adplus-dvertising

Kisah ASN yang Sukses Setelah Resign

Nur Khumairah Sholeha Hasan, telisik indonesia
Minggu, 31 Juli 2022
417 dilihat
Kisah ASN yang Sukses Setelah Resign
Beberapa ASN yang memilih resign umumnya karena beberapa faktor salah satunya ingin membangun bisnis secara mandiri. Foto: Repro liputan6.com

" Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) rasanya merupakan impian bagi sebagian besar orang di Tanah Air "

KENDARI, TELISIK.ID - Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) rasanya merupakan impian bagi sebagian besar orang di Tanah Air. Bagaimana tidak, gaji yang terjamin serta hampir semua pengeluaran dan biaya ditanggung oleh negara belum lagi dengan tunjangan hari tua dan sebagainya.

Namun, bagi sebagian orang, keluar dari pekerjaan sebagai ASN merupakan suatu berkah. Beberapa orang kemudian merintis usaha dan sukses dengan usahanya tersebut.

Berikut ini beberapa ASN yang memilih resign dan merintis dunia bisnis, seperti dilansir dari sejumlah sumber antara lain:


1. Memilih resign dan balik kampung halaman

Novi bayu, di tengah kesuksesannya meraih asa menjadi seorang ASN, ia justru memutuskan untuk berhenti. Ia lantas pulang kampung untuk memulai aktivitas kemanusiaan. Nofi menceritakan kisahnya kembali saat menentukan keputusan paling penting di hidupnya kala itu. Memilih jalan keluar usai menjadi abdi negara tentu bukan hal yang mudah.

Nofi pun mendapatkan beragam reaksi dari sanak keluarga hingga rekan kerja. Namun, keputusan Nofi telah bulat, ia ingin keluar dari pekerjaannya kala itu. Niatan Nofi itu lantas terkabul usai bertukar pikiran dengan banyak orang. Nofi lantas memilih untuk kembali ke kampung halaman di Purbalingga saat ia mendapatkan banyak dukungan untuk melangkah di jalan berbeda.

Pada saat itu, Nofi telah memulai untuk bergerak ke arah bisnis. Ia merintis untuk menjadi penjual barang secara online. Ia mengakui, pendapatannya pada saat itu cukup untuk membantu keuangan orang tua. Pengalaman itu yang lantas menjadi bekal bagi Nofi untuk berbagi ilmu kepada anak-anak di sekitar kediamannya.

"Jadi aku berbagi ilmu itu berbekal dari pengalamanku yang dulu. Aku sejak mahasiswa itu punya pekerjaan sampingan jualan online dan lumayan sih dari situ. Dan sempat membangun tim. Jadi dari situ lumayan bisa membantu orang tua dan sebagainya," katanya seperti di lansir dari merdeka.com.

Meski tak mudah dan berliku, namun semua proses akan mendapatkan hasil yang nyata. Terbukti dari Nofi yang rela resign dari pekerjaannya sebagai ASN dan terjun bebas pada dunia bisnis.

Dari semua perjuangan Nofi, perlahan ia pun mulai menuai hasilnya. Kesuksesan masih berada di tangan Nofi dan siapa saja yang mau berusaha.

2. Resign ikut suami ke luar negeri

Reni Heimustovu memilih resign setelah dinikahi seorang bule, kehidupannya berubah setelah memutuskan berhenti menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara) dan pindah ke Faroe Islands. Ia memilih bekerja sebagai buruh di pabrik ikan Kepulauan Faroe yang terletak di Denmark.

Melalui akun Twitter @Hei_Reni, Reni menceritakan alasannya memilih bekerja dan tinggal di Faroe Island bersama suami dan anak-anaknya.

Dulu di Indo gw ASN. Selama jd ASN gw sering dinas luar kota bahkan luar negeri. Setahun beberapa kali dapat kepercayaan ikut dinas bareng PM. Sekarang gw resign dan pilih kerja jadi buruh pabrik ikan di Faroe Islands," tulis Reni di Twitter, di kutip dari haibunda.com.

Reni pindah ke Faroe Island dan menjadi buruh karena memang tidak memiliki banyak pilihan. Ia masih belum lancar bicara bahasa asli di sana.

Ia juga memutuskan pindah dari Indonesia karena sang suami adalah Warga Negara Asing (WNA). Menurutnya, sulit bagi suami untuk mencari kerja dengan aturan visa di Tanah Air.

"Knp gw lepas kerjaan gw dan malah jd buruh? Well... selama gw belom lancar bhs Faroe, pilihan kerja gw gak banyak. Jadilah gw "mentok" jd buruh pabrik ikan. But, really, it is okay," ujarnya.

Baca Juga: Sosok Mutiara Annisa Baswedan, Anak Anies Baswedan yang Baru Menikah

Sulitnya mendapatkan pekerjaan di Indonesia tidak dirasakan Reni ketika menetap di Faroe Islands, Bunda. Menurut data, angka pengangguran di sana 0,9 persen, lebih kecil dibandingkan di Indonesia, yang menurut data yang diperolehnya berada di angka 5,83 persen di tahun 2022.

