Industri Otomotif Jepang Goyang, Tarif Baru AS Bikin Toyota Cs Merugi Triliunan Yen

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 12 November 2025
0 dilihat
Industri Otomotif Jepang Goyang, Tarif Baru AS Bikin Toyota Cs Merugi Triliunan Yen
Industri otomotif Jepang terpukul tarif baru Amerika Serikat, menyebabkan kerugian besar bagi produsen mobil. Foto: Xinhua/Jia Haocheng

" Industri otomotif Jepang menghadapi tekanan besar setelah Amerika Serikat menerapkan tarif baru yang membebani ekspor kendaraan sejak April 2025 "

TOKYO, TELISIK.ID – Industri otomotif Jepang menghadapi tekanan besar setelah Amerika Serikat menerapkan tarif baru yang membebani ekspor kendaraan sejak April 2025.

Kebijakan ini memicu penurunan laba, mempersempit margin keuntungan, dan mengancam stabilitas sektor otomotif yang menjadi salah satu pilar ekonomi Jepang.

Tujuh produsen otomotif besar Jepang, yakni Toyota, Honda, Nissan, Mazda, Mitsubishi Motors, Subaru, dan Suzuki, melaporkan hasil keuangan paruh pertama tahun fiskal 2025 yang menunjukkan penurunan signifikan.

Berdasarkan laporan Nikkei, ketujuh perusahaan tersebut mencatatkan kerugian gabungan mencapai 1,5 triliun yen untuk periode April hingga September, yang sebagian besar disebabkan oleh beban tarif Amerika Serikat.

Baca Juga: Gelap Tanpa Listrik, Warga Gaza Bertahan Hidup di Tengah Reruntuhan Perang

Melansir Xinhua, Rabu (12/11/2025), Nissan, Mazda, dan Mitsubishi Motors tercatat mengalami kerugian bersih, sementara Toyota sebagai produsen mobil terbesar di dunia mencatat penurunan laba operasional sebesar 18,6 persen.

Ini menjadi pertama kalinya sejak krisis keuangan global 2008 Toyota mengalami kerugian operasional di wilayah Amerika Utara.

Selain itu, laba bersih Honda dan Subaru masing-masing menurun 37 persen dan 45 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan tajam tersebut menggambarkan betapa besar dampak tarif baru terhadap daya saing produsen otomotif Jepang di pasar Amerika Serikat.

Kondisi semakin berat karena sebagian besar produsen memilih untuk tidak menaikkan harga jual kendaraan di Amerika Serikat. Langkah ini diambil demi mempertahankan pangsa pasar, namun berdampak pada menipisnya profit karena biaya produksi dan logistik meningkat tajam.

Baca Juga: 250 Tewas dalam Seminggu, Filipina Terhantam Dua Badai Mematikan Berturut-turut

Chief Financial Officer Toyota, Kenta Kon, menyampaikan bahwa meski tarif impor kendaraan Jepang telah diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen, tantangan di lapangan tetap besar. Ia menilai struktur biaya baru yang harus ditanggung perusahaan menyebabkan tekanan berkelanjutan terhadap kinerja keuangan.

Para analis menilai beban tarif ganda yang harus ditanggung produsen Jepang berpotensi menguras sumber daya riset dan pengembangan dalam negeri. Kondisi ini juga dapat memperlambat inovasi serta memperlemah basis industri otomotif Jepang yang selama ini menjadi kekuatan ekspor utama negara tersebut.

Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan ekspor kendaraan ke Amerika Serikat turun 22,7 persen menjadi 2,389 triliun yen selama April hingga September 2025. Volume ekspor juga menurun 2,4 persen menjadi 662.914 unit kendaraan.

Selain kendaraan, total ekspor Jepang ke Amerika Serikat juga mengalami penurunan 10,2 persen menjadi 9,7115 triliun yen. Angka tersebut menunjukkan dampak luas kebijakan tarif terhadap hubungan dagang kedua negara, yang sebelumnya menjadi mitra ekonomi utama di kawasan Asia-Pasifik. (Xinhua)

Penulis: Ahmad Jaelani

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Artikel Terkait
Baca Juga