Minyak Kayu Putih Campur Bensin Disebut Irit, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 02 Agustus 2026
0 dilihat
Minyak Kayu Putih Campur Bensin Disebut Irit, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Campuran minyak kayu putih ke bensin diklaim membuat irit, tetapi belum terbukti secara ilmiah. Foto: Repro Hidayatullah.com

" Klaim minyak kayu putih dicampurkan ke bensin dapat menghemat bahan bakar kembali ramai dibahas "

JAKARTA, TELISIK.ID - Klaim minyak kayu putih dicampurkan ke bensin dapat menghemat bahan bakar kembali ramai dibahas. Pakar IPB University menegaskan klaim tersebut belum didukung bukti ilmiah yang memadai.

Perbincangan mengenai penggunaan minyak kayu putih sebagai campuran bensin kembali mencuat di tengah masyarakat. Sebagian kalangan meyakini cara tersebut dapat membuat konsumsi bahan bakar kendaraan menjadi lebih hemat.

Namun, pakar dari IPB University mengingatkan bahwa klaim tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang cukup untuk diterapkan pada kendaraan produksi standar.

Dosen Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, menjelaskan bahwa memang terdapat sejumlah penelitian yang mengkaji penggunaan eucalyptus oil atau minyak eukaliptus sebagai campuran bahan bakar (fuel blend).

Akan tetapi, penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan minyak yang memiliki spesifikasi khusus dan komposisi campuran yang telah dirancang secara ilmiah.

Baca Juga: Heboh Kenaikan Tarif Pajak dan Penagihan Libatkan Babinsa, Begini Penjelasan Resmi Purbaya

Menurut Leopold, hasil penelitian tersebut berbeda dengan praktik yang banyak dilakukan masyarakat, yakni mencampurkan minyak kayu putih komersial ke dalam tangki kendaraan dalam jumlah kecil.

"Hal ini berbeda dengan praktik yang banyak beredar di masyarakat, yakni menambahkan minyak kayu putih komersial dalam jumlah kecil ke dalam tangki kendaraan. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang memadai bahwa cara tersebut secara konsisten dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar kendaraan produksi standar," jelas Leopold, dikutip dari laman IPB University, Minggu (2/8/2026).

Ia menerangkan bahwa minyak kayu putih merupakan campuran berbagai senyawa organik volatil. Komponen utamanya adalah 1,8-cineole atau eucalyptol yang secara teori dapat memengaruhi sifat bahan bakar, seperti volatilitas, angka oktan, maupun karakteristik pembakaran ketika dicampurkan ke dalam bensin.

Meski demikian, besarnya pengaruh tersebut sangat ditentukan oleh jenis minyak, kadar campuran, serta komposisi yang digunakan. Oleh karena itu, penggunaan minyak kayu putih komersial tidak dapat disamakan dengan bahan yang digunakan dalam penelitian laboratorium.

Leopold juga menjelaskan adanya perbedaan mendasar antara fuel blend dan aditif bahan bakar. Menurutnya, fuel blend digunakan dalam proporsi beberapa persen hingga puluhan persen sehingga mampu mengubah karakteristik bahan bakar secara nyata. Sementara itu, aditif hanya digunakan dalam konsentrasi yang sangat kecil dan harus memiliki mekanisme kerja yang telah dibuktikan secara ilmiah.

"Sebaliknya, aditif ditambahkan dalam konsentrasi sangat kecil dan harus memiliki mekanisme kerja yang spesifik agar efektif. Hingga saat ini, belum ada penjelasan ilmiah yang membuktikan minyak kayu putih komersial bekerja melalui mekanisme tersebut," terangnya.

Selain manfaatnya yang belum terbukti, Leopold mengingatkan adanya potensi risiko apabila minyak kayu putih komersial digunakan sebagai campuran bensin. Komposisi produk dapat berbeda-beda pada setiap produsen dan memang tidak dirancang untuk digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.

Baca Juga: Daftar Pecahan Uang Rupiah Kertas dan Koin Dicabut BI 2026, Tukarkan Sebelum Batas Waktu Berakhir

Menurutnya, dampak terhadap kestabilan campuran bahan bakar, pembentukan deposit, kompatibilitas dengan sistem bahan bakar, serta ketahanan injektor dan komponen mesin dalam penggunaan jangka panjang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Sebagai alternatif yang telah terbukti secara ilmiah dapat membantu menghemat konsumsi bahan bakar, Leopold menyarankan pemilik kendaraan melakukan perawatan berkala, menjaga tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan, menggunakan oli dan bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan, mengurangi beban yang tidak diperlukan, serta menerapkan gaya berkendara yang halus tanpa akselerasi maupun pengereman secara berlebihan.

Dengan demikian, masyarakat diimbau tidak mudah mengikuti informasi yang beredar tanpa dasar ilmiah. Penggunaan bahan bakar dan perawatan kendaraan sebaiknya tetap mengacu pada rekomendasi pabrikan agar performa mesin tetap terjaga dan risiko kerusakan dapat diminimalkan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Baca Juga