Tak hanya itu, pendapatan yang diterimanya sebagai buruh ikan juga berbeda ketika bekerja di Tanah Air. Ia mendapatkan upah per jam dan bisa membawa pulang uang lembur lebih dari gaji normalnya.

Sistem kerja di Faroe Islands berbeda dengan di Indonesia. Menurut Reni, setiap pekerja kantoran yang lembur tidak akan mendapatkan ganti uang lembur. Tapi, mereka akan mendapatkan jatah cuti satu hari sebagai gantinya.

Reni sendiri mendapatkan jatah liburan khusus dari tempatnya bekerja. Meski tak digaji, setiap satu tahun sekali, dia akan mendapatkan uang liburan yang setara dengan 11 persen pemasukannya dalam setahun dan tidak dipotong pajak.

Meski begitu, pemasukan yang didapatnya itu belum termasuk potongan pajak. Di Faroe Islands, pajak yang dikenakan ke warga cukup besar. Untuk orang yang belum menikah dipotong hampir setengah gajinya, sedangkan Reni yang sudah memiliki empat anak dipotong 30 persen.

Saat menjadi ASN, Reni mengaku mendapatkan gaji sebesar Rp 60 juta per tahun. Bila dihitung pendapatannya sekarang dengan potongan pajak, pemasukannya ternyata masih lebih besar saat menjadi buruh ikan. Ia bahkan bisa menabung untuk mudik ke Tanah Air bersama suami dan empat anaknya.

3. Resign karena pindah domisili

Dikutip dari jalantikus.com, Endah Kurnianingsih, nama ibu yang dimaksud, justru memutuskan berhenti sebagai seorang PNS dan beralih profesi untuk membuka usaha sendiri.

Setelah keluar dari statusnya sebagai PNS, ibu ini pun harus melewati perjuangan yang tidak mudah. Syukurnya, ia adalah tipe orang yang pantang menyerah dan selalu ingin belajar menjadi lebih baik.

Awal mula Endah menemukan jalan terjal dalam menjadi pebisnis adalah saat memutuskan untuk berpindah domisili dan membuka usaha di bidang fashion.

Ketika merasa bahwa usaha fashion-nya kurang berjalan dengan baik, ia yang sedang menjalani hidup baru di Depok, Jawa Barat, kemudian melakukan riset mendalam dan banting setir ke bisnis kuliner.

"Saat kami pindah ke Depok, bisnis fashion sudah terlalu banyak. Akhirnya kami banting setir untuk bisnis kuliner," kata Endah dilansir dari jalantikus.com

Pertama kali terjun ke bisnis kuliner, Endah tidak langsung memutuskan untuk berjualan donat, geng.

Sejak 2014, ia lebih dulu mencoba peruntungan untuk berbisnis cokelat hingga peyek.

"Awalnya saya membuat cokelat karakter tahun 2014, ada produksi peyek mini. Saya pindah-pindah wirausaha karena awalnya ingin memulai usaha dalam rangka merekrut karyawan," kata Endah.

Hingga pada suatu hari, Endah kemudian mulai tertarik untuk membuat kue donat.

Meski awalnya tidak pandai sama sekali, tapi dengan tekun ia terus belajar hingga menemukan formula yang tepat untuk donat buatannya.

"Awalnya saya tidak membuat donat, saya belajar dari berbagai sumber untuk mendapatkan satu produk donat yang sesuai dengan selera konsumen kemudian dibekukan. Dengan harapan karyawan itu bisa bekerja setiap hari," ujarnya.

Meski begitu, menemukan kesuksesan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Endah dengan berbagai rintangan dan halangan yang ia temukan.

Baca Juga: Selain Jamu, Ini 10 Cara Memperlancar ASI untuk Si Kecil

"Tahun 2017 setelah kami melewati jatuh bangunnya usaha, banyak susahnya gitu. Kita coba-coba resep sampai kita menemukan resep yang kita mau," kisahnya.

Seiring waktu, bisnis donatnya ini pun semakin berkembang pesat. Ia yang awalnya dulu hanya memproduksi donat di dapur kecil, kini telah pindah ke sebuah garasi mobil di tempat tinggalnya.

Untuk bisa memproduksi ribuan donat dalam waktu singkat seperti sekarang, tidak sedikit pengorbanan yang sudah ia lakukan.

Keputusannya yang terbilang nekat itu pun juga didasari tujuan mulia, yakni ingin mempekerjakan para tetangganya yang kala itu masih banyak yang sedang mencari kerja.

Selain keinginan mulianya berhasil tercapai, ia akhirnya juga berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik sembari membantu lebih banyak orang. (C)

Penulis: Nur Khumairah Sholeha Hasan

Editor: Musdar

Baca Juga