Cerita Horor Ninja Bantai 250 Dukun Santet, Korban Guru Agama hingga Muncul Tanda Silang
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 04 Juni 2026
0 dilihat
Pembunuhan dukun santet terjadi ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi dan politik, yang diakhiri jatuhnya Suharto dari kursi presiden serta merebaknya kerusuhan sosial di Jakarta. Foto: Repro Paula Bronstein/Getty
" Lebih dari dua dekade berlalu, rangkaian pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai “dukun santet” di Banyuwangi "

BANYUWANGI, TELISIK.ID - Lebih dari dua dekade berlalu, rangkaian pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai “dukun santet” di Banyuwangi.
Sejumlah wilayah Jawa Timur masih menyisakan trauma mendalam bagi keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya dalam situasi penuh ketakutan dan ketidakpastian.
Peristiwa yang terjadi antara Februari 1998 hingga Oktober 1999 itu berlangsung di tengah krisis ekonomi dan gejolak politik nasional, ketika ketegangan sosial di berbagai daerah meningkat dan situasi keamanan belum sepenuhnya stabil pascareformasi.
Sedikitnya 250 orang dilaporkan menjadi korban dalam rangkaian pembunuhan tersebut. Awalnya, sasaran adalah orang yang dituduh memiliki ilmu hitam atau disebut “dukun santet”, namun kemudian meluas hingga mencakup guru agama, orang dengan gangguan mental, serta warga sipil yang tidak memiliki keterkaitan dengan tuduhan tersebut.
Melansir laporan BBC, Kamis (4/6/2026), di sejumlah lokasi kejadian, keluarga korban menggambarkan adanya tanda-tanda sebelum peristiwa terjadi, seperti tanda silang di rumah warga, lampu yang tiba-tiba padam, serta kedatangan orang tidak dikenal pada malam hari yang menimbulkan kepanikan di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Cerita Horor Sosok Nancy, Hantu Noni Belanda Jatuh Hati dengan Pribumi
“Bapak saya bukan dukun santet, itu fitnah!” demikian kesaksian keluarga korban yang masih mengingat jelas peristiwa tersebut dan menyimpan trauma hingga kini, sebagaimana tercatat dalam sejumlah dokumentasi dan kesaksian warga yang mengalami langsung kejadian itu.
Situasi saat itu diperburuk oleh kepanikan massal dan beredarnya isu di masyarakat. Dalam sejumlah laporan media pada masa tersebut, pelaku digambarkan bergerak cepat, terorganisir, dan sulit dikenali, bahkan disebut mirip “ninja”, yang kemudian memperkuat ketakutan di berbagai daerah.
Wilayah Banyuwangi menjadi titik awal peristiwa sebelum menyebar ke Jember, Bondowoso, Situbondo, Pasuruan, Malang, hingga Pulau Madura, dengan pola kejadian yang serupa di berbagai lokasi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Aisha Bhutta: Mualaf Skotlandia yang Mengislamkan Lebih dari 30 Orang
Dalam perkembangan selanjutnya, sebagian pelaku lapangan berhasil ditangkap dan diproses hukum hingga dijatuhi hukuman pidana. Namun, proses tersebut dinilai belum menjawab pertanyaan utama masyarakat terkait pihak yang diduga menjadi aktor intelektual di balik rangkaian peristiwa tersebut.
Upaya pengungkapan motif dan dalang utama disebut masih menghadapi sejumlah hambatan, baik dari aspek hukum maupun situasi sosial-politik, sehingga berbagai pihak mendorong adanya penelusuran lebih lanjut untuk memperjelas duduk perkara peristiwa tersebut.
Sejumlah kajian hak asasi manusia kemudian menempatkan peristiwa ini sebagai salah satu tragedi kekerasan massal yang belum sepenuhnya terselesaikan dalam catatan sejarah Indonesia modern. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS