BUTON, TELISIK.ID - Selain terkenal dengan julukan Negeri para Resi (wali), Kesultanan Buton terkenal dengan sistim pertahanannya kokoh. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan artefak benteng pertahan yang tersebar pada wilayah teritorial eks Kesultanan.
Tak hanya itu, jauh sebelum pakar politik Prancis, Montesquieu mengeluarkan teori pembagian wilayah kekuasaan atau trias politika, Kesultanan bahkan sudah menerapkan. Adalah Sultan ke IV Buton, Dayanu Ikhsanuddin pencetusnya.
Pada masa pemerintahannya, Sultan dari bangsawan Tanailandu ini membagi tiga kelompok sosial yang dikenal dengan, Kaomu, Walaka dan Papara. Dalam strata pemerintahan atau sara, bangsawan Walaka di istilahkan sebagai bapak dan kaomu adalah anak. Para sultan berasal dari bangsawan Kaomu sedangkan Siolimbona atau dalam pemerintahan saat ini dikenal dengan Legislatif berasal dari bangsawan Walaka.
Dalam bangsawan Kaomu terdapat tiga kelompok yang disebut, Kambomboru talu palena. Kelompok tersebut yakni, Tanailandu, Kombewaha dan Tapi-tapi. Sedangkan Papara adalah rakyat biasa.
Seiring perkembangannya, wilayah administrasi kesultanan dibagi menjadi 72 wilayah. Pada masanya, wilayah ini disebut dengan, Kadie. Kadie dipimpin oleh Parabela. Kecuali dua kadie yang ada dalam wilayah benteng.
