperti itu bisa menyebabkan anak akan sulit keluar dari zona nyamannya. Padahal kehidupan kerap menuntut setiap orang untuk hidup mandiri, bertanggungjawab, dan persaingan tanpa belas kasihan, serta berbagai masalah lainnya

Disarikan dari laman Herstory, berikut empat kesalahan pola asuh yang menyebabkan anak menjadi manja.

Baca juga: 7 Tips Didik Anak yang Keras Kepala

1. Over protective

Terlalu melindungi anak dari melakukan kesalahan, bisa memicu sifat manja pada dirinya. Perilaku over protective misalnya terlalu melindungi anak dari sesuatu yang dianggap berbahaya.

Sikap semacam itu bisa mencegah anak menjadi pemberani, mandiri, belajar dari kesalahan, dan memecahkan masalahnya sendiri. Sikap itu pun dapat memicu perilaku nakal pada anak dan menggangu kemampuannya untuk berkembang setelah menghadapi tantangan.

2. Ancaman kosong

Melontarkan ancaman kosong pada anak saat merengek atau membuat ulah tidak baik untuk anak. Anak akan merasa dibohongi, sehingga dapat memicu anak untuk terus melakukan kesalahan.

Hal ini seperti diungkapkan oleh dr Hansa Bhargava, dokter anak di Children's Healthcare of Atlanta (AS), bahwa balita dan anak prasekolah dengan mudah memahami perbedaan antara ancaman kosong dan hukuman yang sebenarnya. Sehingga anak, lanjut Bhargava, saat beranjak dewasa, anak bisa berpaling ke tempat lain untuk mendapat bimbingan, karena menilai orangtuanya sebagai sosok yang tak punya otoritas.

Baca juga: 3 Tips Dukung Perkembangan Kognitif dan Fisik Bayi

3. Merajakan anak

Memanggil anak dengan sebutan Tuan Putri, Yang Mulia, Raja, Ratu, dan sebutan lain yang semakna, dapat berakibat fatal. Apalagi jika diikuti dengan selalu memenuhi semua keinginannya.

Anak membutuhkan sosok orangtua yang berwibawa, untuk membimbing dan mendidiknya menjadi lebih baik. Olehnya itu, perlu bagi orangtua untuk menolak beberapa permintaan anak, jika permintaannya tak bisa dipenuhi atau pertimbangan lainnya.

Orangtua juga disarankan untuk memberi hukuman saat anak melakukan kesalahan. Hal ini untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab pada diri anak.

4. Menghamba diri

Ada orangtua yang membiarkan anak berbicara kasar atau membentak saat anak merasa kesal atau marah. Ada yang bahkan sampai dipukuli.

Orangtua harus memberitahunya bahwa kekerasan bukanlah jawaban. Selanjutnya dorong dia untuk mengekspresikan perasaannya denga cara yang lebih baik.

Tidak dibenarkan seorang anak memukul siapa pun, termasuk ayah dan bundanya. Jika terus dibiarkan, bisa menjadikan anak menjadi agresif terhadap orang lain di masa yang akan datang.

Demikian. Segera ubah pola asuh sedari dini, sehingga anak bisa menjadi pribadi ideal dan tidak membuat repot orangtua dan orang sekitar di masa yang akan datang. Semoga bermanfaat. (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Fitrah Nugraha

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga