Asal Kutukan Nyi Roro Kidul dan Kerajaan Gaib Penuh Misteri
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 06 Agustus 2026
0 dilihat
Ilustrasi, sosok Nyi Roro Kidul dalam sebuah pertunjukan budaya yang mengangkat legenda Putri Kadita sebagai penguasa Laut Selatan di hadapan para tamu undangan. Foto: Repro Panjimas
" Legenda Nyi Roro Kidul bermula dari kisah Putri Kadita yang mengalami kutukan "

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Legenda Nyi Roro Kidul bermula dari kisah Putri Kadita yang mengalami kutukan, diasingkan dari istana, lalu dipercaya menjadi penguasa Laut Selatan yang disegani.
Legenda Nyi Roro Kidul merupakan salah satu cerita rakyat yang paling dikenal di Indonesia. Kisah ini hidup dalam tradisi masyarakat Jawa dan Sunda serta terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sosok Nyi Roro Kidul dikenal sebagai penguasa Laut Selatan yang memiliki kedudukan penting dalam berbagai cerita rakyat dan tradisi budaya masyarakat pesisir.
Hingga kini, sebagian masyarakat masih menjalankan ritual penghormatan kepada Nyi Roro Kidul. Tradisi tersebut umumnya dilakukan oleh nelayan dan warga yang menggantungkan hidup dari laut.
Mereka meyakini ritual tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus harapan untuk memperoleh keselamatan saat beraktivitas di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa.
Popularitas kisah Nyi Roro Kidul juga menjangkau dunia seni dan budaya modern. Cerita ini telah diadaptasi ke dalam berbagai film, buku, pertunjukan seni, hingga permainan daring.
Sejumlah karya yang mengangkat kisah tersebut antara lain film Kutukan Nyai Roro Kidul yang dirilis pada 1979 dan Bangunnya Nyi Roro Kidul pada 1985. Sosok Putri Kadita juga menginspirasi karakter dalam sejumlah gim populer yang dikenal masyarakat luas.
Pertemuan Prabu Siliwangi dengan Perempuan Misterius
Melansir dari laman Indonesiakaya, Kamis (6/8/2026), banyak versi menyebut legenda Nyi Roro Kidul berawal pada masa Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dalam cerita tersebut, Prabu Siliwangi VI dikenal sebagai raja yang bijaksana dan memiliki keberanian tinggi. Ia kerap berburu seorang diri tanpa didampingi para pengawal kerajaan.
Pada suatu hari, Prabu Siliwangi berburu hingga masuk jauh ke dalam hutan. Tanpa disadari, ia tersesat dan tidak menemukan jalan kembali menuju kerajaan. Saat malam tiba dan kelelahan mulai dirasakan, sang raja memutuskan beristirahat di tengah hutan.
Ketika sedang beristirahat, muncul seorang perempuan berparas cantik yang menawarkan bantuan. Prabu Siliwangi meminta perempuan itu menunjukkan jalan keluar dari hutan. Namun, perempuan tersebut mengajukan syarat agar sang raja bersedia tinggal bersamanya untuk sementara waktu.
Prabu Siliwangi menerima syarat tersebut. Ia kemudian dibawa menuju sebuah rumah megah yang menyerupai istana. Selama tinggal bersama, sang raja mulai mengenal perempuan misterius itu. Meski demikian, perempuan tersebut tidak pernah menjelaskan asal-usul maupun identitas sebenarnya.
Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya semakin dekat hingga akhirnya menikah. Mereka hidup bersama dalam suasana yang damai dan bahagia. Namun, setelah beberapa lama, Prabu Siliwangi menyadari dirinya telah terlalu lama meninggalkan Pakuan Pajajaran.
Baca Juga: Misteri Kutukan Firaun Terkuak, Jamur Mematikan di Makam Tutankhamun Ternyata Simpan Rahasia Pengobatan Kanker
Dengan izin istrinya, Prabu Siliwangi kembali ke kerajaan. Kedatangannya disambut sukacita oleh rakyat yang sebelumnya mengira sang raja telah meninggal dunia karena tidak kunjung kembali dari perburuan.
Putri Kadita Lahir di Pakuan Pajajaran
Kesibukan mengurus kerajaan membuat Prabu Siliwangi perlahan melupakan kehidupan yang pernah dijalaninya di hutan. Hingga suatu malam, ia mendengar suara tangisan bayi dari luar istana.
Saat mencari sumber suara tersebut, Prabu Siliwangi bertemu kembali dengan perempuan yang pernah menjadi istrinya. Perempuan itu membawa seorang bayi perempuan dan mengungkapkan bahwa bayi tersebut merupakan putri mereka.
Dalam pertemuan itu, perempuan tersebut mengaku sebagai siluman sekaligus penguasa hutan. Sebelum menghilang, ia menitipkan bayinya agar dibesarkan sebagai manusia di lingkungan kerajaan.
Prabu Siliwangi menerima bayi tersebut dan memberinya nama Putri Kadita. Sang putri kemudian tumbuh di lingkungan istana dengan penuh kasih sayang. Seiring bertambah usia, Putri Kadita dikenal memiliki paras cantik serta budi pekerti yang baik.
