adplus-dvertising

Mengenal Bahlil Lahadalia, Putra Berdarah Buton Pernah Jadi Sopir Angkot

Ibnu Sina Ali Hakim, telisik indonesia
Rabu, 28 April 2021
4879 dilihat
Mengenal Bahlil Lahadalia, Putra Berdarah Buton Pernah Jadi Sopir Angkot
Bahlil Lahadalia. Foto: Repro detik.com

" Orang kuliah itu setiap bulan orang tuanya kirim uang. Kalau dia kuliah di tempat lain siapa yang mau kirim uang. Tapi dia bicara sama saya cuma minta doa ibu dan bapak "

KENDARI, TELISIK.ID - Bahlil Lahadalia, pria kelahiran 7 Agustus 1976 resmi dilantik Presiden Jokowi menjadi Menteri Investasi sore tadi, Rabu (28/4/2021).

Tak banyak yang tahu latar belakang dari Bahlil Lahadalia yang dikenal sebagai pengusaha dengan memiliki beberapa perusahaan di sektor perkebunan, properti, transportasi, pertambangan, dan konstruksi.

Ia juga mengusahakan 11.000 hektar tambang nikel di Halmahera Maluku Utara.


Kesuksesan itu ia raih dari kegigihan. Pasalnya, Bahlil lahir dari keluarga yang sangat sederhana.

Ayahnya Lahadalia, hanyalah kuli bangunan dan ibunya Wa Nurjani perempuan asli Buton tepatnya di Pulau Tomia gugusan kepulauan Wakatobi yang kemudian merantau ke Banda, Maluku dan ke Fakfak, Papua, hanya bekerja sebagai tukang cuci.

Perantau Buton memang dikenal sudah lama berada di kawasan timur Indonesia mulai dari Maluku hingga Papua dengan motif perbaikan ekonomi.

Semasa kecil, Bahlil pernah menjadi penjual kue, di masa SMP dia menjadi kondektur dan di SMEA Fakfak dia menjadi suopir angkot.

Kehidupan yang keras memaksa Bahlil ingin mengubah nasibnya dan berniat merantau ke Jayapura, namun ibunya melarang.

"Orang kuliah itu setiap bulan orang tuanya kirim uang. Kalau dia kuliah di tempat lain siapa yang mau kirim uang. Tapi dia bicara sama saya cuma minta doa ibu dan bapak," ucap Wa Nurjani dilansir INews TV.

Baca Juga: Polri: Mantan Sekum FPI Munarman Belum Jadi Tersangka

Setelah itu Bahlil melanjutkan pendidikan S1 di Jayapura yang saat itu untuk menyambung hidup ia bekerja mendorong gerobak pasar.

Saat berkuliah Bahlil dikenal sebagai aktivis HMI dan pernah menduduki jabatan Ketua Senat Mahasiswa disemester 5. Saat memasuki semester 6 ia sudah mulai berpikir untuk menghentikan kemiskinan yang dialami.

"Semester enam saya pernah busung lapar jadi penderitaan itu yang benar saya rasain. Saat itu saya mengatakan harus berhenti dengan kemiskinan dan jalannya adalah jadi pengusaha," kata Bahlil, dilansir Voffice.co.id.

Ketika selesai berkuliah tahun 2002, ia membangun satu perusahaan dengan temannya di Jakarta dan menjadi direktur diusia ke 25 tahun.

"Disitulah saya pertamakali pegang uang gede dengan gaji 35 juta dan kariyawan hampir 70 orang," ungkap Bahlil.

Pada tahun 2003, namanya terdaftar di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke pengurus pusat.

Setelah memiliki berbagai pengalaman dalam organisasi dan memiliki pekerjaan bergaji tinggi, Bahlil memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mendirikan perusahaannya sendiri. Inilah awal mula kesuksesan pria berdarah Buton ini.

Baca Juga: KPK Geledah Ruang Kerja Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin

Dengan melihat begitu banyak sumber daya alam yang melimpah di tanah Papua, ia jadikan peluang untuk membuka usahanya. Kini ia memiliki 10 perusahaan di berbagai bidang di bawah bendera PT Rifa Capital sebagai holding company.

Pada tahun 2015, kariernya sebagai pengusaha semakin lengkap saat Munas Himpungan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), peserta memilihnya menjadi Ketua Umum HIPMI untuk periode 2015-2018.

Ditahun 2019, tepatnya dibulan oktober Bahlil, ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). (C)

Reporter: Ibnu Sina Ali Hakim

Editor: Fitrah Nugraha

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga