adplus-dvertising

Jatuh Bangun Langkah Politik Ali Mazi

M Nasir Idris, telisik indonesia
Jumat, 31 Januari 2020
7670 dilihat
Jatuh Bangun Langkah Politik Ali Mazi
Ali Mazi, SH. Foto: Istimewa

" "

Dalam pemilihan gubernur November 2002, Ali Mazi, SH mendobrak percaturan politik Sultra. Ia mampu mendapat dukungan 24 suara, yang mengantarkannya menjadi orang nomor satu di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pada 18 Januari 2003, Ali Mazi pertama kali ditetapkan sebagai Gubernur Sultra definitif periode 2003-2008. Ia berhasil memenangkan pertarungan bersama wakilnya Drs. H. Yusran Silondae melalui pemilihan DPRD Sultra.  Saat memerintah, Ali Mazi mengedepankan ekonomi rakyat yang dikenal dengan konsep Stelsel Masyarakat Sejahtera (SMS) menuju Sultra Raya 2020.

Dalam konsep itu, empat pendekatan Sultra Raya 2020 meliputi, pembangunan sebagai proses perubahan kebudayaan dan peradaban, pembangunan berporos kepentingan sosial ekonomi kerakyatan, pembangunan berbasis investasi dan pembangunan birokrasi.


Sayang, belum banyak yang dilakukan Ali Mazi, ia sempat tersandung hukum sehingga sempat dinonaktifkan tahun 2006. Wakil Gubernur Yusran Silondae kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sultra.  Namun, Ali Mazi kembali memegang amanah sebagai gubernur definitif di akhir 2007 pasca kasus hukum yang melilitnya berakhir.

Karya spektakuler di periode Ali Mazi hingga kini bisa dinikmati adalah melalui pembangunan Bandara Haluoleo dan Pelataran MTQ. Karya monumental ini melekatkan Ali Mazi di hati masyarakat Sultra.

Ali Mazi bersama istri Agista. foto isimewa

Bagi Ali Mazi, menjadi gubernur di tanah kelahirannya, Sultra, merupakan cita-cita yang dipendamnya sejak ia menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Ia akan kembali kalau jadi gubernur,  begitu tekad lelaki yang memulai karirnya sebagai pengacara di Yogyakarta itu.  Dan, jika ia kembali, katanya, ia akan membangun Sultra seperti impiannya, dan itu harus dengan konsep pembangunan yang jelas.

Lelaki kelahiran Pasar Wajo, Kabupaten Buton, 25 November 1961, itu memang sempat menimbulkan tanda tanya di masyarakat Sultra.  Sebab, ia tak sepopuler para calon lain. Toh, semua itu bukan hambatan berat baginya.  Sebab, sebelumnya, Ali telah memberikan perhatian terhadap berbagai kendalan pembangunan di Sultra.  Terutama, mengingat Sultra merupakan daerah kepulauan, maka sektor perhubungan menjadi sangat penting.

Untuk itulah ia kemudian menginvestasikan pengoperasian kapal cepat pada tahun 1996 di wilayah Sultra. Pengoperasian kapal cepat tersebut bukan hanya menghubungkan antarpulau di Sultra, tetapi juga menghubungkan provinsi Sultra dengan provinsi Sulawesi Selatan.

Menelusuri kehidupan lelaki bertubuh gempal, ini memang tak terlampau instimewa. Artinya, perjalanan hidupnya hamapir sama dengan perjalanan hidup orang kebanyakan. Semuanya berjalan begitu saja bagaikan air yang mengalir.

Ali Mazi adalah anak pertama dari tujuh bersaudara, dari pasangan H. La Ode Ali Bina dan Hj. Wa Nazia, Ayahnya karyawan PT. Antam Pomalaa. Kakeknya bernama La ode Zainuddin atau dikenal dengan nama La Ode Usman, dan biasa disapa Aba.

Menamatkan SD dan SMP-nya di Pasar Wajo (1974-1977), Ali kemudian melanjutkan studinya di SMU 1 Baubau dan tamat di SMU 1 Baubau. Usia SMU (1981), nalurinya untuk merantau dan meraih cita-citanya di tanah Jawa, pun timbul.  Tujuan Ali merantau ke Kota Gudeg itu adalah untuk melanjutkan pendidikan tinggi, tepatnya di Jurusan Ilmu Hukum Universitas Proklamasi ’45 Yogyakarta.

Di kampus itulah, bakat kepemimpinannya makin terasah.  Pengalaman organisasi diawalinya di HMI Korkom Universitas Proklamasi ’45 Yogyakarta. Tak lama kemudian, ia terpilih menjadi ketua umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum. Sementara, semasa kuliah, sejak 1983, ia sudah aktif bergiat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Dan, begitu merampungkan kuliahnya (1988), iapun berangkat mendobrak Jakarta. Ibu kota Republik Indonesia tersebut dianggapnya lebih menjanjikan, terutama dengan berbekal ijazah sarjana hukum.