Kutukan yang Mengubah Nasib Putri Kadita
Ketika Putri Kadita beranjak dewasa, Prabu Siliwangi mulai memikirkan penerus takhta kerajaan karena belum memiliki anak laki-laki. Atas persetujuan Putri Kadita, sang raja kemudian menikahi seorang bangsawan bernama Dewi Mutiara.
Tidak lama setelah pernikahan berlangsung, Dewi Mutiara mengandung seorang bayi laki-laki. Kehadiran calon pewaris kerajaan semula membawa kebahagiaan bagi keluarga kerajaan.
Namun, keadaan berubah ketika Dewi Mutiara mulai merasa cemburu terhadap Putri Kadita. Ia menilai perhatian Prabu Siliwangi lebih banyak diberikan kepada putri sulungnya dibandingkan kepada dirinya.
Dewi Mutiara kemudian meminta agar Putri Kadita diusir dari istana. Permintaan itu ditolak oleh Prabu Siliwangi. Penolakan tersebut membuat Dewi Mutiara mencari cara lain untuk menyingkirkan Putri Kadita.
Menurut legenda, Dewi Mutiara meminta bantuan seorang dukun untuk mengirimkan kutukan kepada Putri Kadita. Tidak lama kemudian, Putri Kadita terserang penyakit kulit yang membuat tubuhnya dipenuhi luka dan borok.
Berbagai tabib dipanggil ke istana untuk mengobati Putri Kadita. Namun, tidak satu pun yang berhasil menyembuhkannya. Kondisi tersebut semakin memperkuat kekhawatiran di lingkungan kerajaan.
Dewi Mutiara kemudian meyakinkan Prabu Siliwangi bahwa penyakit Putri Kadita dapat membahayakan kerajaan. Dengan hati berat, sang raja akhirnya memutuskan mengasingkan putrinya dari istana.
Putri Kadita Menjadi Penguasa Laut Selatan
Putri Kadita meninggalkan Pakuan Pajajaran seorang diri. Ia berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tiba di kawasan Gunung Kombang. Di tempat itu, Putri Kadita memilih bertapa dan mencari ketenangan.
Dalam pertapaannya, ia mendengar suara gaib yang mengaku sebagai ibunya. Suara tersebut memintanya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Selatan untuk memperoleh kesembuhan.
Putri Kadita mengikuti petunjuk itu dan menempuh perjalanan panjang menuju pesisir selatan. Setelah tiba di tepi laut, ia kembali mendengar bisikan yang memintanya menceburkan diri ke dalam ombak.
Meski diliputi rasa takut, Putri Kadita mematuhi petunjuk tersebut. Menurut legenda yang berkembang, setelah menyelam ke laut seluruh penyakit yang dideritanya hilang. Tubuhnya kembali sehat dan parasnya kembali seperti semula.
Tidak hanya sembuh, Putri Kadita juga dipercaya memperoleh kesaktian luar biasa. Ia kemudian memilih menetap di dasar laut dan mendirikan sebuah kerajaan gaib yang berada di wilayah Laut Selatan.
Kerajaan tersebut konon memiliki banyak pengikut yang setia kepada Putri Kadita. Dalam berbagai cerita rakyat, banyak pangeran datang untuk mempersuntingnya. Namun, mereka diwajibkan mengalahkan Putri Kadita dalam pertarungan di tengah ombak Laut Selatan.
Tidak ada satu pun pangeran yang berhasil mengalahkannya. Para pangeran yang kalah bersama pengikutnya kemudian disebut menjadi bagian dari pasukan kerajaan yang dipimpin Putri Kadita.
Baca Juga: Cerita Horor 3 Sahabat Nyasar di Hutan, Temui Masjid Sunyi hingga Dengar Suara Ajaib saat Salat
Sejak saat itu, Putri Kadita dikenal dengan gelar Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul atau Ratu Laut Selatan. Sosoknya menjadi bagian dari berbagai tradisi dan kepercayaan masyarakat yang berkembang hingga sekarang.
Pesan Moral dalam Legenda Nyi Roro Kidul
Legenda Nyi Roro Kidul tidak hanya dikenal karena unsur mistis yang menyertainya, tetapi juga karena pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kisah Putri Kadita menggambarkan seseorang yang menghadapi cobaan berat tanpa memilih jalan balas dendam.
Meski mengalami pengasingan dan perlakuan yang tidak adil, Putri Kadita tetap menjalani kehidupannya dengan keteguhan hati. Sikap sabar dan kemampuannya menghadapi kesulitan menjadi nilai yang kerap dikaitkan dengan cerita tersebut.
Hingga kini, legenda Nyi Roro Kidul tetap menjadi bagian dari khazanah budaya Indonesia. Cerita rakyat ini terus dikenalkan melalui berbagai media dan menjadi salah satu warisan budaya yang masih hidup dalam ingatan masyarakat dari generasi ke generasi. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS