8 Amalan Ini Tidak Boleh Dilakukan Wanita Haid

Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Jumat, 23 Oktober 2020
0 dilihat
8 Amalan Ini Tidak Boleh Dilakukan Wanita Haid
Pada saat haid, ada beberapa amalan yang tidak boleh dilakukan wanita. Foto: Repro Google.com

" Kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan mengganti salat. "

KENDARI, TELISIK.ID - Menstruasi atau haid merupakan fitrah seorang wanita yang diberikan Allah SWT kepada kaum hawa.

Menstruasi bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari, karena ia adalah alamiah terjadi pada wanita. Sebab, menstruasi adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita.

Siklus ini merupakan proses organ reproduksi wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Persiapan ini ditandai dengan penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh darah. Jika tidak terjadi kehamilan, endometrium akan mengalami peluruhan dan keluar bersama darah melalui vagina.

Seorang wanita ketika sedang menstruasi, ada beberapa amalan yang tidak boleh dilakukan, baik amalan wajib maupun sunnah.

Lantas, apa saja amalan yang dilarang bagi wanita menstruasi? Berikut penjelasan Pengasuh Majelis Nurul Ilmi Kendari, Ustaz Mahyuddin.

Menurut Ustadz Mahyuddin, pada dasarnya haram atas wanita haid apa yang haram atas orang yang junub. Selain itu, diharamkan pula atasnya beberapa perkara lainnya.

Setidaknya ada 8 amalan yang tidak boleh dilakukan oleh wanita haid. Di antaranya adalah salat, puasa, tawaf, membaca Al Quran, membawa mushaf dan menyentuhnya, berdiam di masjid, berhubungan seks dan bersenang-senang di antara pusar dan lutut.

1. Salat

Haram atas wanita haid melakukan salat, berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Fâthimah binti Abî Hubaysy RA yang artinya, “Apabila tiba waktu haid maka tinggalkanlah salat. Apabila telah berlalu maka bersihkanlah darimu darah itu dan salatlah.”

"Haram pula sujud tilawah serta sujud syukur dan tidak sah," tambahnya.

2. Berpuasa

Begitu pun haram atas wanita haid berpuasa. Oleh karena itu, dia tidak berpuasa wajib dan tidak pula puasa sunnah.

Ini berdasarkan riwayat ‘Â`isyah RA, dia berkata, “Kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan mengganti salat.”

Ini menunjukkan, sebelumnya mereka berpuasa. Diriwayatkan oleh Abû Sa’îd al-Khudri RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda tentang wanita ketika ditanya terkait makna kekurangan agamanya, “Bukankah ketika dia haid, dia tidak melakukan salat dan tidak berpuasa."

Baca juga: Bolehkah Berbicara Saat Wudhu?

3. Tawaf

Sedangkan amalan tawaf, lanjut Ustadz Mahyuddin, juga haram atas wanita haid. Berdasarkan sabda beliau kepada ‘Â`isyah RA, “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali bertawaf di Baitullah.”

"Selain itu, tawaf merupakan salat yang memerlukan thahârah, sementara orang yang haid tidak sah darinya thahârah. Tidak wajib atas wanita haid melakukan tawâf wadâ’," lanjutnya.

4. Membaca Al-Quran

Haram pula atas wanita haid membaca Al-Qur`an berdasarkan riwayat Ibn ‘Umar RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah orang yang junub dan tidak pula orang yang haid membaca sesuatu pun dari Al-Qur`an.”

"Adapun jika dia mengucapkannya sebagai bentuk zikir maka itu boleh, sebagaimana boleh baginya membaca Al-Qur`an dalam hati tanpa pelafalan. Boleh pula baginya melihatnya," ujarnya.

Begitupun sebagian ulama kontemporer memfatwakan kebolehan membacanya karena kepentingan pembelajaran dan pengajaran di sekolah-sekolah dan kampus-kampus.

5. Membawa dan menyentuh Al-Quran

Haram atas wanita haid membawa mushaf dan menyentuhnya, berdasarkan firman-Nya Ta’ala, “Tidak menyentuhnya kecuali oleh mereka yang disucikan.” (Al-Wâqi’ah: 79)

"Boleh membawa tafsir yang kata-katanya melebihi kata-kata Al-Qur`an. Boleh pula jika dia membawanya bersama barang bawaan sebagaimana telah dikemukakan saat pembahasan junub," tambah Ustaz Mahyudin.

6. Berdiam diri dalam masjid

Wanita haid juga haram berdiam di masjid sebagaimana orang yang junub, berdasarkan firman-Nya Ta’ala, “Janganlah kalian mendekati salat sedang kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan, dan jangan pula orang yang junub (ke masjid) kecuali sekadar melalui….”(An-Nisâ`: 43).

Hal tersebut juga berdasarkan riwayat ‘Â`isyah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang junub dan tidak pula bagi yang haid.”

Meski demikian, boleh baginya melewati bila berhati-hati untuk mencegah ceceran darah padanya berdasarkan firman-Nya, “kecuali sekadar melalui….”

Sebagaimana juga diriwayatkan oleh ‘Â`isyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Ambilkan aku sajadah kecil dari masjid.” Aku pun berkata, “Sesungguhnya aku haid.” Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan dalam kekuasaannmu.”

Dari Maymûnah RA, dia berkata, “Salah seorang di antara kami membawa sajadah ke masjid lalu menghamparkannya sedangkan dia sementara haid.”

Baca juga: Ciri-Ciri Orang Terkena Santet, dan Doa Penangkalnya Sesuai Ajaran Islam

7.Hubungan seks

Seorang suami haram menggauli wanita, yakni menjimaknya saat haid, berdasarkan firman-Nya, “… maka jangan kalian dekati mereka sampai mereka suci. Apabila telah suci, datangilah mereka sesuai dengan yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Al-mahîdh adalah haid; al-i’tizâl adalah meninggalkan hubungan seks.

Siapa melakukan hubungan seks saat haid secara sengaja, ditakzir, dan dia memohon ampun kepada Allah serta bertobat, dianjurkan untuk menunaikan kafarat dengan mengeluarkan 1 dinar atau setengah dinar kepada orang-orang fakir-miskin (ini dibebankan atas suami secara khusus).

"Karena ini merupakan hubungan seks yang diharamkan akibat hal kotor dan dharar yang ada padanya," imbuhnya.

8.Bersenang-senang di antara pusar dan lutut

Apabila istri sedang haid, maka haram atas sang suami untuk menikmati apa yang terdapat di antara pusar dan lutut.

Ini berdasarkan riwayat ‘Umar RA, dia berkata, “Aku menanyai Nabi SAW, apa yang halal bagi seorang laki-laki dari istrinya yang sedang haid?” Beliau bersabda, “Apa yang ada di atas kain sarung.”

"Juga sebagai bentuk kehati-hatian dari perkara yang menghantarkan kepada hubungan seks," pungkasnya.

Menurut pendapat yang lain, tidak diharamkan menikmati antara pusar dan lutut berdasarkan hadis  Anas RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Lakukan segala sesuatu kecuali nikah. ”

Selain itu, hukum asal adalah kebolehan hingga ada dalil yang jelas. An-Nawawi mengunggulkan pendapat ini. (B)

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga