adplus-dvertising

Ini Dua Pilar Keimanan yang Wajib Diketahui

Irawati, telisik indonesia
Sabtu, 18 Desember 2021
3218 dilihat
Ini Dua Pilar Keimanan yang Wajib Diketahui
Untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kita harus bisa mengamalkan sabar dan syukur. Foto: Repro Republika.co.id

" Sabar dan syukur adalah dua pilar iman, yang dengan keduanya seorang Mukmin akan berhasil mengarungi samudera kehidupan, lulus dari segala cobaan dan ujian "

KENDARI, TELISIK.ID - Kita sebagai manusia biasa tidak pernah terlepas dari ujian dan cobaan. Tak seorang pun yang terlahir ke dunia tanpa mengalami ujian.

Orang yang kaya diuji dengan kekayaannya, apakah ia bersyukur atau kufur. Orang yang hidup dalam keadaan kurang diuji dengan kemiskinannya, apakah ia bersabar atau menempuh cara-cara yang haram agar terlepas dari jerat kemiskinan?

Dengan demikian, sabar dan syukur yaitu dua pilar iman, yang dengan keduanya seorang Mukmin akan berhasil mengarungi samudera kehidupannya, lulus dari segala cobaan dan ujian.


Melansir dari kompas.com, sesungguhnya iman terdiri atas dua bagian, satu bagian adalah sabar, bagian yang lain adalah syukur. Demikian ungkap hadis Rasulullah SAW dari Abdullah bin Mas’ud r.a. Iman tak akan berdiri kokoh apabila salah satu bagian itu lemah. Kedua, bagian itu bak dua sisi dari sebuah mata uang, tidak bisa dipisahkan untuk membentuk sebuah keimanan secara utuh.

Makna sabar

Untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kita harus bisa mengamalkan sabar dan syukur.

Buku yang berjudul 2 Syarat Utama Bahagia Dunia Akhirat: Mengamalkan Sabar dan Syukur Sepanjang Hayat yang diterbitkan oleh Penerbit Qibla (imprint Penerbit Bhuana Ilmu Populer). Buku ini mengupas makna hakiki sabar dan syukur, manfaat, dan keutamaannya.

Lebih lanjut, buku ini juga menunjukkan cara mempraktikkan sabar dan syukur, lengkap dengan kisah-kisah teladan para pengamal sabar dan syukur.

Sejatinya, hakikat sabar bagi jiwa adalah seperti fungsi tali kekang bagi kendaraan. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Sabar adalah kendaraan yang tidak terperosok."

Baca Juga: Mengapa Disunnahkan Makan dengan Tangan Kanan? Ini Hikmahnya

Hal tersebut mengandung makna bahwa jiwa yang dipandu oleh kesabaran, akan terkendali sehingga senantiasa menempuh arah yang benar, tidak tergelincir keluar jalan atau tersesat menempuh arah yang keliru.

Melihat kedudukan penting sabar bagi jiwa dan beratnya melaksanakan amalan ini, tak heran jika pahala yang akan diperoleh oleh orang yang mengamalkannya amatlah besar. Pahala bagi orang yang bersabar itu tanpa batas. Pahalanya seperti air yang mengalir deras.

Demikian Allah SWT menjanjikan pahala bagi orang yang bersabar: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Selain pahala yang besar, Allah SWT pun menjanjikan pertolongan bagi orang-orang yang bersabar. Begitu cintanya Allah kepada orang-orang yang sabar sehingga Dia menyatakan bahwa Dirinya bersama orang-orang yang sabar.

Maka, apabila orang yang sabar akan diserang oleh musuh, maka Allah SWT akan melindunginya dan mengerahkan bala tentara pertolongan-Nya yang sangat kuat.

"Jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda," (QS. Ali Imran: 125).

Makna syukur

Syukur adalah menyadari bahwa tidak ada yang memberi kenikmatan kecuali Allah SWT.  Ar-Raghib Al-Isfahani, seorang pakar bahasa Al-Qur'an, menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an bahwa kata syukur mengandung arti gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.

Kata "syukur" ini berasal dari kata “kasyara” yang berarti "membuka" sehingga ia merupakan lawan dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup, yang salah satu artinya adalah melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Dengan demikian, hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat kufur adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat, antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Bersyukur juga berarti menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya secara lisan, sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an. 

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya," (QS. Adh-Dhuha: 11).

Allah SWT menghubungkan syukur dengan zikir. Orang yang bersyukur kepada-Nya niscaya adalah hamba-Nya yang senantiasa berzikir (ingat) kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku," (QS. Al-Baqarah: 152).

Kedudukan syukur sangatlah penting, karena bersyukur ternyata merupakan indikator keimanan kepada Allah SWT. Salah satu ayat Al-Qur'an menggambarkan sikap bersyukur sebagai penyembahan tunggal kepada Allah SWT. "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik, yang kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya Dia saja yang kamu sembah," (QS. Al-Baqarah: 172).

Bagaimana bersyukur dalam penerapannya?

Menurut Al-Ghazali, cara bersyukur adalah dengan hati, lisan, dan anggota-anggota tubuh lainnya. Syukur dengan hati adalah tidak mengalamatkannya kepada makhluk dan senantiasa menghadirkannya dalam zikir kepada Allah SWT.

