Misteri Kutukan Firaun Terkuak, Jamur Mematikan di Makam Tutankhamun Ternyata Simpan Rahasia Pengobatan Kanker

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 30 Juli 2026
0 dilihat
Misteri Kutukan Firaun Terkuak, Jamur Mematikan di Makam Tutankhamun Ternyata Simpan Rahasia Pengobatan Kanker
Misteri kutukan Firaun terungkap setelah ilmuwan menemukan jamur makam berpotensi menjadi obat kanker. Foto: Repro BBC

" Kutukan Firaun yang melegenda diduga berkaitan dengan jamur di makam Tutankhamun "

KAIRO, TELISIK.ID - Studi terbaru mengungkap kutukan Firaun yang melegenda diduga berkaitan dengan jamur di makam Tutankhamun yang kini berpotensi dikembangkan sebagai terapi kanker.

Kisah tentang kutukan Firaun yang telah dikenal selama lebih dari satu abad kembali menjadi perhatian setelah penelitian ilmiah mengungkap kemungkinan penjelasan baru.

Alih-alih berkaitan dengan unsur supranatural, fenomena tersebut diduga berhubungan dengan keberadaan jamur yang tumbuh di dalam makam kuno dan kini justru menyimpan potensi bagi pengembangan pengobatan kanker.

Perhatian terhadap kutukan Firaun bermula dari penemuan makam Raja Tutankhamun di Lembah Para Raja, Mesir, pada 4 November 1922. Penggalian yang dipimpin arkeolog Inggris Howard Carter itu menghasilkan salah satu penemuan arkeologi paling penting pada abad ke-20 karena makam tersebut masih menyimpan ribuan artefak asli, termasuk topeng kematian emas yang menjadi ikon peradaban Mesir Kuno.

Tidak lama setelah makam dibuka, Lord Carnarvon yang menjadi sponsor ekspedisi penggalian meninggal dunia akibat infeksi. Peristiwa tersebut memicu berkembangnya berbagai cerita mengenai kutukan Firaun.

Sejumlah media Barat saat itu menggambarkan kematian tersebut sebagai pembalasan dari sang Firaun kepada siapa pun yang mengganggu makamnya.

Baca Juga: Sempat Bingung Soal Wujud Tuhan, Gadis Cantik asal Jogja Ini Mantap Jadi Mualaf

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan memberikan sudut pandang yang berbeda. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Chemical Biology pada Juli 2025 mengungkap bahwa jamur Aspergillus flavus, yang dahulu diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan para penggali makam, ternyata memiliki senyawa alami yang berpotensi dimanfaatkan dalam dunia medis.

Tim peneliti dari Universitas Pennsylvania (UPenn) mengidentifikasi kelompok senyawa yang dikenal sebagai ribosomally synthesized and post-translationally modified peptides atau RiPPs. Dalam pengujian laboratorium, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas yang kuat terhadap sel kanker leukemia.

Bahkan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa senyawa yang telah dimodifikasi memiliki efektivitas yang sebanding dengan sejumlah obat kemoterapi yang telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), seperti sitarabin dan daunorubisin.

Qiuyue Nie, insinyur biomolekuler dari Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa temuan tersebut membuka peluang penelitian yang masih sangat luas.

"Walau baru sedikit yang ditemukan, hampir semuanya menunjukkan bioaktivitas tinggi," kata Qiuyue Nie, seperti dikutip dari Kompas, Kamis (30/7/2026).

Ia menambahkan, "Ini adalah wilayah penelitian yang belum banyak dijelajahi namun memiliki potensi luar biasa."

Menurut tim peneliti, keberadaan jamur di lingkungan makam kuno kemungkinan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan orang-orang yang terpapar saat proses penggalian berlangsung.

Meski demikian, temuan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh kisah kutukan Firaun berasal dari jamur, melainkan memberikan penjelasan ilmiah terhadap sebagian peristiwa yang selama ini dikaitkan dengan mitos.

Baca Juga: Cerita Horor 3 Sahabat Nyasar di Hutan, Temui Masjid Sunyi hingga Dengar Suara Ajaib saat Salat

Penelitian tersebut juga menunjukkan bagaimana organisme yang sebelumnya dianggap berbahaya justru dapat menjadi sumber penemuan senyawa baru untuk kepentingan kesehatan. Pendekatan serupa telah banyak digunakan dalam pengembangan antibiotik maupun obat-obatan modern yang berasal dari mikroorganisme.

Meski hasil penelitian dinilai menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa pengembangan senyawa dari jamur Aspergillus flavus masih berada pada tahap awal. Diperlukan serangkaian penelitian lanjutan, mulai dari uji praklinis hingga uji klinis, sebelum senyawa tersebut dapat digunakan sebagai terapi yang aman dan efektif bagi pasien kanker.

Temuan ini sekaligus menghadirkan perspektif baru terhadap legenda kutukan Firaun yang telah bertahan selama puluhan tahun. Jika sebelumnya kisah tersebut lebih banyak dipahami sebagai cerita mistis, penelitian modern menunjukkan bahwa fenomena di baliknya dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmiah.

Selain memperkaya kajian arkeologi, hasil penelitian itu juga membuka peluang baru dalam pengembangan obat antikanker berbasis senyawa alami dari mikroorganisme. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga