adplus-dvertising

Menkes Prediksi Puncak Omicron Terjadi Pertengahan Februari-Maret

Marwan Azis, telisik indonesia
Senin, 17 Januari 2022
451 dilihat
Menkes Prediksi Puncak Omicron Terjadi Pertengahan  Februari-Maret
Menkes, Budi Gunadi Sadikin. Foto: Ist.

" Pemerintah memprediksi puncak kasus varian Omicron di tanah air akan terjadi pada pertengahan bulan Februari hingga awal Maret 2022 "

JAKARTA, TELISIK.ID - Pemerintah memprediksi puncak kasus varian Omicron di tanah air akan terjadi pada pertengahan bulan Februari hingga awal Maret 2022.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah negara puncak tersebut dicapai secara cepat dan tinggi dan waktunya berkisar antara 35-65 hari.

“Indonesia pertama kali kita teridentifikasi (varian Omicron) adalah pertengahan Desember, tapi kasus kita mulai naiknya di awal Januari. Nah, antara 35-65 hari akan terjadi kenaikan yang cukup cepat dan tinggi. Itu yang memang harus dipersiapkan oleh masyarakat,” ujar Budi dalam keterangan persnya yang diterima Telisik.id di Jakarta, Senin (17/1/2022).


Budi mengungkapkan, tingkat perawatan di rumah sakit (RS) untuk pasien Omicron di sejumlah negara yang telah melewati puncak kasus berkisar antara 30-40 persen dibandingkan hospitalisasi varian Delta.

“Jadi walaupun kenaikannya lebih cepat dan tinggi, jumlah kasusnya akan lebih banyak dan naik penularannya lebih cepat, tapi hospitalisasinya lebih rendah,” ujarnya.

Budi menekankan agar masyarakat tetap waspada namun tidak perlu panik jika ada kenaikan jumlah kasus yang cepat dan banyak.

Ditegaskannya, pemerintah terus memantau secara ketat kondisi pasien konfirmasi Omicron yang memerlukan perawatan RS.

Baca Juga: COVID-19 Meningkat, Pemerintah Kembali Lanjutkan Penerapan PPKM Luar Jawa-Bali

Dari sekitar 500 kasus Omicron, 300 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh.

Baca Juga: Warganya Terpapar Omicron, Gubernur Khofifah Bantah Ada Lockdown

“(Pasien) yang butuh oksigen hanya tiga (orang) dan itu pun masuk kategori ringan. Jadi tidak perlu sampai ventilator, masih oksigen biasa yang dipasang di mulut, tidak dimasukkan ke dalam. Dan dari tiga orang yang diberikan oksigen, dua di antaranya sudah sembuh dan sudah pulang,” pungkasnya. (C)

Reporter: Marwan Azis

Editor: Haerani Hambali 

Artikel Terkait
Baca Juga