adplus-dvertising

Membentengi Diri dari Maksiat

Haerani Hambali, telisik indonesia
Senin, 19 September 2022
397 dilihat
Membentengi Diri dari Maksiat
Perbuatan maksiat bisa jadi dilakukan karena kurangnya ilmu dan kurangnya akal. Foto: Repro Islampos.com

" Kecenderungan setiap orang adalah berpihak kepada hati nurani karena hati nurani akan memberikan tanda yang selalu berkiblat pada kebenaran "

KENDARI, TELISIK.ID - Mencegah kemaksiatan bisa diasah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan berusaha sungguh-sungguh untuk selalu melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Manusia dikaruniai oleh Allah akal budi dan hati nurani. Kecenderungan setiap orang adalah berpihak kepada hati nurani karena hati nurani akan memberikan tanda yang selalu berkiblat pada kebenaran.

Ini adalah fitrah yang dimiliki oleh setiap insan ciptaan Allah. Jadi, sejatinya setiap manusia mempunyai kecenderungan kepada kebenaran.


Rasulullah SAW senantiasa memperingatkan umatnya untuk menjauhi kemaksiatan. Selain memperkuat keimanan, ada beberapa cara untuk menjauhi maksiat.

Melansir Dream.co.id, berikut ini beberapa di antara banyak cara menghindari maksiat yang dianjurkan dalam Islam:

1. Menjaga Mata

Cara pertama untuk menghindari kemaksiatan yaitu menjaga mata. Sebab, mata merupakan sumber kemaksiatan. Kebanyakan orang yang berbuat maksiat karena apa yang dia lihat.

Selain kemaksiatan yang mengundang nafsu, mata juga bisa menjadi sumber kita tinggi hati. Kondisi ini dapat terjadi ketika manusia menggunakan mata untuk memandang rendah atau pun menghina orang lain.

Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa menjaga mata dari segala hal yang diharamkan. Dalam Surat An-Nur ayat 30, Allah berfirman,

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’”

Dalam tafsir yang dibuat Ibnu Katsir, ayat tersebut diterjemahkan dengan cara berikut.

Baca Juga: Begini Cara Rasulullah SAW Mengobati Sakit

“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41).

2. Menjaga Telinga

Telinga yang berfungsi untuk mendengar dapat menyebabkan kemaksiatan apabila tidak dipergunakan sesuai dengan syariat Islam.

Salah satu kemaksiatan yang kerap terjadi disebabkan oleh telinga ialah ketika kita mendengar ucapan yang tidak pantas. Maka tidak heran jika kita harus senantiasa menjaga telinga.

3. Menjaga Lidah

Rasulullah SAW menjadikan lidah sebagai anggota tubuh yang harus diwaspadai karena dapat menjerumuskan manusia ke dalam neraka.

“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, Rabbku adalah Allah, lalu istiqamahlah”. Aku berkata: “ Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?” Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rasulullah SAW bersabda,“Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya.” (Riwayat Athabrani dan Al Baihaqi).

Bentengi Diri dengan Ilmu

Mengutip Rumaysho.com, ilmu ternyata mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam membentengi diri dari maksiat. Karena semakin seseorang berilmu dan makin mengenal agungnya Rabb yang telah menciptakan dan memberikan berbagai nikmat untuknya, maka tentu ia akan semakin takut pada Allah. Rasa takut inilah yang dapat membentenginya dari maksiat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seorang hamba bisa menerjang yang haram karena dua sebab:

1. Suuzhon (berprasangka jelek) pada Allah. Karena seandainya seseorang mentaati dan mendahulukan perintah Allah, tentu ia hanya mau melakukan yang dihalalkan.

2. Hawa nafsunya mengalahkan sifat sabar dan menutupi akal, dalam keadaan ia tahu yang dilakukan itu haram. Padahal jika seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, Dia akan mengganti yang lebih baik.

Sebab yang pertama di atas disebabkan karena sedikitnya ilmu. Sedangkan yang kedua dikarenakan kurangnya akal dan bashiroh (cara pandang),” (Al Fawaid karya Ibnul Qayyim, hal. 78).

Baca Juga: Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Bagaikan Berjalan di Taman Surga

Jadi, kurangnya ilmu dan kurangnya akal menjadi penyebab seseorang berbuat maksiat. Karena ilmu itulah yang dapat membuat kita punya rasa takut pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama,” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya,” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308).

Para ulama berkata, “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.”

Semakin seseorang berilmu, semakin ia memiliki rasa takut pada Allah. Rasa takut inilah yang membentenginya dari maksiat. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu dalam mengenal Rabbnya. (C)

Penulis: Haerani Hambali

Baca Juga