Oleh: Indarwati Aminuddin
Ombudsman telisik.id


Seorang perempuan tua, Mak Ina—ia lupa usianya, namun menyebutkan sudah menjadi gadis saat Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan---, artinya kemungkinan usia ia sekitar 70 an tahun, memasuki rumah jabatan bupati Buton Utara, Sulawesi Tenggara. 

Ia sebenarnya tak tahu siapa yang mendiami rumah berwarna putih dengan halaman luas ini. Di punggungnya, sekitar 30 sapu lidi terlilit sarung. Ia memegang 3 sapu di tangan kiri. Penjaga rumah jabatan tidak melarang ia masuk, jadi ia masuk dan berhenti depan beranda. Mengajak si pemilik mengobrol sembari ia menawarkan sapunya. 

Si pemilik rumah, Ibu Hj Sitti Rabiah Abu Hasan, menanyakan harga, proses kerja sapu, alamat perempuan dan sebagainya. Mak Ina mengatakan, ia membuat sekitar 100 sapu lidi sebulan. Ini sapu yang benar benar bagus, ukurannya lebih dari segenggaman tangan, gemuk dan panjangnya cukup membuat punggung tegak saat digunakan. Harga per sapu Rp 10.000. Per hari ia bisa menjual sekitar 1-3 sapu. Dalam sebulan ia bisa mengumpulkan uang Rp 400 ribu dari penjualan sapu, “Yah sekitar Rp 5 juta setahun,” ceritanya.

Mak Ina, berjalan kaki di sepanjang ruas jalan Ereka, Buton Utara, untuk mengumpulkan uang. Dalam keadaan tertentu ia bertemu orang orang baik yang membeli sapu dalam jumlah banyak dan ia di bayar lebih. “Uang akan saya kumpulkan untuk periksa mata di Kendari,” Ia membuka kacamata dan menunjukkan mata kirinya yang dipenuhi selaput putih. “Susah melihat” jelasnya.