Keluarga besar ALI Mazi. foto istimewa

Seketika, ayah enam anak, diantaranya Aldo Muhammad Hakim, Alfin Akawijaya Putra dan Alfian Taufan Putra, itu menjadi pengacara handal di tingkat nasional, karena reputasinya menyelesaikan kasus-kasus berskala besar. Itulah sebabnya, namanya kerap muncul di media massa nasional.

Seiring dengan itu, Ali Mazi dipercaya pula untuk memangku jabatan sebagai penasehat hukum Asosiasi Pedagang Kaki Lima se-Indonesia atau yang lebih dikenal dengan APKLI. Bukan hanya itu saja, ia juga memasang dada membela sektor informal yang menjajakan dagangannya di tempat-tempat umum.

Keluarga besar ALI Mazi. foto istimewa

Sukses di organisasi sosial, pria beristrikan Agista Ariayani, ini beralih bisnis ke yang lebih cerah lagi. Karena itu, ia pun menjabat direktur usaha perkapalan nasional, yakni Dirut PT Daka Putra Rekatama, PT Daka Lima Nusantara, dan PT Daka Lintas Samudra.  Selain itu, ia juga pernah menjabat Komisaris Utama Majalah Mode dan pernah menjabat Komsaris Utama Harian Merdeka (milik B.M. Diah, tokoh pers, pendiri pers nasional).

Selain itu, Ali juga aktif sebagai ketua Komisi Hukum dan Advokasi DPP Soksi dan menjadi anggota Komisi Hukum, Etika dan Disiplin PB Perbakin. Sebagai aktivis, ia terus aktif dalam berbagai LSM, di antaranya Pusat Peranserta Masyarakat (Paderi) dan APKLI.  Lelaki yang hobi kerja ini, juga pernah menjabat ketua umum Lembaga Advokasi Konsumen Indonesia, dan lawyer PT Indobuild Co dan Hilton Group.

Gubernur Ali Mazi bersama Wagub Lukman Abunawas berkonsultasi dengan KPK. foto istimewa

Lalu, ia pun pernah dipercaya menjadi Koordinator Wilayah Se-Sulawesi, APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia) membawahi wilayah se-Sulawesi. Di APPSI itu juga ia diserahi tugas sebagai ketua tim audensi dengan Menteri Perhubungan untuk wilayah Sumatera Utara, Maluku, dan Maluku Utara.

Ali Mazi sudah menjadi tulang punggung keluarga di usia 24 tahun. Di mata keluarga, Ali Mazi sosok luar biasa.  Anak sulung tujuh bersaudara ini, memikul tanggung jawab besar. Terlebih harus ditinggal wafat ayah di usia 24 tahun (1985).  Sejak itu, ia menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga di usia sangat muda. Ia rela kerja membantu keuangan keluarga sambil kuliah.  Apalagi, ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.

Ayah enam anak itu pantang menyerah dalam kesulitan. Setiap langkahnya disertai doa restu ibu. Doa ibu menjadi senjata pamungkas Ali Mazi pada setiap ikhtiar karier masa depannya. Baginya, doa ibu menjadi kekuatan yang meringankan langkahnya.  Setiap keputusan diambil, ia akan memilihnya setelah meminta maaf dan memohon doa sang ibu tercinta.

Gubernur Ali Mazi menerima kunjungan kerja Presiden Jokowi. foto istimewa

Pada pilkada gubernur tahun 2007, Ali Mazi mencalonkan diri untuk periode kedua berpasangan dengan H. Abdul Samad sebagai calon wakil gubernur. Namun, pasangan dengan akronim ‘Azimad’ itu kalah dari pasangan Nur Alam-Saleh Lasata, yang memimpin Sultra periode 2008-2013.

Tak menyerah. Ali Mazi kembali mencoba mencalonkan diri pada pilkada gubernur tahun 2012, namun gagal memperoleh pintu partai politik pengusung. Pada pilkada ini, pasangan Nur Alam-Saleh Lasata kembali terpilih memimpin Sultra untuk periode 2013-2018.

Jatuh bangun dilewati. Akhirnya tiba era politik Ali Mazi. Pada pilkada gubernur tahun 2018, KPU Sultra menetapkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sultra nomor urut 1, yaitu H. Ali Mazi, SH dan Dr. H. Lukman Abunawas, SH., M.Si dengan perolehan suara sah sebanyak 495.880, atau memperoleh suara sah sebanyak 43,68 persen.

Ali Mazi dan Lukman Abunawas yang memimpin Sultra periode 2018-2023, berkomitmen tinggi membangun daerah ini.  Sejak dilantik 15 September 2018 lalu, pasangan dengan akronim ‘Aman’ ini sudah meletakkan dasar pembangunan melalui program unggulan bernama “Sultra Emas”.  Lima pilar utama penopang program ini, yakni Sultra Cerdas, Sultra Sehat, Sultra Beriman dan Berbudaya, Sultra Produktif, dan Sultra Peduli.

Program ini juga populer dinamakan Gerakan Akselerasi Pembangunan Wilayah Daratan dan Kepulauan (Garbarata). Kini, rakyat Sultra menanti kerja nyata pasangan ‘emas’ ini menghadirkan kesejahteraan.

 

M NASIR IDRIS

Artikel Terkait
Baca Juga