Syukur dengan lisan adalah menampakkannya dengan pujian-pujian yang ditujukan kepada-Nya. Adapun dengan anggota-anggota tubuh yang lain adalah dengan menggunakan kenikmatan-kenikmatan Allah SWT di dalam ketaatan kepada-Nya dan merasa takut untuk menggunakannya dalam kemaksiatan.

Melansir dari detik.com, perkataan sabar sering dijumpai di masyarakat. Ketika ada musibah, maka bersabarlah, itu sering disampaikan seseorang pada orang yang mengalami musibah. Maka sabar, kita artikan sebagai sikap tabah menjalani penderitaan saat menghadapi kejadian yang sulit (musibah, sesuatu yang masih dicari jalan keluarnya dan lain lain).

Istilah sabar ini muncul seratus kali dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW. Seperti firman Allah SWT,

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beritakanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang ditimpa musibah, mereka mengucapkan," Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali."

Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah : 155-157 ).

Seorang guru berkata, "Barang siapa tidak memperkuat kesabaran untuk menghadapi kesulitan hidup, ia menjadi lemah." Dan, "Kesabaran bagi iman adalah seperti kepala bagi tubuh. Barang siapa tidak mempunyai kesabaran, berarti tidak mempunyai iman."

Kesabaran dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci penting, tanpa hal ini akan menimbulkan banyak masalah. Satu jam kita bersikap sabar, akan mendapatkan kebahagiaan yang panjang dan jika dalam satu jam nafsu amarah menguasainya akan mengakibatkan kesedihan yang panjang. Sikap sabar bisa menjadikan tameng dalam masa kesulitan dan kemiskinan.

Bagaimana kita harus bersikap agar menjadi seorang Muslim yang baik?

Pertama, berjuang demi iman dan agama;

Kedua, sederhana dalam gaya hidup;

Ketiga, sabar dalam kesulitan.

Kesabaran seseorang akan dibalas dengan kebaikan, jika orang yang bersabar itu tidak menceritakan kesabarannya pada orang lain dan tidak merusaknya dengan "riya."

Seorang pemimpin yang mempunyai kesabaran yang tinggi, Insya Allah akan selalu menemukan jalan keluar saat menghadapi masalah. Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari hendaknya bergaya hidup sederhana, seperti yang telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz.

Dengan sikap tersebut, persoalan dapat diurai dengan detail sehingga akan ketemu solusinya. Gaya hidup sederhana akan menjadikan tameng untuk tidak menjadi bermegah-megahan yang menuruti hawa nafsu, secara otomatis paling tidak akan menghindari pemanfaatan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Akan lebih sempurna jika sikap sabar ini terus diikuti dengan sikap syukur. Ada banyak ayat Al-Qur'an yang berisi tentang keutamaan dan keistimewaan syukur, seperti pada QS. Al-Baqarah : 152,

"Kemudian Kami memaafkan kamu setelah itu, agar kamu bersyukur." QS. Ali-Imran : 144, "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur."

Baca Juga: Akhlak pada Tanaman dan Larangan Menebang Pohon

Orang bersyukur adalah yang meyakini bahwa tidak ada yang memberi nikmat kecuali Allah SWT. Jika, seseorang menyadari bahwa nikmat yang diterima adalah berasal pemberian Allah, maka akan muncul kegembiraan dalam hati dan merasa senantiasa bersama Allah SWT. Dengan begitu, kita akan bersemangat melakukan apapun yang akan melahirkan sikap syukur, baik dengan hati, mulut dan organ tubuh.

Syukur dengan hati adalah selalu menghadirkan zikir dan tidak pernah lupa kepada-Nya. Adapun, syukur dengan mulut adalah menampakkan kebahagiaan atas karunia Allah SWT dengan pujian kepada-Nya. Syukur organ tubuh adalah memanfaatkan nikmat yg diberikan dengan menjaga diri dari kemaksiatan. Menjaga mata dan telinga terhadap perbuatan maksiat.

Dikisahkan Rasulullah SAW pernah bertanya kepada seorang sahabat, "Bagaima kabarmu pagi ini? Orang itu menjawab, "Baik" Rasulullah SAW mengulangi pertanyaannya, dan sahabat itu pun mengulangi jawabannya, sehingga pada kali ketiga ia menjawab, "Baik." Segala puji hanya milik Allah SWT dan aku bersyukur pada-Nya." Lalu, Rasulullah SAW menjawab, "Inilah yang aku maksudkan darimu."

Bahwa setiap saat kita bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya, adalah keharusan seorang hamba. Nikmat dalam kehidupan sehari-hari yang tentunya tidak akan bisa dihitung karena banyaknya kenikmatan yang diberikan Allah SWT.

Sabar dari berbagai macam jenisnya adalah puncak dalam ubudiyah. Bahwa sabar adalah setengah bagian dari iman, sementara setengah bagian yang lain adalah syukur.

Semoga kita, sebagai seorang Muslim senantiasa bersabar dan terus bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah SWT telah berikan kepada kita. Meskipun sedikit dengan bersyukur dan terus bersabar Insya Allah kehidupan kita akan bahagia dengan menerapkan sabar dan selalu bersyukur di dalam kehidupan ini. (C)

Reporter: Irawati

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga